Al-Hayaatu Jihaad, Hidup Adalah Perjuangan
Posted on Selasa, 14 Jul 2015 07:55 WIB
Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf )*
Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf )*
Hidup ini keseluruhannya adalah cobaan. Perjalanan hidup ini adalah perjalanan yang penuh tantangan dan rintangannya. Selama hayat di kandung badan selama itu manusia akan berhadapan dengan cobaan dan tantangan hidupnya. Tantangan hanya akan berakhir di saat hidup itu sendiri telah berakhir.
Oleh karena memang tiada jalan untuk menghindari tantangan hidup itu maka satu-satunya pilihan adalah bersedia untuk menghadapi tantangan itu, apapun bentuk dan warnanya. Untuk menghadapi tantangan hidup inilah maka Islam kemudian mempersiapkan sebuah juris jitu untuk memenangkannya. Itulah dia JIHAD.
Jihad adalah sebuah konsep baku dalam Islam. Tuntunan yang telah disahkan sejak awal perjalanan sejarah agama ini. Bahkan jauh sebelum disyariatkannya peperangan itu sendiri. Menurut ulama Islam, ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam jihad adalah: "dan berjihadlah kepada mereka dengan jihad besar (jihadab kabira)". Menurut mereka, ayat ini diturunkan kepada Rasulullah SAW di periode Mekah, di saat beliau belum diberikan izin untuk berperang.
Lalu apa arti jihad?
Jihad seringkali diterjemahkan dengan terjemahan yang tidak saja, tapi juga menyesatkan (misleading). Jihad misalnya diterjemahkan sebagai "perang suci (holy war)". Padahal siapa saja yang paham bahasa Arab pasti tahu bahwa terjemahan itu salah bahkan menyesatkan mereka yang tidak tahu maknanya dalam bahasa Arab.
Jihad sejatinya berarti "perjuangan" atau "usaha keras atau sungguh-sungguh" (struggle). Awalnya terjemahan inilah yang dipahami tanpa ikatan apa-apa. Artinya jihad bisa berarti perjuangan dalam segala format dan manisfestasinya.
Jihad sesungguhnya secara global dapat dibagi kepada tiga tingkatan:
Pertama adalah jihad atau perjuangan fisik material. Dalam bahasa Al-qur'an umumnya jihad pada level ini lebih dikenal dengan "qitaal" atau "harb" (peperangan). Dan sejujurnya inilah jihad yang termudah. Selain karena musuhnya jelas di depan mata, juga karena tidak bersifat permanen. Diperlukan memang hanya di saat ada situasi yang memang memaksa. Bahkan sejujurnya hal ini dibenci (wahya kurhun lakum).
Kedua adalah jihad intelektualitas atau pemikiran. Perjuangan dalam bidang pemikiran menjadi sangat krusial ketika umat ini mengingat tanggung jawabnya membangun peradaban dunia. Hanya dengan kesungguhan dalam pemikiran akan terlahir berbagai "inovasi" kehidupan yang dengan akan terbentuk "at-tamaddun al-insani" atau human civilization. Perjuangan di bidang ini dikenal dalam agama dengan "ijtihad". Kesungguhan berpikir dalam upaya menemukan makna-makna sumber keagamaan kita.
Ketiga adalah jihad ruhi atau spiritualitas. Yaitu perjuangan sungguh-sungguh dalam memenangkan "hati nurani" (fitrah) kita terhadap berbagai godaannya dalam hidup. Perjuangan ini dalam agama dikenal dengan "mujahadah". Perjuangan inilah sesungguhny yang terpenting dan terberat karena tuntutannya tanpa batasan waktu dan tempat. Kapan dan di mana saja jihad ini diperlukan oleh manusia, bahkan di dalam masjidil haram sekalipun.
Dalam konteks jihad terbesar inilah puasa memainkan peranan yang menentukan. Sebab puasa di satu sisi mempertajam "sensitifitas ruh atau spiritualitas" manusia, sekaligus mengekang kebuasan hawa nafsu manusia di sisi lain. Sehingga harapan kita setelah sebulan penuh melakukan puasa, persiapan jihad ruhiyah kita semakin matang. Dan dengannya kita akan memenangkan peperangan-peperangan di dalam hari-hari mendatang.
Maka jadikanlah bulan puasa ini sebagai bulan jihad (syahrul jihad). Bulan perjuangan menghadapi musuh terberat manusia dalam hidupnya. Yaitu musuh hawa nafsu dan egoisme kemanusiaannya. Semoga!
)* Strategic Manajemen
Tags :