Posted on Selasa, 29 Sep 2015 04:30 WIB
Tahun ini kami fokus mengembangkan bisnis mikro. Selain itu, kita juga akan mengembangkan pembiayaan komersial
Jakarta, (ICMI Media) – Di tengah situasi perlambatan ekonomi seperti saat ini tengah mempengaruhi kinerja industry keuangan salah satunya untuk kredit pemilikan rumah atau KPR.
Presiden Direktur Bank Muamalat Endy Abdurrahman mengatakan bahwa KPR Bank Muamalat mengalami stagnan atau tidak mengalami kenaikan maupun penurunan. Nilai portofolio KPR Syariah saat ini sekitar Rp8 triliun.
"KPR Syariah perkembangannya agak stagnan sejalan dengan perkembangan ekonomi yang menurun," ujar Endy Abdurrahman di Jakarta, akhir pekan kemarin.
Dirinya menambahkan stagnannya KPR Syariah disebabkan juga karena menurunnya daya beli masyarakat akibat melemahnya perekonomian Indonesia. "Tingkat kemampuan daya beli masyarakat sangat terganggu," ungkap Endy.
Namun dia tetap optimistis masih bisa bersaing dengan KPR bank konvensional. Sebab baik KPR syariah maupun KPR Konvensional memiliki keunggulannya masing-masing.
"Sebetulnya untung rugi produk ini sama baiknya dengan bank konvensional. Dalam beberapa hal kita bisa kompetitif," kata Presiden Direktur Bank Muamalat itu.
Namun begitu, di saat KPR syariah menurun, terdapat peningkatan pada saving (menabung) yang sebagian besar berupa deposito. Hal ini karena banyaknya likuiditas ada di pasar.
"Saving naik. Dalam arti kata daya beli masyarakat secara umum, iya (naik). Kalau secara luas, karena uangnya tidak dipakai, untuk berjaga-jaga saja, dengan demikian saving atau likuiditas di pasar naik," jelasnya.
Memang Bank Muamalat tidak terlalu fokus pada pembiaya KPR. Beberapa waktu lalu, Endy Abdurrahman sempat mengatakan bahwa pada tahun ini perusahaan akan lebih fokus pada pembiayaan sektor usaha kecil menengah (UKM) dan consumer.
“Tahun ini kami fokus mengembangkan bisnis mikro. Selain itu, kita juga akan mengembangkan pembiayaan komersial,” kata Endy.
Dia mengatakan, tahun ini pihaknya akan lebih meningkatkan komposisi tabungan dari total DPK retail. Menurutnya, upaya ini dilakukan dengan cara meningkatkan pelayanan di kantor-kantor cabang Bank Muamalat di seluruh Indonesia. “Dana pihak ketiga (DPK) kami targetkan tumbuh sebesar Rp 54,35 triliun atau meningkat 6,14% secara year on year (yoy). Pertumbuhan DPK ditekankan pada pertumbuhan dana murah yang akan diakuisisi secara lebih agresif,” papar Endy.
Hingga akhir 2014 kinerja bisnis BMI tetap tumbuh. Hal tersebut tercermin dari keberhasilan BMI membukukan pertumbuhan aset menjadi Rp 62,41 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 51,21 triliun.
Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio / CAR) mencapai 14,15%, rasio pembiayaan terhadap pendanaan (finance to deposit ratio/ FDR) sebesar 84,14%, dan kredit bermasalah (non performing financing /NPF) sebesar 6,55%.
BMI mengestimasi membutuhkan suntikan modal sebesar US$50 juta hingga US$75 juta tahun depan. Menurut direksi, suntikan modal ini akan didapatkan melalui sejumlah opsi pendanaan, antara lain dengan melakukan secondary public offering (SPO). Endy mengatakan perusahaan membutuhkan pendanaan untuk menjaga capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal sebesar 14%.
Menurut Endy, hingga saat ini CAR perusahaan masih terjaga di kisaran 14%. Sementara itu, sepanjang tahun ini, Muamalat telah menurunkan target pembiayaannya menjadi sekitar 10% dibandingkan dengan sebelumnya sebanyak 15%. Perusahaan lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan karena kondisi ekonomi Indonesia melambat. ***Adv/IS/R1