Home / Media / Siaran Pers / Evaluasi Hidup Dan Masa Depan

Evaluasi Hidup dan Masa Depan


Posted on Sabtu, 4 Jul 2015 04:20 WIB


Evaluasi Hidup dan Masa Depan

Oleh: Irwanuddin H Kulla

Oleh : Irwanuddin H. Kulla)*

Kadangkala kita menganggap seseorang sepele, atau memandang sebelah mata karena kita merasa hebat atau memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain.

Kita haruslah ingat dan mengoreksi diri sendiri, bahwa sifat semacam itu adalah bagian dari sifat sombong dan angkuh. Padahal sifat sombong dan angkuh adalah pakaian Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak boleh diambil atau dipakai oleh manusia. Itu sama saja telah berbuat syirik atau telah mengingkari syahadat tauhidnya. 

Karena itu, ketika kita memandang orang secara sebelah mata atau menyepelekannya, itulah ujian bagi mereka yang bersikap seperti itu dan juga bagi mereka yang disepelekan atau diremehkan.

Kita harus ingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menentukan rezeki, jodoh dan maut. Bahkan Dia pula yang menentukan masa depan makhluk-Nya. 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim telah dijelskn tentang sifat sombong dan angkuh.  Rasulullah SAW bersabda: "Tidak dapat masuk syurga seorang yang dalam hatinya ada sifat kesombongannya seberat debu." Kemudian ada orang berkata: "Sesungguhnya seorang itu ada yang senang jikalau pakaiannya itu baik dan terompah -sandal-nyapun -sandalnya- baik." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan orang banyak." (Riwayat Muslim)

Begitu juga dalam Al Qur'an, dijelaskan "Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong." (al-Isra': 37)

Dalam ayat lain, juga dijelaskan, "Janganlah engkau memalingkan muka dan para manusia sebab kesombongan dan janganlah berjalan di bumi dengan takabbur, sesungguhnya Allah itu tidak suka kepada setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (Luqman: 18) 

Jangan berbuat seperti Firaun dan Qarun, ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin menguji seseorang adalah melalui kenikmatan yang diberikan-Nya kepada dirinya. Suatu saat, kenikmatan itu pasti Allah cabut dari pintu langit dan bumi. 

Untuk itu, marilah kita senantiasa bermuhasabah dan bermuqarrabah terhadap diri kita yang senantiasa khilaf dalam berbagai hal dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

)* Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)


Tags :





Detail side

Media Terpopuler