Home / Media / Siaran Pers / Fahri Hamzah Kerjasama Nuklir Rirusia Sejalan Dengan Proyek Pembangkit Listrik 35 Ribu Mw

Fahri Hamzah: Kerjasama Nuklir RI-Rusia Sejalan Dengan Proyek Pembangkit Listrik 35 Ribu MW


Posted on Jumat, 11 Sep 2015 07:45 WIB


Fahri Hamzah: Kerjasama Nuklir RI-Rusia Sejalan Dengan Proyek Pembangkit Listrik 35 Ribu MW

Rusia selama ini memang termasuk unggul  di bidang nuklir

Jakarta, (ICMI Media)- Wakil Ketua DPR RI Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, yang juga anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), Fahri Hamzah, SE., menyatakan bahwa kerjasama nuklir RI dengan Rusia sesuai dengan target proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt, yang dicanangkan Pemerintah RI saat ini.

“Selain karena Rusia selama ini memang termasuk unggul  di bidang nuklir, hal ini juga sejalan dengan target pemerintah membangun proyek pembangkit listrik 35 ribu Megawatt. Karena itu Kami menyambut baik keinginan Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia, menanamkan investasi di bidang nuklir, yakni untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN),” kata Fahri saat menerima Duta besar Rusia, Mikhail Y. Galuzin, Kamis (10/9) di ruang tamu pimpinan DPR RI, Senayan, Jakarta.

Ditegaskan Fahri, tanpa nuklir, Indonesia tidak bisa mencapai independensi energi dan listrik, demikian siaran pers DPR RI menyebutkan.

“Bahkan proyek listrik 35 ribu megawatt yang dikatakan Rizal Ramli tidak akan mungkin tercapai, maka lewat pembangkit listrik tenaga nuklir apa yang tidak mungkin itu akan menjadi mungkin,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Tamsil Linrung menambahkan, kerjasama ini bisa menjadi solusi perdebatan, selama ini soal realistis tidaknya proyek listrik 35 ribu megawatt yang ditargetkan pemerintah. Dan sejatinya, menurut Tamsil, Rusia pernah memenangkan tender serupa di Indonesia, namun saat itu belum teralisasi karena ada permasalahan dalam negeri Rusia.

“Komisi VII akan datang langsung ke Rusia beberapa hari mendatang, tujuannya memang lebih kepada mencari masukan terkait Undang-undang Minerba (mineral dan batubara), namun pada kesempatan itu juga akan kami gunakan untuk melihat langsung proyek nuklir yang ada di sana,” ujar Tamsil.

“Bahkan konon negara lain, Turki dan Vietnam berhasil bekerja sama dengan Rusia membangun PLTN. Hal ini tentu bisa menjadi rujukan pemerintah ke depannya,” tambahnya.

Ia berharap dalam pertemuan dengan Rusia mendatang juga akan dijelaskan cara mengantisipasi munculnya dampak penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik. Sebagaimana diketahui ada sebagian masyarakat yang masih khawatir akan dampak yang ditimbulkan dalam penggunaan nuklir bagi lingkungan.***Mrj/Ilmawan/R1


Tags :





Detail side

Media Terpopuler