Haji: Makna Thawwaf Wada
Posted on Rabu, 7 Okt 2015 05:51 WIB
Oleh: Imam Shamsi Ali, ?Ketua ICMI Orsat New York
Oleh: Imam Shamsi Ali,
Ketua ICMI Orsat New York
Setelah menyelesaikan pertarungan Mina selama 2 - 3 hari & malam tibalah masanya jamaah untuk kembali ke tempat asal (negara) masing-masing. Namun sebelum bertolak kembali ke negara asal masing-masing ada lagi satu hal yang menjadi kewajiban untuk ditunaikan. Yaitu melakukan ritual "selamat tinggal" kepada tanah haram. Kegiatan ini merupakan kegiatan terakhir dan seluruh rangkaian ibadah haji yang sedang ditunaikan itu.
Sebelum membicarakan tentang ritual selamat tinggal ini kita diingatkan kembali akan "tokoh sentral" dari ibadah haji ini. Yaitu Ibrahim AS, penghulu para "muwahhidin" (pengikut agama Tauhid), seorang Nabi dan Rasul yang menjadi panutan orang-orang seluruh pengikut para nabi dan rasul. Dan dari semua itu Ibrahim AS digelari seorang Muslim yang telah menyempurnakan ajaranNya.
Pada bagian awal tulisan ini digambarkan bahwa salah satu arti kata haji adalah "hujjah" atau "alasan, dalil atau dasar". Dan dari sekian kemungkinan makna kontekstual kata ini adalah karena haji adalah ibadah yang sekaligus menjadi "tanda" komitmen seorang Muslim untuk sempurna dalam berislam, sebagaimana "tokoh sentral" haji itu sendiri; Ibrahim AS.
Kembali kepada pelaksanaan ritual terakhir dari haji, yaitu "thawaf selamat tinggal" yang lebih dikenal dalama bahasa Syariah dengan "thawaful wadaa'". Thawaf wada adalah aktifitas terakhir yang boleh dilakukan oleh seorang jamaah haji di tanah haram sebelumnl bertolak ke kampung halamannya. Selepas thawaf ini tidak lagi diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun di dalam tanah haram.
Sebagaiamana telah dijelaskan sebelumnya bahwa thawaf adalah simbolisasi perputaran hidup itu sendiri. Maka thawaf wada dengan sendirinya adalah perputaran terakhir dari perjalanan hidup manusia. Dan satunhal yang perlu dipahami bahwa perputaran terakhir ini tetap berada di sekitar Ka'bah. Atau tepatnya Ka'bah tetap menjadi sentra perputaran itu sebelum meninggalkan tanah haram.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa thawaf wada' sesungguhnya merupakan simbolisasi "akhir kehidupan". Wada' atau selamat tinggal kepada Ka'bah sekaligus menjadi simbol "good bye" kepada kehidupan itu sendiri. Dan dalam melakukan putaran "selamat tinggal" Ka'bah yang merupakan simbolisasi "kebesaran Tuhan" tetap menjadi pusat perputaran.
Artinya seorang Mu'min bahkan di saat harus menyampaikan "wadaa'" (good bye) kepada dunia ini, haruskah diyakinkan bahwa Ka'bah (kesucian) tetap menjadi pusat kehidupannya. Dengan demikian dia meninggalkan dunia ini dalam keadaan "connected" denggan "kesucian" itu.
Jika haji merupakan "komitmen kesempurnaan Islam" dan thawaf wada merupakan simbolisasi kematian dalam keadaan "connected" dengan kesucian maka itu sesungguhnya yang diharapkan dalam Islam. Sebagaimana Allah menyebutkan: "wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-bebar takwa. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Kata "bertakwalah dengan sebenar-benar takwa" tersimbolkan dalam komitmen kesempurnaan Islam. Sementara jangan mati kecuali dalam keadaan Islam tersimbolkan dalam ritual thawaf wada' yang dilakukan. Atau mungkin dalam dalam bahasa sehari-harinya adalah melalui komitmen kesempurnaan Islam kita berharap untuk meninggalkan alam ini dengan "
husnul khatimah". Semoga.
Tags :