Home / Media / Siaran Pers / Haji Miniatur Kehidupan

Haji: Miniatur kehidupan*


Posted on Rabu, 23 Sep 2015 04:49 WIB


Haji: Miniatur kehidupan*

* bagian ketiga dari seri tulisan mengenai haji

Oleh: Imam Shamsi Ali

Hidup adalah pergerakan. Hidup adalah perputaran. Untuk bergerak dan berputarnya kehidupan itulah manusia kemudian dituntut untuk mengambil kendali di bawah arahan "qudrah" Ilahi. Artinya kita yakin bahwa hidup itu ada di bawah satu komando. Hanya ada satu "controller" (pengendali). Tapi di bawah komando itu manusia dituntut untuk melakukan tugas dalam mengarahkan atau membentuk warna kehidupan itu.

Tugas melakukan itu yang lazim disebut dengan "ikhtiyar" atau usaha manusiawi. Allah telah melengkapi manusia dengan segala perlengkapan yang diperlukan untuk mengatungi bahtera kehidupan ini. Di sisi lain Allah telah memberikan "guide" praktis untuk menjalaninya. Oleh karena itulah maka Allah kemudian tidak menjadikan "jabariyah" sebagai sunnah kehidupan. Yaitu konsep kehidupan yang berserah diri tanpa ingin berusaha. Konsep kehidupan apatis. Dan juga Allah tidak menjadikan "qadariyah" sebagai sunnah kehidupan hambaNya. Yaitu konsep kehidupan yang mendasarkan semua keputusan ada di tangan manusia. Konsep kehidupan superman atau superwoman.

Yang ada adalah konsep kehidupan yang didasarkan kepada "taqdir" dan "qadha" Ilahi. Yaitu konsep kehidupan yang mengakui kemaha kuasanya Allaj dalam memutuskan segala urusan. Tapi juga meyakini urgensi tanggung jawab manusia dalam proses qadar dan qadha itu.

Sa'i sesungguhnya adalah representasi dari kesadaran hidup "qadar dan qadha" ini. Kesimpulan ini merujuk kepada sejarah perjalanan Siti Hajar dalam mencari penyambung hidupnya dan anaknya.

Kita diingatkan oleh sejarah bahwa Hajar adalah isteri kedua Ibrahim AS dan ibu dari anak pertama beliau Ismail AS. Ketika beliau telah melahirkan Ismail Allah menguji Ibrahim untuk menempatkan isteri dan anaknya yang baru lahir itu di satu lembah yang tiada tumbuhan (biwaadin ghaeri dzi zar'in) di sisi Rumah Allah yang mulia (ka"bah).

Setelah sampai di sana beliau meninggalkan mereka berdua dengan iman dan perbekalan seadanya. Beberapa hari kemudian sang Ibu kehabisan air dan juga kehabisan air susu. Sang bayi (Ismail) sudah pasti kehausan dan kelaparan.

Dalam situasi itulah sang Ibu melihat ke sekeliling kota itu mencari air atau apa saja yang bisa menjadi penyambung hidup. Beliau menatap ke ujung bukit bernama Shofa dan seolah melihat ada air di atas sana. Beliau berlari ke atas dan ternyata itu hanya sebuah fatamorgana.

Dalam keadaan panik dan lelah beliau menengok ke ujung bukit yang satu bernama "Marwa" dan seolah dilihatnya ada air. Beliaupun dengan segala daya berlari ke sana. Ternyata sama dengan ujung sebelah. Itu hanyalah fatamorgana.

Tapi setiap kali beliau menengok ke arah bukit itu beliau terangsang untuk berlari ke sana demi air yang dicari. Hingga putaran ketujuh itulah beliau sayup-sayup mendengar tangisan bayinya Ismail.

Naluri Ibu memanggilnya untuk berlari melihat anaknya. Tanpa disadari atau diketahui (laa yahtasib) ternyata apa yang dicari dengan berlari keliling tujuh kali antara Sofa dan Marwah itu diberikan pas di bawah gerakan kaki mungil sang bayi, Ismail AS. Beliaupun berusaha menampung air itu sambil berseru: "zammi, zammi, zammi" (berkumpullah).

Cerita Hajar AS dan putranya inilah yang kemudian tersimbolisasi dalam praktek Sa'i. Menunjukkan bahwa ketika membutuhkan manusia dituntut untuk melakukan sekeras dan sebaik mungkin. Usaha keras ini yang disebut dalam bahasa agama sebagai "sa'yun". Yang kemudian menjadi bahasa haji dengan sa'i.

Beberpa pelajaran penting dari sejarah Hajar dan sa'i ini. Di antaranya bahwa sehebat apapum usaha kita, haris diyakini bahwa yang menentukan di mana dan kapan serta bentuk dari "qadar" tetap di tangan Yang Memilki langit dan bumi.

Dunia ini semuanya adalah fatamorgana. Dan terkadang realitanya kita menganggapnya realita abadi. Dan itu seringkali terjadi di saat kepanikan hidup terjadi. Maka diperlukan peringatan yang terkadang hanya terdengar sayup-sayup, bagaikan suara Ismail, agar manusia tersadarkan.

Akhirnya Sa'i itu bukan sekedar berputar di antara dua bukit. Tapi memang gambaran kehidupan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan jasadnya.

Dengan memahami ini praktek-praktek ibadah haji tidak hanya rutinitas ritual belaka yang mungkin kosong. Tapi amalan ibadah yang bermakna dan menjadi kunci perubahan hidup ke arah yang lebih bermakna. Semoga

* bagian ketiga dari seri tulisan mengenai haji


Tags :





Detail side

Media Terpopuler