Haji: Miniatur kehidupan *
Posted on Senin, 28 Sep 2015 05:53 WIB
)*Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York
Lempar Jumrah
Setelah persiapan matang untuk menghadapi "peperangan abadi" itu, tibalah masanya jamaah bergerak ke medan pertempuran (Mina). Pertempuran yang akan menentukan berhasil tidaknya seeeorang dalam perjalanan sucinya menurut "Robbnya". Sebagaimana kata Ibrahim: "inni dzahibun ilaa Rabbi".
Dalam perjalanan menuju Tuhan itu Ibrahim diuji dengan ujian besar (balaa adzim). Yaitu peritah untuk mengorbankan anak satu-satunya, Ismail AS. Sebuah ujian yang memang luar biasa:
- Karena ini menyangkut hidup manusia.
- Anak yang dinantukan sedemikian lama.
- Dialah anak satu-satunya.
- Bahkan pada anak inilah terletak masa depan perjuangan.
Dalam perjalanan mengalahkan semua godaan internal itu ternyata Iblis juga sebagai representasi godaan eksternal terlibat bermain. Dalam perjalanan menuju ketaatan itulah Iblis mendatangi Ibrahim berkali-kali untuk tujuan tunggal. Yaitu memenuhi janjinya sejak awal penciptaan manusia bahwa dia akan menghalangi ketaatan anak manusia kepada Tuhannya. "
La ughwiyannahum ajmain".
Dendam kusumat Iblis kepada manusia ini bersifat abadi. Kita diingatkan bahwa sejak diciptakannya permusuhan ('adawah) itu sudah menjadi bagian dari "sunnatul hayaah" (hukum kehidupan). Artinya jika anda masih hidup selama itu pula Iblis akan melakukan dengan segala dayanya dan segala cara yang memungkinkan untuk menghambat manusia dalam perjalanan menuju Tuhannya.
Sadar akan kerja keras Iblis untuk menghalanginya, Ibrahim AS segera melakukan perlawanan dengan segala dayanya (jihad). Dalam proses menghalangi itu Iblis mendatangi Ibrahim selama tiga kali menggoda agar tidak melaksanakan pengorbanan Ismail. Dan setiap kali pula Iblis menggodanya Ibrahim melemparnya dengan segala kesungguhan agar dia menjauh dan tidak menghalanginya.
Maka prosesi melempar Jamarat adalah simbolisasi dari peperangan abadi dalam hidup antara manusia dan Iblis. Permusuhan yang abadi ini juga terefleksi dalam komitmen Iblis ketika meminta kepada Allah untuk dilambatkan kematiannya hingga akhir zaman: Rabbi Akkhirni ilaa yaumi yub'atsun.
Keabadian permusuhan manusia dengan Iblis ini tersimbolkan dengan realita bahwa pelaksanaan rirual haji di Mina adalah yang terlama. Bahkan lebih lama dari Arafah yang hanya memakan waktu setengah hari (zuhur hinga magrib). Sementara amalan Mina (melempar jamarat dan mabit) minimal memakan waktu dua hari dua malam.
Catatan penting lainnya adalah ternyata musih terbesar manusia itu adalah yang terdekat pada dirinya sendiri. Itulah hawa nafsu dan kecenderungan jahatnya sendiri. Maka Jamarat terbesar (kubra) itu adalah yang terdekat ke arah Ka'bah. Hawa nafsu manusia itu memang berdekatan dengan Ka'bah hatinya (fitrahnya).
Dalam prakteknya Jamarat terbesar inilah yang pertama yang harus diperangi. Jamarat Aqabah inilah yang pertama dilempar dalam proses ibadah di Mina itu. Maknanya bahwa musuh pertama yang harus dikalahkan dalam hidup manusia adalah hawa nafsu dan egonya sendiri.
Semoga bebatuan yang dikumpulkan di Muzdifah cukup dan sanggup mematikan musuh itu. Bahkan masih tersisa untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Karena kenyataannya di kampung halaman masing-masing bersemayam jamarat-jamarat yang lebih banyak dan dahsyat dalam menggoda manusia. Semoga!
)*Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York
Tags :