Posted on Kamis, 1 Okt 2015 07:58 WIB
Oleh: Imam Shamsi Ali
Jakarta, (ICMI Media) - Dalam proses perjuangan menuju Robb, dengan pertarungan hebat nan abadi, pasti menuntut "tadhhiyah" (pengorbanan). Sehingga wajar saja selama peperangan melawan "syayathin" (jamaraat) di Mina itu berbarengan pulan dengan ritual pemotongan hewan sebagai simbolisai dari "komitmen pengorbanan" dalam mengahadapi tantangan-tantangan "safar ilar Rabb" (perjalanan menuju Tuhan).
Pemotongan hewan bukan tujuan. Pemotongan itu adalah simbolisasi komitmen dalam mentaati perintah Pemilik langit dan bumi. Bahkan melaksanakan perintah itu sendiri bukanlah tujuan.
Tujuannya adalah membangun ketakwaan dalam hidup: "tidaklah sampai kepada Allah daging dan darah (hewan) itu. Tapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan kalian".
Maka wajar saja ketika Ibrahim AS diuji dengan "ujian yang luar biasa" (balaa adzim) itu, Allah segera menggantikan anaknya dengan seekor domba.
Artinya pengorbanan itu tidak dilihat pada "materialnya" tapi komitmen jiwa yang berkorban.
Dan komitmen jiwa dalam ketaatan inilah yang disebut dengan ketakwaan: "at-taqwa haa hunaa" (takwa itu ada di hati) kata Rasulullah sambil memegang dadanya.
Seketika pedang akan dia gerakkan di leher putranya, Ismail AS, tiba-tiba saja malaikat datang dengan perintah Tuhan menggantikannya dengan seekor domba. Seraya Tuhan berseru; "sungguh kamu Ibrahim telah meyakini mimpi (perintah Tuhanmu)".
Dengan pembuktian komitmen ketaatan itu Allah memberikan kehormatan kepada Ibrahim menjadi "imaam" bagi manusia: "inni jaailuka linnasi imaama".
Udhiyah atau berkorban merupakan bagian yang disyariatkan dalam Islam. Tapi yang lebih penting lagi, berkorban merupakan "sunnah kehidupan" itu sendiri.
Bahwa tidak akan ada hal yang bisa dicapai kecuali dengan pengorbanan.
Dan yang lebih penting jika ingin meraih posisi terbaik dalam hidup ini maka pengorbanan menjadi "tuntutan mendasar" (fundamental requirement).
Ibrahim AS telah mencapai posisi tertingginya, tidak saja dalam kapasitasnya sebagai pribadi, tapi sekaligus sebagai umat. Karena Ibrahim itu juga sekalian mewakili umat (kaana ummatan qaanita). Dan untuk sampai titik poin "imamah" (leadership) itu beliau melalui berbagai pengorbanan dalam dengan segala tingkatannya.
Demikian pula umat ini ketika menjadikan Ibrahim sebagai "tokoh sentral" dalam pelaksanaan ibadah haji ini, harusnya memang memahami bahwa tidak akan ada keberhasilan, apalagi untuk mencapai posisi "leadership" dalam kehidupan kecuali dengan "udhiyah" itu.
Semoga pengorbanan yang kita lakukan betul-betul membawa keberhasilan dan kepemimpinan dalam hidup ini.
Doa yang diajarkan oleh Ibrahim kepada kita akan senantiasa menjadi rujukan itu: "Rabbana hablana min azwajan wa zurriyatina qurrata a'yunin waj'alna lilmuttaqiina imaama". Umat ini yang telah ditakdirkan menjadi ummah wasathon (jantung dunia) dan "khaer Ummah" (umat pilihan) harus melakukan semua yang memungkinkan agar mencapai tingkatan leadership dalam segala aspek kehidupan manusia.
Kokoh dalam agama dan moralitas, indah dalam akhlaq dan prilaku, dalam dan luas dalam ilmu pengetahuan, kuat secara ekonomi, solid dalam politik, serta memiliki wibawa dalam milier dan pertahanan. Dan sekali lagi, semua itu hanya akan diraih dengan komitmen pengorbanan!
Oleh: Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York * bagian ketujuh dari seri tulisan tentang haji.