Home / Media / Siaran Pers / Hamtranck Michigan Kota Dengan Legislator Mayoritas Muslim Di As

Hamtranck, Michigan Kota Dengan Legislator Mayoritas Muslim Di AS


Posted on Jumat, 6 Nov 2015 04:21 WIB


Hamtranck, Michigan Kota Dengan Legislator Mayoritas Muslim Di AS

Oleh : Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation New York, AS dan Ketua Orsat ICMI New York.

(ICMI Media) - Sebuah paradox sekali lagi terjadi di Amerika. Bahwa di saat-saat politisi anti Islam, semuanya dari partai Republik, kembali menyerang Islam dan membangun berbagai imej yang buruk mengenai Islam. Selasa kemarin di saat pemilihan daerah di berbagai bagian Amerika Islam atau tepatnya komunitas Muslim kembali mencatat kegemilangan yang luar biasa. Untuk pertama kali dalam sejarah negara ini sebuah kota kecil di negara bagian Michigan bernama Hamtranck memilih anggota DPRD mayoritasnya beragama Islam. 4 dari enam anggotanya adalah Muslim.

Sejarahnya kota ini mayoritasnya berpenduduk keturunan orang-orang Polandia (Polish) yang beragama katolik. Tapi dalam beberapa tahun terakhir dibanjiri oleh imigran Muslim, khususnya dari Tomir Tengah, Asia Selatan dan Bosnia.

Sebenarnya beberapa tahun lalu di kota ini sudah terjadi sebuah kontroversi besar. Anggota DPRD yang ketika itu mayoritas katolik justeru memberikan izin sebuah masjid untuk mengumandangkan azan keluar ke jalan-jalan. Dan ini menjadikan mereka yang tidak senang dengan Islam berupaya melakukan semua cara untuk membatalkan keputusan itu. Dan itu di tahun 2011 lalu di saat hanya ada satu amggota DPRDnya beragama Islam.

Kini di tahun 2015 dua pertiga anggota DPRD kota itu beragama Islam. Walaupun sejak lama walikotanya selalu beragama katolik dan keturunan Polandia. Tapi tidak mustahil lima tahun ke depan walikotanya juga adalah seorang Muslim.

Bagi kami di Amerika ini sebuah kegembiraan tersendiri. Sebuah indikasi nyata bahwa tantangan terkadang menjadi pemacu lebih kuat untuk sebuah leberhasilan. Bahwa kebenaran itu semakin ditantang akan semakin menampakkan diri. Intinya kebenaran tidak akan sirna oleh rintangan. Justeru sebaliknya semakin ditantang akan semakin bersinar.

Kemenangan mereka juga akan menjadi pemicu dan pemacu semangat umat Islam untuk lebih pro aktif, khususnya dalam keterlibatan politik. Sebab memang dilemanya masih saja ada di antara umat ini yang melihat "political involvement" sebagai kompromise dengan nilai-nilai Amerika, yang notabebenya sering dianggap antithesis dari ajaran Islam. Sehingga partisipasi politik umat di sebagian daerah masih terlalu rendah.

Hal lain dengan kemenangan ini umat akan membuktikan bahwa kecintaan dan loyalitas mereka kepada negara ini tidak kurang dari masyarakat lainnya. Walaupun mereka mayoritasnya adalah imigram tapi mereka bisa membuktikan lewat pengabdian politik jika mereka cinta dan loyal kepada negaranya. Hal ini menepis tuduhan yang berkembang selama ini bahwa masyarakat Muslim itu kurang loyal kepada Amerika dan karenanya perlu dicurigai.

Di balik dari kegembiraan tersebut di atas, tentu juga ada beberapa kekhawatiran yang bisa terjadi.

Pertama, ini akan dijadikan justifikasi oleh mereka yang menuduh bahwa Islam itu kika ada di suatu tempat akan mengambil alih (taking over).  Walaupun kenyataan bahwa kemenangan ini juga melalui proses demokratis yang disepakati.

Kedua, dikhawairkan jika kemenangan ini tidak termanfaatkan dengan baik oleh yang terpilih untuk membuktikan bahwa orang Islam itu ketika berkuasa tidak partisan. Bahwa ketika mereka terpilih maka keterpilihan mereka adalah kemenangan untuk semua, Muslim dan non Muslim. Dengan kata lain, tantangan bagi orang Islam ketika terpilih adalah apakah mampu membuktikan bahwa Islam itu memang "rahmatan lil-alamin"? Semoga!


Oleh : Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation New York, AS dan Ketua Orsat ICMI New York.


Tags :





Detail side

Media Terpopuler