Posted on Rabu, 20 Mei 2015 04:02 WIB
globalisasi adalah tantangan terbesar yang harus dihadapi bangsa Indonesia saat ini
Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Dewan Pakar ICMI, Ir. Muhammad Hatta Rajasa mengatakan bahwa "Smart Nationalism" atau nasionalisme cerdas adalah penting untuk menghadapi datangnya era globalisasi saat ini.
"Nasionalisme cerdas atau Smart Nationalism, yaitu kebanggaan terhadap bangsa yang dimaknai dengan optimisme karena kita mampu berkompetisi secara global," demikian dikatakan Hatta pada Rabu (20/5) dalam Twitter melalui akun @hattarajasa mengomentari soal Hari Kebangkitan Nasional.
Menghadapi tujuh dasawarsa kemerdekaan Indonesia, Hatta menjelaskan globalisasi adalah tantangan terbesar yang harus dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Dalam pandangannya, globalisasi telah mengubah tatanan dunia, dimana dimensi ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas. Belum lagi interkonektivitas antara satu negara dengan negara lain tidak dapat dielakkan.
"Sadar atau tidak, jika tidak dikelola dengan baik, jika tidak dipersiapkan secara cukup persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan globalisasi dapat mengikis semangat nasionalisme kita," terangnya.
Semangat Harkitnas perkuat nasionalisme
Hatta mengajak bangsa Indonesia, menjadikan peringatan Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) sebagai momentum untuk memperkuat rasa nasionalisme sebagai warga bangsa.
"Kita mampu, karena kita yakin kecintaan kepada bangsa akan dimanifestasikan dengan menjadi insan kreatif dan inovatif utk memenangkan persaingan, baik persaingan di level regional, maupun internasional. Tak ada yang tak mungkin selama kita bersatu, bekerja keras dan konsisten" tandas Mantan Menko Perekonomian Era SBY ini.
Hatta menilik Harkitnas dari titik balik sejarahnya, tanggal 20 Mei 1908 yang kemudian diperingati sebagai momen “kebangkitan nasional”. Menurutnya karena pada hari itu di tahun 1908 lahir "Budi Utomo", sebuah organisasi yang pertama kali berbicara mengenai “ke-Indonesiaan” dan “negara nasional”.
"Ini yang membedakan perjuangan melawan penjajah sebelum dan sesudah 1908. Pertama, sebelum 1908 perlawanan terhadap negara kolonial dilakukan secara sporadis dan sendiri-sendiri (kedaerahan)," jelas Hatta.
Lalu yang kedua, perlawanan dilakukan dengan kekerasan semata. "Sedangkan yang ketiga, karena tidak ada perekat antar suku, para pejuang mudah diadu domba oleh penjajah," ungkap Hatta.
Namun setelah 1908, menurutnya telah terjadi perubahan pola perlawanan, yaitu perjuangan yang lebih terorganisir dan tidak hanya mengandalkan fisik.
"Kedua, pemimpin pergerakan berasal dari kaum intelektual, bukan raja atau sultan. Dan ketiga, hadirnya semangat kebangsaan dalam perlawanan," kata Hatta lagi.
Karenanya, dengan perlawanan model baru tersebut, ke-Indonesiaan kita mulai tumbuh, lalu berproses mengalami pematangan pada 1928 (Sumpah Pemuda). "Puncaknya adalah Sumpah Satu Bahasa, Satu Tanah Air dan Satu Bangsa. Sebuah terobosan besar yang menjadi embrio republik," jelas Hatta.
Tentang “Satu Bangsa”, sebagai sebuah konsep, “Bangsa Indonesia”menurut Hatta adalah konstruksi politik yang eksistensinya ditentukan oleh kesadaran, sentimen, emosi dan rasa, bukan oleh sesuatu yang bersifat empirik, fisik, self-evident, atau badaniah.
"Tanpa kesadaran tersebut, yang tersisa adalah semua dari kita yang sangat etnik itu, Pidie, Batak, Minang, Palembang, Jawa, Madura, Sunda, Bugis, Timor, dan seterusnya, dan seterusnya,” ujarnya.
Padahal menurutnya, kesadaran nasionalisme Indonesia adalah sentimen yang dibangun berdasarkan kesamaan sejarah, kesamaan nasib, kesamaan cita-cita, dan kesamaan tujuan, bukan atas kesamaan etnisitas, ras, agama, bahasa, tradisi, dan sejenisnya. (Imam)
Sumber : ICMI Media