Home / Media / Siaran Pers / Hijrah Kelembutan Nabi

Hijrah: Kelembutan Nabi


Posted on Sabtu, 31 Okt 2015 16:48 WIB


Hijrah: Kelembutan Nabi

Oleh : Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York

(ICMI) - Ada upaya, bahkan terasa sangat sistimatis dan sistemik, untuk menampilkan sebagai agama kekerasan. Dan karenanya peradaban yang akan dibangun adalah peradaban yang berkarakter keras.

Islam alaminya adalah antithesis dari kekerasan, apapun itu wujudnya. Dari keras kepala, keras hati, hingga keras dalam karakter dan prilaku. Disebutkan dalam hadits bahwa ketika "kelembutan" telah hilang dari sesuatu maka hal itu berubah menjadi "ugly" (buruk/jahat).

Kelembutan (al-luthf) adalah karakter dasar dari kedamaian (as-salaam). Oleh karenanya saya ingin menegaskan bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas asas kedamaian. Dan kalau ada kejadian sebaliknya maka itu bukan Islam. Boleh jadi Islam terpaksa berada di dalamnya untuk mengembalikan karakter dasarnya, perdamaian. Perang secara mutlak ditujukan untuk menghentikan kezaliman sehingga kedamaian dapat kembali ditegakkan. Jika perang atas nama Islam tapi justeru bersifat zalim maka itu bukan Islam.

Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam (modern) di Madinah. Semuanya mengikuti karakter dasar Islam yang damai. Karakter nabi sendiri adalah karakter Islam. Beliau adalah Islam yang hidup dan berjalan atau hadir di tengah-tengah manusia. Dan karenanya manusia semuanya bisa melihat Islam itu hidup dan memberi hidup.

Bahkan dalam kehidupan pribadi Rasul beliau diingatkan sendiri oleh Allah di saat menghadapi tantangan itu hendaknya direspon dengan cara yang lebih baik (allati hiya ahsan): "fa'fu anhum, wasfah, wastaghfirillah lahum, wa syaawirhum fil amr" (maafkan mereka, lapangkan dada kamu, mintakan ampun untuk mereka, dan bermusyawarahkah dengan mereka".

Mengedepankan solusi damai

Sudah disebutkan pada tulisan terahulu bahwa Sejak awal kedatangannya di Madinah sudah mendapat resistensi dari barbagai kalangan, baik dari dalam Madinah maupun dari luar. Khususnya dari kaum musyrik Mekkah. Oleh karenanya beliau mempersiapkan masyarakat Madinah (Muslim dan non Muslim) untuk merespon ancaman itu.

Peperangan-peperangan pun tak terhindarkan. Bahkan selama hidup beliau di Madinah kurang lebih 10 tahun itu terjadi lebih 27 kali perang di mana Rasulullah SAW sendiri mengambil bagian (sebagai komando).

Tapi apakah perang itu memang dasar respon beliua? Atau perang itu tidak dapat dihindarkan karena respon dasar tidak dihiraukan? Kita lihat bersama dengan merujuk kepada contoh-contoh kongkrit dari ketauladanan beliau.

Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa tidak satupun peperangan yang pernah terjadi di zaman beliau itu jauh dari kota Madinah. Menandakan bahwa beliau berada pada posisi bertahan pada peperangan itu (defensif). Bukan sebagai pihak yang menyerang (offensif).

Yang lebih penting sesungguhnya adalah bahwa setiap akan terjadi peperangan, dalam keadaan bagaimanapun, Rasulullah SAW selalu mengupayakan jalur damai. Salah satunya misanya dengan diutusnya perunding dari kalangan sahabat untuk menawarkan "penyelesaian damai" sebelum memulai peperangan itu.

Tapi mungkin dari sekian banyak peristiwa pelik yang terjadi, di mana Rasulullah SAW selalu mengedepankan solusi damai adalah peristiwa terlarangnya beliau melaksanakan ibadah haji oleh kafir Quraysh. Saat itu bersama ribuan pengikutnya berniat berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Oleh kaum Quraysh diutus seseorang yang menyampaikan bahwa Rasulullah SAW dan pengikutnya tidak diperkenankan untuk masuk Mekah.

Mendengar itu para sahabat yang telah melakukan niat haji (ihram) marah. Ada di antara mereka mengusulkan agar Rasulullah SAW melawan dan berperang. Mereka merasa bahwa melaksanakan ibadah haji adalah kewajiaban kepada Allah dan manusia tidak punya hak untuk melarang. Oleh karenanya mati dalam mempertahankan hak ibadah adalah syahid.

Tapi bagaimanakah Rasul bersikap? Apalah beliau ikut arus emosi sebagian pengikutnya? Ternyata tidak. Beliau bahkan mengutus salah seorang sahabat senior yang sangat lembut dan bijak untuk memberitahu kepada mereka bahwa Rasulullah SAW ingin menyelesaikan permasalahan mereka dengan perundingan.

Kaum Quraysh mengutus beberapa utusannya kepada Rasulullah SAW yang tertahan di sebuah tempat bernama Hudaibiyah itu. Di sanalah Rasul dan Quraysh berunding, dengan persetujuan yang nampak sangat tidak adil. Bahkan nama beliau pun tidak boleh bertitelkan "Rasulullah" tapi hanya sebagai "Ibn Abdullah".

Melihat persetujuan banyak sahabat yang tidak menerima. Bahkan di saat Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk bertahallul (mengakhiri ihram mereka) ada yang menolak. Hingga isteri beliau mengusulkan agar beliau terlebih dahulu melakukan yang melakukannya dan memperlihatkan contoh kepada umatnya. Melihat beliau melakukan barulah para sahabat mengikutinya.

Ternyata persetujuan yang tidak adil itu dan ditentang oleh para sahabat, termasuk Umar ibn Khattab, telah disiapkan oleh Allah untuk menjadi kunci kejatuhan Mekah dan kembalinya Rasulullah SAW ke tanah lahirnya dengan kemenangan besar (fathun mubin).

Poin yang ingin saya garis bawahi di sini adalah bahwa peradaban Islam itu selalu mengedepankan "solusi damai" selamaa masih memungkinkan, bahkan pada sekalipun nampak bahwa solusi itu tidak terlalu menguntungkan. Kelapangan dada, kebesaran hati, untuk menemukan solusi damai ternyata memiliki "barokah" yang kadang "laa yuhtasab" (tidak sangka-sangka).


Oleh : Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York


Tags :





Detail side

Media Terpopuler