Hijrah: Pilar Peradaban Modern
Posted on Rabu, 14 Okt 2015 02:36 WIB
Oleh: Ustadz Shamsi Ali
Jakarta, (ICMI Media) - Sehari lagi umat Islam akan merayakan tahun baru Islam. Yaitu tahun yang diawali dengan berpindahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Perpindahan Rasulullah SAW ini yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Hijratur Rasul SAW.
Dengan demikian, perayaan datangnya tahun baru dalam Islam tidak akan bisa dilepaskan dari peristiw hijrahnya Rasulullah SAW. Lalu apa koneksi kedua peristiwa itu. Atau jelasnya kenapa hijrah dalam Islam menjadi awal perhitungam tahun dalam Islam? Kenapa bukan kelahiran rasul? Atau kenapa bukan di saat awal turunnya wahyu kepada beliau?
Tentu setiap orang punya alasan masing-masing dalam merespon pertanyaan itu. Tapi bagi saya jawaban yang terdekat adalah karena peristiwa hijrah adalah awal momentum kebangkitan kolektif umat, sekaligus awal kebangkitan peradaban dunia yang mengantar kepada apa yang dikenal saat ini sebagai peradaban modern.
Maka sesunngguhnya hal tepat bagi umat ini untuk disadari di saat memperingati tahun baru adalah bahwa Islam adalah agama berkemajuan dan memiliki wawasan membangun peradaban modern manusia. Dengan masuknya tahun baru hijrah menjadikan kita sadar kembali akan tanggung jawab kemanusiaan (mas-uliyatul khilafah) untuk membangun kembali peradaban modern yang pernah diletakkan fondasi-fondasinya oleh pendahulu kita.
Dari Yatsrib ke Madinah
Kita mengenal dalam sejarah bahwa nama kota yang dituju oleh Rasulullah SAW di saat meninggalkan Mekah bernama Yatsrib. Di kota inilah menetap manusia-manusia yang secara relatif lebih beradab pasca kehadiran Rasulullah SAW. Mereka yang saya maksudkan ada umat Yahudi dan umat Kristiani dengan berbagai latar belakang sukunya.
Setiba Rasulullah SAW di kota itu beliau rubah namanya dari Yatsrib menjadi kota Madinah. Dari nama yang sekedar nama menjadi nama yang memiliki makna dan konotasi yang dalam dan agung.
Madinah secara kata berarti kota. Sedangkan merujuk kepada akar katanya berarti pusat peradaban yang lebih dikenal dengan istilah "tamaddun". Dari kata ini pula terlahir kata "madani" atau "civic" yang jika dikaitkan dengan kata "mujtama'" (masyarakat) maka menjadi "mujtama' madani" atau masyakat madani yang lazimnya dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah "civic society".
Dengan memahami kata "madinah" secara tepat dapat disimpulkan bahwa perubahan nama dari Yatsrib ke Madinah itu sendiri menjadi indikator kuat bahwa salah tujuan terpenting dari Hijrah adalah mewujudkan tujuan kolektif Islam. Yaitu terbangunnya peradaban modern manusia yang kokoh.
Lalu apa hubungan antara peradaban dan kota? Kenapa kedua kata itu memiliki akar kata yang sama?
Jawabannya adalah karena di kota itulah berpusat kehidupan yang berperadaban. Dari hati, pemikiran hingga karya-karya manusianya menunjukkan peradaban yang tinggi. Salah satu karakteristik dasar peradaban itu adalah pendidikan. Maka manusia yang menetap di kota jelas memiliki pendiidkan yang relatif lebih tinggi.
Membangun masjid
Setiba Rasul di kota itu hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid bahkan sebelum mendapatkan tempat tinggal permanen untuk dirinya sendiri.
Kenapa masjid? Karena masjid dalam pandangan Islam yang sebenarnya bukan sekedar tempat rukuk dan sujud secara fisik. Melainkan tempat bersujud dalam segala aspek kehidupan manusiawi kita. Artinya masjid sesungguhnya adalah simbolisasi bumi tempat di mana kita hidup untuk ibadah. Maka wajar saja jika baginda Rasulullah SAW bersabda: "keseluruhan bumi telah dijadikan masjid bagiku".
Pembangunan masjid di awal ketibaan Rasulullah di Madinah menyampaikan pesan jelas bahwa peradaban dalam Islam merupakan tonggak ubudiyah atau pusat pengabdian kepada sang Khaliq langit dan bumi. Bahwa di atas semangat ubudiyah itulah terbangun peradaban besar dalam kehidupan manusia. bersambung!
* Tulisan menyambut tahun baru Hijrah 1347.
Oleh: Ustadz Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York
Tags :