?Hijrah Pilar Peradaban Modern (9)
Posted on Sabtu, 24 Okt 2015 05:31 WIB
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/v_template_3.php
Line Number: 49
Backtrace:
File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler
File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view
File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once
" src="
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/v_template_3.php
Line Number: 49
Backtrace:
File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler
File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view
File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once
https://icmi.id/assets/img/content_image">
Oleh: Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York, AS
(ICMI) - Peradaban Islam modern itu mengakui eksistensi "global human family" (usrah insaniyah) yang memiliki kesetaraan dan kesempatan yang sama (equal opportunity). Bahwa kemudian terjadi perbedaan-perbedaan (at-tanawwu') itu tidak lain adalah bagian "sunnatullah" dalam kehidupan untuk tujuan terjadi "keterikatan manusia dengan yang lainnya" (at-tanaasuk al-insani).
Oleh karenanya perbedaan-perbedaan yang ada selama bersifat materi/jasad tidak akan pernah dilihat sebagai justifikasi "diskriminasi" di antaa manusia. Melainkan jembatan untuk membangun kesamaan dalam tujuan dan visi, walau berbeda jalan dan metodenya.
Sistem pertahanan yang solid
Sejak tahun-tahun pertama kedatangan Rasulullah SAW di Madinah kaum musyrik Quraysh di Mekah kurang nyaman tidur. Di satu sisi masyarakat Madinah, Muslim dan non Muslim, semakin tenang dan solid. Di sisi lain mereka ridak mengalami kemajuan apa-apa, bahkan semakin mengalami degradasi dalam segala lini kehidupannya.
Realita ini menjadikan mereka semakin takut. Pembesar-pembesar Mekah digeluti kekhawatiran dan ketakutan (ar-ru'bah) tanpa ditakut-takuti oleh Rasulullah SAW dan pengikutnya. Sesungguhnya apa yang diinginkan oleh Rasulullah SAW adalah hidup tenang, berdampingan dengan seluruh tetangganya, termasuk mereka yang di Mekah. Masalah dakwah dan menerima atau menolak Islam adalah masalah hidayah, yang jalannya ada tersendiri.
Akan tetapi ketakutan itu dari hari ke hari semakin membesar. Hingga suatu ketika mereka mengirimkan ekspedisi dagang ke sebuah kota dan akan melintasi kota Madinah. Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW mengirimkan sekelompok Muslim untuk memata-matai mereka. Ternyata di antara mata-mata itu ada yang salah tangkap dan disangkanya bahwa barang-barang dagangan mereka diperintahkan untuk disita. Maka disitalah barang mereka karena dianggap memasuki lokasi di bawah kekuasaab Rasulullah SAW. Pertikaian pun tidak bisa dihindarkan. Sebagian mereka terbunuh dan sebagian berhasil melarikan diri kembali ke Mekah dan melaporkan apa saja yang baru mereka alami.
Peristiwa ini menjadi alasan penting bagi masyarakat musyrik Quraysh untuk menyerang Madinah. Mereka mempersiapkan bala tentara besar dengan peralatan perang yang juga lebih hebat.
Mendengar itu Rasulullah SAW juga tidak tinggal diam. Dalam kapasitasnya sebagai "Panglima tertinggi negara" beliau langsung turun tangan dan meminta kepada para sahabat untuk membantu maksimal dalam menghadapi serangan musuh dari luar.
Dalam suasana seperti ini Allah kemudian menurunkan beberapa ayat Al-quran yang membenarkan "perang sebagai jalan mempertahankan diri". Salah satunya adalah: "diizinkan bagi mereka yang diperangi untuk berperang karena mereka terzalimi...".
Untuk memungkinkan peperangan ini dimenangkan maka turunlah ayat lain sebagai perintah persiapan perang: "Dan persiapkan bagi mereka apa saja dari kekuatan yang memungkin, agar kamu menakuti musuh-musuh Allah dan musuh kamu".
Artinya, walaupun persipan itu sesuatu yang mutlak dilakukan dalam
Menghadapi perang tapi ayat ini masih saja menekankan: "agar kamu takut-takuti mereka". Bukan untuk berperang dulu. Tapi sekedar menakuti. Peperangan hanya bisa dilakukan ketika mereka menyerang dan tidak bisa lagi terhindarkan.
Singkatnya terjadilah perang pertama dalam sejarah Islam yang dikenal dengan perang Badar (Ghazwu Badr). Perang besar (kubra) karena memang menentukan perjalanan umat selanjtnya. Jika menang maka umat akan menang selamanya. Tapi jika kalah maka umat akan kalah selamanya.
Menurut catatan sejarah umat Islam hanya memiliki 303 orang prajurit dan 2 pasukan berkuda. Sementara musuh mereka berjumlah lebih 1000 pasukan dengan 100 pasukan berkuda. Sungguh dua kekuatan yang tidak imbang. Tapi Allah tidak menyia-nyiakan hamba-hambaNya yang beriman. Umat Islma memenangkan peperangan itu.
Dengan kekalaham itu kaum musyrik Quraish semakin dendam. Mereka bukan berhenti dari rencana penyerangan. Tapi mempersiapkan bala tentara dan peralatan perang yang lebih hebat. Maka dalam masa hidup Rasulullah SAW di Madinah kurang dari 10 tahun itu terjadi perang lebih dari 27 kali.
Semua ini menggambarkan bahwa peradaban modern itu tidak mengingkari urgensi pembangunna pertahanan militer yang kuat. Tapi pertahanan militer itu bukan terbangun di atas dasar "militerisme" kekeuasaan. Tapi ditujukan untuk menghindari terjadinya kesewenang-kesewenangan mereka yang tidak bertanggung jawab.
Hal lain dari militer ini juga bahwa implementasinya harus dibangun dibatas atas "moral ground" yang solid. Yaitu "defensive in nature" (tujuan pertahanan semata), dan dilakukan dengan tidak indiscriminate (membabi buta). Dalam Islam, bahkan di saat terpaksa berperang, anak-anak, wanita, orang tua, atau mereka yang sedang beribadah tidal boleh disentuh. Bahkan properti publik seperti pohon, hewan, dan sumur tidak boleh dirusak. Rumah-rumah ibadah juga tidak boleh diganggu bahkan dalam peperangan sekaligus.
Kesimpulannya peradaban modern (Islam) tetap membangun sistem pertahanan militer yang beradab. Karena kekuatan militer yang tidak memiliki "moral ground" dengan membumi hanguskan kehidupan dan lingkungan adalah tidak beradab.
Oleh: Imam Shamsi Ali, Ketua ICMI Orsat New York, AS
Tags :