Home / Media / Siaran Pers / Ibrah Peristiwa Gua Tsur Karena Sholat Nabi Dan Abu Bakar Selamat

Ibrah Peristiwa Gua Tsur: Karena Sholat Nabi dan Abu Bakar Selamat


Posted on Selasa, 20 Okt 2015 11:22 WIB


Ibrah Peristiwa Gua Tsur: Karena Sholat Nabi dan Abu Bakar Selamat

Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media,
Mahasiswa S2 Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Mahasiswa S2 Tafsir Hadis
Fakultas Ushuluddin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Salah satu yang membuat Nabi Muhhammad melakukan hijrah pada tahun 622 dari Makkah menuju Yastrib - 320 kilometres (200 mil) utara Mekkah - yang kemudian berubah nama menjadi Madinah adalah, terdapat skenario pembunuhan kepada Nabi Muhammad, bersama Abu Bakar al-Shiddiq Nabi berhijrah. Dalam episode hijrahnya ini pernah bersinggah di sebuah gua. Gua dalam kamus bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai liang atau lubang besar pada kaki gunung, dalam bahasa Arabnya disebut gar atau kahf.

Ada 2 gua yang sangat bersejarah dalam hidup Rasululllah, yaitu gua Hira dan gua Tsur. Gua Hira adalah tempat berkontemplasi Nabi, di situlah Nabi Muhammad SAW. menerima wahyu dari Allah yang pertama kalinya melalui malaikat Jibril. Berdasarkan wikipedia, letak gua Hira di negara Arab Saudi, tepatnya pada tebing yang menanjak agak curam walau tidak terlalu tinggi, oleh karenanya untuk menuju gua itu harus memiliki fisik yang kuat. Sedangkan gua Tsur adalah, bagian dari salah satu peristiwa yang menegangkan dalam episode hijrahnya Rasul menuju Madinah. Gua Tsur tersebut dijadikan tempat peristirahatan dan persembunyian Rasul beserta Abu Bakar dari kejaran orang kafir Quraisy selama 3 malam. Gua Tsur ini terdapat pada Jabal Tsur, kurang lebih 6 km di sebelah selatan Masjidil Haram. Untuk ke sana perlu mendaki selama 1.5 jam.

Sebelum Nabi memutuskan hijrah menuju Madinah - dimana kepribadian luhurnya dikenal dan masyhur di sana - bersama Abu Bakar al-Shiddiq, Nabi Muhammad atas izin Allah sudah mengetahui para pemuka Quraisy yang mempersiapkan para pemuda perkasa yang berasal dari tiap-tiap kabilah Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Tujuannya supaya Bani Hasyim dan Bani Muthallib - kabilah dari mana Nabi Muhammad SAW berasal - tidak berani untuk menuntut balas, sebab semua kabilah Quraisy terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Selanjutnya, pada suatu malam yang telah direncanakan, para algojo mengepung rumah Nabi SAW. dari segala penjuru. Rasulullah menyadari hal itu dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Salah satu cara Rasul adalah sholat, karena sholat merupakan cara yang ampuh mendapat pertolongan dan keselamatan dari Allah SWT secara langsung. Selesai sholat, Nabi SAW menemui Ali bin Abi Tahlib menyuruhnya untuk tidur di tempat perbaringan dan memakai selimut yang biasa beliau gunakan. Dengan penuh keimanan bahwa diri Rasul akan selamat dan mendapat pertolongan Allah SWT. beliau pun keluar rumah. Konon, Nabi Muhammad sempat menabur pasir lembut ke kepala para algojo, sambil membacakan ayat QS. Yasin ayat 9 "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." Atas kekuasaan Allah, tidak seorang pun dari algojo yang mengepung tadi melihat kepergian Nabi Muhammad SAW.

Tidak sampai di sini saja, pada perjalanannya menuju Madinah, setelah para algojo kafir Quraisy menyaksikan yang berbaring di atas tempat tidur adalah Ali bin Abi Thalib, bukan Nabi Muhammad SAW. Mereka langsung melakukan pengejaran, pasti Nabi Muhammad menuju Madinah, karena selama ini mereka menyaksikan kebanyakan orang-orang yang datang ke rumah Nabi, dan bertanya di mana rumah Nabi adalah mereka-mereka yang berasal dari Madinah. Rasul pun sangat sadar sekali jika para algojo itu akan mengejarnya. Dengan demikian, Nabi memilih beristirahat dan bersembunyi di dalam gua Tsur bersama Abu Bakar, sembari senantiasa memohon pertolongan, dan perlindungan Allah SWT. Sebagaimana wahyu-Nya "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."

Para algojo kafir Quraisy terus mencari kemana perginya Nabi Muhammad, di sana terlihat seorang penggembala, ditanyalah ia. “Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.” Jawabnya. Abu Bakar keringatan Ketika mendengar jawaban penggembala itu, dan semakin berdetak kencang jantungnya tatkala melihat pedang-pedang yang dibawa para algojo tepat berada di mulut gua. Abu Bakar merapatkan diri kepada Nabi, dan Nabi Muhammad berbisik di telinganya: “Jangan bersedih hati, Allah bersama kita.” Algojo yang sudah naik gunung tepat di mulut gua kemudian turun lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan- kawannya.“Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.” Para algojo pun yakin bahwa di dalam gua itu tidak ada orang sama sekali ketika ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Jika ada orang yang akan masuk ke dalamnya, pastilah menghalau dahan-dahan, dan sarang laba-laba itu. Pada akhirnya, para algojo tersebut pulang ke Makkah. Pada saat itu, keimanan Abu Bakar bertambah besar dan kuat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Peristiwa di atas direkam dalam QS. al-Taubah: 40, ?"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Berbicara kisah berarti membicarakan pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya, hal ini senada dengan QS. Yusuf: 111: “laqad kana fi qashashihim ‘ibrah li uli al-albab, ma kana hadisan yuftara …” Fungsi dari pengisahan ini untuk meneguhkan hati pembaca atau pendengarnya, bukan untuk sekedar hiburan yang menghabiskan waktu. Salah satu yang dapat kita simpulkan adalah, kehebatan sholat. Dengan sholat berarti kita meneladani Rasulullah, dengan sholat kita tercegah dari tindakan keji dan munkar, dengan mendirikan sholat kita mendapat pertolongan dan perlindungan Allah SWT, dengan sholat berarti kita bekerja kepada Allah. Inilah salah satu esensi dari pensyari'atan sholat pada periode dakwah Nabi di Makkah, salah satu kehebatannya telah Rasul buktikan ketika berhijrah menuju Madinah.

 


Tags :





Detail side

Media Terpopuler