Posted on Kamis, 28 Mei 2015 03:15 WIB
Jangan hanya memberi sanksi terhadap praktik jual-beli ijazah, tanpa ada upaya memperbaiki sistem
Jakarta, (ICMI Media) - Anggota Presidium ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) yang juga Mantan rektor UIN Bandung, Prof Nanat Fatah Natsir mengatakan, untuk mencegah kasus merebaknya Ijazah palsu di Indonesia maka pemerintah perlu mengkaji kembali kewenangan Perguruan Tinggi dalam menandatangani ijazah.
"Perlu dikaji, apakah pemberian kewenangan penuh kepada PTS dan PTAS untuk menandatangani ijazah sudah tepat atau belum. Jangan hanya memberi sanksi terhadap praktik jual-beli ijazah, tanpa ada upaya memperbaiki sistem," ungkap Nanat, seperti dilaporkan Antara di Jakarta.
Menurut Nanat, sistem pengawasan terhadap perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi agama swasta (PTAS) juga perlu dikaji kembali, untuk mencegah adanya praktik jual-beli ijazah. Karenanya, perlu dilakukan reformasi sistem ujian, pengawasan dan pembinaan terhadap PTS dan PTAS. Menurut Nanat lagi, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dan Koordinator Perguruan Tinggi Islam Swasta (Kopertais) yang sebelumnya dibubarkan, perlu diaktifkan kembali untuk membina dan mengawasi.
"Mungkin perlu ada pengkategorian PTS dan PTAS seperti dulu, misalnya 'disamakan', 'diakui' dan 'terdaftar'. Hanya PTS dan PTAS dengan status disamakan yang berhak menandatangani ijazah sendiri. Yang lainnya harus disahkan ke Kopertis atau Kopertais," tutur mantan Koordinator Kopertais Wilayah Jawa Barat dan Banten itu.
Nanat mengatakan, kebebasan yang diberikan pemerintah kepada PTS dan PTAS tanpa pembinaan dan pengawasan dari Kopertis atau Kopertais, menjadi pendorong adanya praktik jual-beli ijazah.
Dia pun menduga, masih banyak praktik jual-beli ijazah yang belum terungkap, karena lemahnya pengawasan dan pembinaan, serta sistem manajemen PTS dan PTAS yang masih amburadul.
"Harus segera dilakukan pembenahan yang mendasar, bukan sekadar solusi tambal sulam," ujarnya.
Nanat mengatakan, ketika menjabat sebagai rektor dan Koordinator Kopertais selama dua periode, anekdot STIA sebagai "sekolah tidak ijazah ada" pin sudah lama terdengar di kalangan PTS dan PTAS tertentu. (Imam)
Sumber: Antara