Home / Media / Siaran Pers / Icmi Perilaku Lgbt Didorong Sinaps Negatif Di Otaknya

ICMI: Perilaku LGBT Didorong 'Sinaps Negatif' Di Otaknya


Posted on Selasa, 7 Jul 2015 07:07 WIB


ICMI: Perilaku LGBT Didorong 'Sinaps Negatif' Di Otaknya

Soal LGBT saya makin cenderung gunakan Neurosains untuk memahaminya

Jakarta, (ICMI Media) - Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Dr. Zaim Uchrowi mengatakan, perilaku LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transeksual) pada pelakunya karena didorong oleh 'sinaps negatif' yang menebal dalam otaknya.

"Soal LGBT saya makin cenderung gunakan Neurosains untuk memahaminya," ujar Zaim Uchrowi kepada ICMI Media pada Selasa (7/7) melalui grup jaringan sosial.

Ia sendiri melihat langsung, dari pengalaman seorang anak asuhnya yang menjadi Gay berat setelah anak itu disodomi orang ketika masih kecil. 

"Intinya, setiap orang beraktivitas didorong oleh Sinaps di otak. Makin tebal sinaps itu terkait suatu perilaku, makin gampang dia terdorong melakukan aktivitas tersebut," jelas Zaim.

Karena itu menurut Zaim, hal itulah yang menjelaskan mengapa ada orang suka merokok, pornografi, korupsi, juga mengaji dan sebagainya.

"Sinaps terbangun dan menebal karena pengalaman baik dalam wujud berpikir atau terpikir, berkata, apalagi melakukan. Sinaps akan berangsur runtuh bila terus dijaga kesadaran untuk meruntuhkannya dan menyetop pengalaman yg akan mempertebalnya," jelas Zaim lagi. 

Karena itu, menurut Zaim bila dari sudut pandang ini, menyerang LGBT sama sekali tidak efektif. 

"Yang harus dilakukan adalah menyadarkan bahwa mereka dikendalikan, dan bukan mengendalikan alam bawah sadarnya sendiri, serta mengurangi kesempatan pengalaman yang akan membentuk dan menebalkan sinaps LGBT akan lebih baik. Selain itu, dengan memperbanyak kesempatan untuk membentuk dan menebalkan sinaps positif bagi anak- anak sungguh diperlukan," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Kewirausahan dan Ekonomi Ummat, Fahrizal Zain, MM ikut mendukung pendapat Zaim tersebut.

"Benar, pendekatan terapis untuk penyembuhan sangat diperlukan dan juga harus digiatkan oleh orang terdekat serta dukungan lingkungan serta pemerintah. Tapi yang kita hadapi adalah upaya-upaya legalisasi agar mereka tetap hidup sebagai LGBT dibawah pengakuan sosial juga negara," kata Fahrizal.

Menurutnya, upaya legalisasi LGBT itulah yang malah akan meningkatkan wabah itu dan mengurangi daya juang mereka (pelaku-red) untuk kembali normal.

"Jadi proses terapi perlu didukung, tapi proses legalisasi perlu ditolak," tambah Fahrizal.

Menanggapinya, Zaim Uchrowi mengatakan bahwa akan sangat baik kalau ada orang yang fokus dalam soal LGBT untuk advokasi positif.

"Terjadinya diskusi publik soal itu perlu dikurangi, karena mereka memang ingin itu terus jadi bahasan. Kita ini biasa ramai dalam diskursus tapi sangat sedikit yang fokus dan intens mendalaminya. Saya sendiri belum tahu siapa yang intens soal LGBT, seperti halnya Uni Fahira yang intens di urusan miras," pungkas Zaim. *** Imam/R1


Tags :





Detail side

Media Terpopuler