ICMI: Saat Ini Nama Abangan Berusaha Jadi Islam Kaafah Dan Sebaliknya
Posted on Jumat, 23 Okt 2015 02:51 WIB
Sebaliknya, nama-nama santri, malah berusaha untuk dilihat sebagai sekuler
Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Koordinasi Pengembangan Etika dan Budaya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia(ICMI), Drs. Hadimulyo M.Sc. mengatakan bahwa saat ini, nama-nama muslim yang terlihat dari kalangan kaum abangan malah tengah berusaha berislam secara benar saat nama-nama yang terlihat santri justeru ingin terlihat sebagai kaum sekuler.
"Nama-nama yang kelihatan abangan, kini lebih berusaha untuk berislam secara kaaffah. Sebaliknya, nama-nama santri, malah berusaha untuk dilihat sebagai sekuler. Mau contoh, banyak," kata Hadimulyo pada Kamis (22/10) saat menyinggung soal Hari Santri.
Menurut Hadimulyo, saat ini dikotomi antara nama santri dan abangan sudah blurred, kabur, mencair. "ICMI yang telah berperan untuk hal itu," terang Hadimulyo.
Menurtnya, kalau Indonesia adalah kultur, maka santri adalah subkultur. Secara keagamaan, ada subkultur santri dan subkultur abangan.
"Santri, dalam pengertian ini, adalah suatu identitas atau entitas ketaatan kepada perintah dan larangan Allah SWT. Mereka harusnya lebih berusaha untuk berislam secara kaaffah. Sedangkan kaum abangan, entitas atau identitas, adalah mereka yang ber-agama islam secara nominal, yang dikenal dengan Islam KTP. Mereka berislam secara apa adanya, kadang terkesan suka-suka, kalau tidak malahan mendistorsikannya," jelas Hadimulyo.
Namun sekarang, sebagaimana politik Islam Orde Baru, yang melanjutkan Islam versi Snouck Hurgronje, ber-islam minus politik. Karenanya, Hadmulyo menilai bahwa pengakuan Presiden Jokowi untuk adanya hari Santri Nasional, mencerminkan apresiasi, pengakuan seorang abangan, yang berislam kurang begitu taat beragama (minus politik).
"Namun boleh juga juga disebut depolitisasi santri," tukas Hadimulyo.
Hari Santri yang baru saja diresmikan pada 22 Oktober 2015 lalu oleh Presiden Joko Widodo, menuai pujian dari kaum santri namun juga tak sedikit yang kontrversi seperti halnya Muhammadiyah. ***L/IS/R1
Tags :