Posted on Selasa, 5 Mei 2015 09:49 WIB
kebetulan sampai 2019 bahkan ada yang memprediksi sampai 2025 kita sama
Jakarta, (ICMI Media) - Meski rencana Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk menyamakan cara pandang terkait penetapan waktu 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan Idul Adha belum menemui titik temu, muncul prediksi penetapan tanggal-tanggal tersebut seragam sampai tahun 2025 mendatang.
“Yang paling riskan itu Idul Fitri, kebetulan sampai 2019 bahkan ada yang memprediksi sampai 2025 kita sama. Jadi ada waktu panjang untuk membahas itu,” kata anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Marifat Iman, Senin (4/5).
Dia memaparkan, hingga saat ini kriteria-kriteria penetapan ketiga hari besar Islam tersebut belum ada kesamaan dan kesepakatan. Sehingga, untuk sementara waktu masih menggunakan cara lama.
Meski begitu, menurutnya, pembahasan di kalangan pemerintah, astronom dan ormas Islam lainnya terus dilakukan.
Dia menambahkan, untuk tahun ini, di Indonesia penetapan tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal sama. Yang berbeda hanya penetapan Idul Adha saja.
Lebih jauh ia memaparkan, sebenarnya tujuan kunjungan menteri ke Kantor PP Muhammadiyah di Jogja hanya untuk silaturahim. Namun, pada kunjungan tersebut juga digelar diskusi yang membahas penyamaan kalender.
“Tapi, karena kalender itu panjang, ujung-ujungnya terarahkan ke penyamaan tanggal 1 Ramadhan, 1 Syawal dan Idul Adha,” tambah dia.
Butuh pengorbanan jika ingin sama
Sementara itu, Marifat menambahkan seragamnya penentuan 1 Ramadhan dinilai kemungkinan bisa terjadi dengan sebuah syarat mutlak yang harus dipenuhi.
“Ya, misalkan Muhammadiyah berkorban, NU (Nahdlatul Ulama) berkorban, pemerintah berkorban, Persis (Persatuan Islam) berkorban sehingga menyepakati satu kriteria tertentu,” terang anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Marifat Iman, Senin (4/5).
Lebih jauh dia menjelaskan, seandainya masyarakat benar-benar paham, sebenarnya tidak ada masalah dalam perbedaan penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan Idul Adha. Lantaran dari segi penghitungan dan metode yang dipakai sama saja dengan kriteria yang berbeda.
“Kayak Muhammadiyah wujudul hilal, pemerintah kan inkanur rukyat, NU dan Persis juga rukyat. Itu yang maksud saya beda kriteria,” kata dia.
Dia menambahkan, kedepan masalah penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan Idul Adha bisa diambil jalan tengah.
“Tapi masyarakat kita kadang nggak mengerti, kok kenapa menyatukan tanggal saja sampai nggak bisa. Padahal untuk memahami Islam juga kan beda. Karena Islam itu kaya,” tambah dia. (Imam)
Sumber : Republika