Posted on Rabu, 2 Sep 2015 07:54 WIB
Jika demikian, risiko Indonesia akan kembali terjebak pada krisis ekonomi seperti tahun 1998, bukan sesuatu yang mustahil
Jakarta, (ICMI Media) - Ekonom yang juga Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Enny Sri Hartati menyatakan, meski saat ini Indonesia tengah mengalami perlambatan ekonomi, tetapi meski kondisinya belum berada dalam kondisi krisis, namun sebagian menganggap kondisi saat ini sudah dalam kondisi kritis.
"Maka, jika pemerintah masih menganggap bahwa ekonomi Indonesia tidak ada masalah dan tak ada respons kebijakan pemerintah yang cepat dan tepat, risiko hal-hal terburuk pada kondisi Indonesia bakal terjadi di masa mendatang. Jika demikian, risiko Indonesia akan kembali terjebak pada krisis ekonomi seperti tahun 1998, bukan sesuatu yang mustahil," ujar Enny, di sela acara Seminar bertajuk "Jurus Memitigasi Potensi Krisis Ekonomi" di kantor Indef, pada Rabu (2/9) di Jakarta.
Enny menilai, pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah kebijakan yang konkret, terutama soal paket kebijakan ekonomi yang bisa memitigasi potensi risiko krisis, atau harus adanya sense of crisis dari semua pemangku kepentingan dalam jangka pendek.
"Paket stimulus yang akan diluncurkan pemerintah harus terintegrasi dan terpadu baik dari sektor moneter, fiskal, dan sektor rill," katanya.
Salah satunya, kata Enny, paket stimulus yang harus dikeluarkan pemerintah, yaitu soal pemulihan daya beli masyarakat. Karena, pada inlflasi Agustus 2015, memang menurun dari Juli. Hanya saja, lonjakan komponen bahan makan sangat tingggi, mencapai 9,26 persen.***Imam/R1