Posted on Selasa, 21 Apr 2015 01:42 WIB
saya nyatakan bahwa Indonesia punya sikap ingin melihat Palestina merdeka
Jakarta (ICMI Media) - Pengakuan dan dukungan terhadap Palestina sebagai negara merdeka adalah salah satu hal penting dalam peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Jakarta dan Bandung, demikian dinyatakan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan dalam situs pribadinya pada Senin (20/4).
Dua hal penting lainnya adalah penyelenggaraan KTT Asia Afrika sendiri kemudian dalam kaitannya dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Awal bulan Maret lalu, saya berkunjung ke Gedung Putih, kantor Kepresidenan Amerika Serikat. Di sana, saya bertemu dengan Kepala Pusat Keamanan Amerika Susan Rice. Kepada beliau, saya nyatakan bahwa Indonesia punya sikap ingin melihat Palestina merdeka,” demikian kutipan dari situs resmi pribadi Luhut Pandjaitan, Senin (20/4).
Susan Rice, kata dia, saat itu terkejut. Namun demikian, pemerintah Indonesia sudah pada sikapnya meskipun sejumlah negara-negara mapan tidak memberikan pengakuan terhadap Palestina.
“Tapi saya katakan bahwa itulah sikap dari Presiden Joko Widodo untuk Palestina,” kata dia.
Selanjutnya Indonesia ingin agar Palestina menjadi anggota PBB dan pemerintah dan kedutaan akan dibuka di Ramallah.
Menghapuskan Kolonialisme
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Afrika sekarang masih sama ketika para pemimpin Asia-Afrika bertemu di bandung pada 1955 yaitu kolonialisme.
"Tantangan kita adalah kolonialisme. kini setelah 60 tahun, dunia masih tetap tidak seimbang secara geopolitik dan geoekonomi. Palestina masih belum bisa mendapatkan hak mendapat kedaulatan dan kemederkaan," ujar Retno saat pidato di hadapan para delegasi Asia-Afrika di JCC, Jakarta, Senin (20/4).
Kini, lanjut dia, dunia dihadapkan pada jurang perkembangan yang meluas. Lebih dari satu miliar orang hidup dengan pendapatan di bawah US$ 2 per hari. konflik dan ketidakstablian masih terus berlanjut. intoleransi dan ketidaksetaraan terus meningkat.
"Mari tanya diri kita, apa yang terjadi dengan kita. mari tanya diri, apa yang terjadi dengan dunia. mari tanya, apa yang bisa dilakukan olek KAA untuk menjawab tantangan tersebut," seru Retno.
Ia mengatakan, kemarin (19/4), para pejabat tinggi setingkat dirjen telah bekerja keras untuk menghasilkan dokumen yang akan dibahas. Seperti Bandung Message yang membahas perbatasan politik dan pesan moral untuk Asia Afrika dan dunia.
Bandung Mesaage membahas tiga pilar kerja sama dan menegaskan kembali komitmen Asia Afrika untuk membentuk langkah politik, solidaritas, perkembang ekonomi, dan hubungan sosial budaya yang lebih kuat.
"Namun, saya tanya kepada Anda, apakah pesan politik cukup untuk menghadapi tantangaan saat ini. Saya yakin Anda akan mengatakan tidak. ini baru permulaan. tetapi kita harus mengambil langkah maju," tegas Retno.
Oleh karena itulah, pertemuan para delegasi negara Asia-Afrika kali ini membahas implementasi Bandung Message di bawah dokumen reinfogorating the New Asia African Strategic Partnership (NAASP).
NAASP memberikan pendekat praktis yang fokus dalam delapan area kerja sama. Dokumen tidak hanya tergantung dalam area kerja sama, tetapi melebihi prioritasnya. "Ini berisi mekanisme operasional, yang menjelaskan kerja sama penuh negara AA untuk memastikan iplementasi efektif," pungkas Retno.
(Sumber : Beritasatu.com)