Home / Media / Siaran Pers / Jimly Konstitusi Dan Kebudayaan Saling Terkait Dan Menguatkan

?Jimly: Konstitusi dan Kebudayaan Saling Terkait dan Menguatkan


Posted on Rabu, 23 Ags 2017 08:23 WIB



<div style=

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once

" src="

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/v_template_3.php

Line Number: 49

Backtrace:

File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler

File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view

File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once

https://icmi.id/assets/img/content_image">

Jakarta (ICMI Media) – Buku terbaru karya Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie berjudul Konstitusi Kebudayaan dan Kebudayaan Konstitusi menjadi perhatian khusus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk meresensinya, Rabu (23/8).

Dalam acara resensi bukunya ini, Jimly mengatakan, konstitusi negara Indonesia -juga di negara lain- menaruh perhatian kepada kebudayaan. Oleh sebab itu, ucap Jimly, konstitusi Indonesia patut pula memberikan perhatian kepada kebudayaan.

Jimly menjelaskan, jangan hanya membaca konstitusi secara gramatikal. Namun, perlu juga dibaca konteks budaya perilaku nyata yang lahir dari ide konstitusi tersebut sehingga tidak pasif atau faktanya berbeda.

“Misalkan tentang demokrasi, itu ide yang kita adopsi dari luar. Tapi selama perilaku demokratis kita tidak tumbuh, budaya feodal terus kita pelihara, akan ada pertentangan nilai antara tradisi feodal dengan ide demokrasi,” Jimly menuturkan.

Kendati konstitusi dan kebudayaan saling terkait dan mempunyai arti penting, Jimly menilai hingga kini masih belum optimal memperoleh perhatian utama di kalangan pakar hukum, terutama di Tanah Air.

“Saya menganggap adalah persoalan serius. Konstitusi kita transplantasi dari berbagai negara. Persoalan kebudaayaan tidak boleh kita abaikaan. Membicarakan hukum dan konstitusi tidak hanya dari gramatical reading. Kalau hanya dari gramtical reading, kita terjebak dengan bacaan-bacaan luar,” kata Jimly.

Dalam acara resensi buku karya Jimly ini, ikut dihadiri berbagai kalangan, seperti pemuka agama, akademisi dan politisi. Tampak Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin, Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Bachtiar Effendy, mantan Wakil Ketua MPR Hajriyanto Tohari dan Guru Besar IPB, Bomer Pasaribu. (SYH/CR)


Tags :





Detail side

Media Terpopuler