Jusuf Kalla: Tidak Semua Politik Dinasti Korup
Posted on Minggu, 15 Jan 2017 09:56 WIB
Jakarta, (ICMI Media) - Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Penasehat Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jusuf Kalla (JK) menilai politik dinasti atau kepemimpinan yang menurun ke keluarga tidak selamanya korupsi. Bahkan Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak ada pelarangan terhadap politik dinasti di Tanah Air.
Karena itu, JK tidak mempersoalkan jika ada kepala daerah yang melanjutkan kekuasaannya kepada keluarganya.
"Soal dinasti itu, yang korup ada, tapi ada yang tidak. Ada juga yang pemerintahan yang katakanlah bukan dinasti ada juga yang kena masalah. Jadi jangan langsung bahwa suatu pemerintahan yang berlanjut oleh keluarga langsung dianggap salah, karena itu terjadi di mana-mana," kata JK, di Jakarta.
Bagi JK, suatu kepemimpinan daerah yang kemudian beralih ke keluarga ada juga yang baik. Karena bagi JK, ada juga yang pemerintahan yang bukan berasal dari dinasti, tapi juga terkena masalah.
Dikutip dari laman Rmol.co, JK lalu memberi contoh negara Singapura yang beralih dari Lee Kuan Yew ke anaknya Lee Hsien Loong sebagai Perdana Menteri. Kemudian, di Jepang ada Yasuo Fukuda (2007-2008) yang menggantikan ayahnya Takeo Fukuda (1976-1978) menjadi Perdana Menteri. Demikian juga, di Malaysia, India, dan Amerika Serikat.
"Ini biasa saja, apalagi India, ada Ghandi dan Nehru. Dan undang-undang kita memperbolehkan," katanya.
Oleh karena itu, JK menegaskan, pengalihan kekuasan kepada keluarga di suatu daerah tidak bisa dilarang. Apalagi, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2016, sudah jelas bahwa tidak ada pelarangan terhadap politik dinasti di Tanah Air.
"Undang-undang kita memperbolehkan (politik dinasti), ada kan pernah juga yang mengajukan ke MK tapi ditolak. karena ini dianggap hak asasi manusia, saya kira itu," ujarnya.
Sementara itu, bekas Menteri ESDM Sudirman Said menilai, biaya politik yang besar merupakan salah satu faktor munculnya dinasti politik di sejumlah daerah di Indonesia. Dijelaskannya, masyarakat yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah maupun wakil rakyat, harus berani merogoh kocek hingga miliaran rupiah. Hal ini yang kemudian mendorong kepala daerah membangun dinasti politik untuk mempertahankan kekuasannya.
"Kalau mau mencalonkan diri menjadi Bupati, DPR, DPRD, itu harus mengeluarkan puluhan miliar. Itu uang siapa? Bisnis saja tidak menghasilkan itu dalam waktu lima tahun. Jadi artinya ini "investasi" besar-besaran dan wajarnya orang akan mencari cara bagaimana mencari kembalikan dana dan mempertahankannya ke depan," ujar Sudirman.
Meski biaya politik besar, namun dia tidak sepakat jika politik dijadikan kambing hitam dari banyaknya kepala daerah yang membangun politik dinasti. Menurutnya, sangat salah jika masyarakat menjauhi politik lantaran dinilai sebagai sarang praktik korupsi.
Sebab perjalanan kehidupan bernegara tidak terlepas dari proses politik. Sebut saja dalam pemilihan presiden, Panglima TNI, Kapolri. Belum lagi, dalam pemilihan pimpinan institusi keuangan seperti Gubernur Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pengawas Keuangan hingga ke regulasi UUdan pemilihan pimpinan lembaga hukum. Secara keseluruhan hal tersebut harus lahir dari proses politik.
"Jadi jernihnya kehidupan politik, juga akan membuat jernihnya kehidupan politik dihilirnya. Begitupun kalau kehidupan politik keruh, keruh juga di hilirnya. Jadi kita harus bedakan sistem politik dan politisi," ujarnya.*** (T/CH)
Tags :