Komunitas Perempuan Aceh Peringati Wafatnya Cut Nyak Dhien
Posted on Jumat, 6 Nov 2015 19:02 WIB
Komunitas perempuan yang tergabung dalam Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Aceh memperingati hari wafatnya pahlawan nasional asal Aceh, Cut Nyak Dhien.
Jakarta, (ICMI Media) - Komunitas perempuan yang tergabung dalam Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Aceh memperingati hari wafatnya pahlawan nasional asal Aceh, Cut Nyak Dhien. Peringatan wafatnya Cut Nyak Dhien tersebut turut diikuti oleh mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Meulaboh, Pema UTU, Ikatan pelajar Mahasiswa Aceh Barat (Ipelmabar), serta dimeriahkan marching band MAN 1 Meulaboh.
Wakil Ketua BKOW Aceh, Rukaiyah Ibrahim Nain (65) menuturkan, Cut Nyak Dhien wafat tanggal 6 November 1908 di makamkan di Sumedang, Provinsi Jawa Barat.
Ia mengatakan, setiap tahun 65 organisasi perempuan BKOW mengadakan kegiatan spritual untuk memberi motivasi kepada generasi Aceh.
"Kami ingin perempuan Aceh kembali dalam ke Acehan, kami ingin semangat Cut Nyak Dhien timbul lagi, jangan semangat loyo, ketakutan karena itu tidak ada pada diri pahlwan Aceh. Maka darah inilah yang harus turun ke pribadi perempuan Aceh dan anak penerus," jelasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan disela-sela melakukan aksi bagi-bagi bunga di persimpangan Kisaran Meulaboh, rombongan kaum perempuan dari Banda Aceh ini turun ke Kabupaten Aceh Barat mengunjungi makam pahlawan nasional Indonesia Teuku Umar tak lain adalah suami Cut Nyak Dhien.
Rukaiyah Ibrahim Nain mengatakan, semangat kaum hawa generasi Aceh sangat mencintai sosok pahlawan Cut Nyak Dhien, generasi Aceh rindu kepada sosok pahlawan demikian, karena itu komunitas ini berharap pemerintah Aceh mendirikan satu monumen sejarah tempat keberadaanya di Aceh.
Lebih lanjut dikatakan, momentum peringatan wafatnya Cut Nyak Dhien ke-107 tahun 2015 ini, kaum hawa di Aceh ini meminta pemerintah menetapkan satu hari libur memperingati hari pahlawan nasional perempuan Aceh secara khusus.
Kemudian diusulkan juga adanya satu hari khsusus berbahasa Aceh yang diterapkan secara menyeluruh disemua aktivitas, mulai dari sekolah, perkantoran bahkan sampai pedagang dan masyarakat berbicara bahasa Aceh dalam satu hari penuh.
"Di Sumedang, itu ada satu hari berbahasa daerah (sunda), kenapa kita disini tidak menciptakan satu hari dalam sepekan berbahasa Aceh. Jadi tidak ada pedangang, guru, anak sekolah dan semua harus berbicara bahasa Aceh," tandasnya.***Rep/FS
Tags :