Home / Media / Siaran Pers / Kontekstualisasi Hijrah Dalam Perspektif Alquran Dan Hadis

Kontekstualisasi Hijrah Dalam Perspektif Al-Qur'an Dan Hadis


Posted on Rabu, 14 Okt 2015 14:19 WIB


Kontekstualisasi Hijrah Dalam Perspektif Al-Qur'an Dan Hadis

 
Momentum 1 Muharram 1437 H. saat ini mengingatkan kita dengan peristiwa pada tahun 622, terdapat skenario pembunuhan kepada Nabi Muhammad, maka secara diam-diam Nabi Muhammad SAW. bersama Abu Bakar pergi meninggalkan kota Mekkah. Sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad dan pengikutnya berhijrah ke Yastrib 320 kilometres (200 mil) utara Mekkah. Yastrib kemudian berubah nama menjadi Madinah al-Nabi, yang berarti "kota Nabi", tapi kata al-Nabi tidak disebutkan dan hanya disebut Madinah, yang berarti "kota". Penanggalan Islam yang disebut Hijriah dicetuskan oleh Umar bin Khattab pada tahun 638 atau 16 tahun setelah peristiwa hijrah. Kota tempat tinggal Nabi Muhammad tersebut dikenal dengan istilah Madinah dan wilayah sekitarnya disebut Yastrib.(https://id.wikipedia.org/wiki/Hijrah)
 
Sebenarnya, ada kata kunci menarik ketika dalam peristiwa hijrahnya Nabi ini memilih Yastrib, yaitu memang keputusan itu berdasarkan keputusan yang matang, melihat jauhnya jarak antara Makkah-Madinah, sama dengan Jakarta-Kuningan Jawa Barat. Ternyata, sebelumnya, pada tahun 615 telah ada peristiwa hijrah pertama dari kaum Muslim ke Ethiopia (Habasyah pada waktu itu) atas saran Nabi Muhammad demi menghindari penindasan dari kaum Quraisy di mekkah yang dipimpin oleh seorang Raja kristiani, Najasyi. Nabi Muhammad sendiri tidak ikut dalam hijrah tersebut. Pada masa-masa tersebut bisa dipastikan terjadi kontak sosial secara intens, dengan bahasa lain, meskipun Nabi berada di Makkah, nama beliau beserta kepribadian luhurnya dikenal dan masyhur di sana. Oleh karenanya term Hijrah yang diserap dari bahasa Arab (???) ini maknanya adalah, perpindahan/migrasi dari Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622.

Tulisan di atas membicarakan hijrah dalam perspektif sosio-historis, yang dalam istilah sederhananya disebut kisah. Bericara mengenai kisah perspektif Qur'ani, pada prinsipnya kisah  dituturkan untuk meneguhkan hati pembaca atau pendengarnya, bukan untuk sekedar hiburan yang menghabiskan waktu. Menurut al-Zamakhsyari yang dikutip oleh Syihabuddin Qalyubi, kata dasar qa sha sha bisa dibaca sebagai mashdar yang artinya iqtishash (susunan kisah dengan gaya yang mengagumkan).

Adapun maksud dan tujuan adanya kisah-kisah dalam al-Qur’an adalah tegas dan gamblang sekali, yaitu mendapatkan 'ibrah, sebagaimana dalam QS. Yusuf: 111: “laqad kana fi qashashihim ‘ibrah li uli al-albab, ma kana hadisan yuftara …” Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apa pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa hijrah tersebut bagi generasi saat ini?

Bagi sebagian orang, peristiwa hijrah yang dimaknai sebagaimana peristiwa hijrahnya Nabi beserta pengikutnya sudah tidak ada, dan tidak ada relevansinya dengan kehidupan kekinian, yang ada hanyalah menangkap makna hijrah dengan berbagai perspektif yang sesuai dengan konteksnya. Misalnya, sebagaimana dalam buku al-Nihayah fi Garib al-Hadis wa al-Atsar, "la hijrata ba'da al-fath walakin jihad wa niyyah - tidak ada hijrah setelah peristiwa fath Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat -," Artinya pernyataan tersebut menawarkan salah satu makna kontekstual dari hijrah, yaitu bersungguh-sungguh memperbaiki sikap jelek pribadi, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari masa sebelumnya.

Transformasi demikian bisa dilakukan apabila diri kita memiliki kesadaran jihad, yakni "bersungguh-sungguh memperbaiki sikap jelek pribadi." Makna kontekstual terhadap term jihad tersebut senapas dengan ayat al-Qur'an yang berbunyi "qu anfusakum wa ahlikum nara (QS. al-Tahrim: 6)." Tidak sampai di situ, kita juga harus memperbaharui konsep niat diri kita dengan menyusun dan membuat cita-cita luhur. Karena, seluruh langkah aktualisasi tindakan kita semuanya berdasarkan niat, ketika niatnya kurang baik dan 'masih usang' maka diri kita menjadi manusia yang terkategori statis.

Padahal salah satu ciri bahwa manusia itu hidup adalah berkembang dan dinamis. Hal yang terpenting adalah, jangan sampai kita salah niat. Nabi mensinyalir peristiwa hijrahnya dengan sabdanya:

 

?????????? ?????????????? ?????? ??????? ???? ??????????? ????? ?????????? ????????? ????? ?????????? ??????? ???? ??????? ??????????????? ????? ??????????? ????????? ???? ???????????? ???????????? ??????? ?????? ?????????? ???? ???????? ???????????? ??????? ???????? ?????? ???? ??????????? ?????? ??????? ?????? ????? ??????????? ????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ???????? ???????????? ????????????? ?????????? ??????? ??????? ??? ????? ?????? ??????? ?????????? ????? ??????? ?????????? ???? ????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ??? ??????? ????????

Rasulullah SAW. bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

Mengaktualisasikan konsep hijrah secara benar dan tepat dengan bekerja keras dan menggapai cita-cita luhur memang cukup susah, hanya orang-orang yang memiliki jiwa kesabaran yang tinggi. Oleh karenanya konsep sabar ini menjadi salah satu syarat kita bisa berhijrah.

Penulis memaknai sabar dengan arti ulet, fokus pada pekerjaan kita, dan selalu mempunyai harapan baik. Sebagaimana QS. al-Muzammil: 10 "washbir 'ala ma yaqulun wahjurhum hajran jamilan" Jika kita cermati ayat tersebut, maka terdapat korelasi yang sangat jelas dengan QS. al-Tahrim: 6, bahwa berhijrah itu adalah membenahi langkah kita ke depan (jihad), salah satu cita-cita luhur Insan Qur'ani adalah,"irji'i ila rabbiki radhiyah mardhiyyah, fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati (QS. al-Fajr: 28-30)." Untuk mendapatkan cita-cita luhur tersebut kita harus bangkit dan bekerja dengan penuh keimanan, dan berdoa dengan kesadaran akan kehebatan dan keandalan Allah SWT. Pemilik dan Pengizin alam semesta ini. Sebagaimana QS. Gafir: 60 "Ud'uni astajib lakum - berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu - " Salah satu wujud nyata yang sudah ditradisikan Muslim Nusantara ini adalah, dengan membaca do'a akhir tahun dan awal tahun.

Melalui momentum ini, penulis lebih menitikberatkan pada ngaji pribadi, karena dengan mengamalkan konsep 'ibda' bi nafsik,' inyallah implikasinya akan sampai, dan nantinya akan menjadi sebuah generasi keluarga, masyarakat, dan bangsa-negara yang senantiasa mendapat kebaikan dan rahmat dari Allah beserta magfirah-Nya.

Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Mahasiswa S2 Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, 


Tags :





Detail side

Media Terpopuler