Lukman Hakim Ajak Universitas Ikut Perangi Hoaks
Posted on Kamis, 9 Mar 2017 07:18 WIB
Jakarta, (ICMI Media) - Wakil Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang juga Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta seluruh civitas akademika untuk ikut melawan penyebaran tulisan hoaks, terutama dengan tidak ikut menyebarkannya.
Hal ini disampaikan Lukman saat menyampaikan keynote speech pada seminar nasional di Auditorium Prof Dr Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (7/3/2017).
"Saat ini banyak tulisan yang berisi caci maki, menyebarkan kebencian, dan berisi fitnah yang menyebar di dunia maya. Ini mengkhawatirkan," kata Lukman.
Menurut Lukman, dunia maya saat ini sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoaks, fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti. Informasi sumir yang sudah usang datang silih berganti.
Mengutip data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Lukman mengemukakan, pada akhir 2016 terdapat sedikitnya 800 laman yang diduga menjadi produsen virus hoaks, berita palsu, dan ujaran kebencian.
"Tulisan atau berita dari situs-situs tersebut tersebar melalui Facebook, Twitter, hingga grup-grup WA. Virus-virus itu langsung menyerang otak dan mengoyak nalar insani," tuturnya.
Dikutip dari laman Kompas.com, pada kesempatan yang sama, pengamat media sosial Nukman Luthfie juga melihat hoaks menjadi fenomena yang meresahkan di masyarakat. Hoaks dijadikan kendaraan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan berita bohong yang tidak bertanggung jawab.
"Ironisnya, hoaks ini sulit dibendung seiring dengan kemajuan teknologi informasi berupa media sosial," kata Nukman.
Menurut Nukman, kunci untuk membendung hoaks adalah literasi serta pemahaman dan kecerdasan masyarakat dalam menyaring berita atau informasi.
Selama ini, masyarakat tidak terbiasa berpikir kritis dan kesannya gampang menelan konten apapun di media dan medsos, termasuk konten yang tidak berdasar.
Menurut Nukman, jika seseorang terpapar virus tersebut, dia akan mengalami skizofrenia informasi yang berujung lunturnya nurani serta hilangnya kebijaksanaan akal dan keluhuran budi.
Padahal, akal dan budi adalah penentu seseorang untuk mampu tegak dalam jalur kemuliaan ataukah terjerembab dalam kemudaratan.*** (T/CH)
Tags :