Posted on Kamis, 3 Ags 2017 12:57 WIB
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/v_template_3.php
Line Number: 49
Backtrace:
File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler
File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view
File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/v_template_3.php
Line Number: 49
Backtrace:
File: /home/inditest/icmi.id/application/views/v_template_3.php
Line: 49
Function: _error_handler
File: /home/inditest/icmi.id/application/controllers/Pages.php
Line: 146
Function: view
File: /home/inditest/icmi.id/index.php
Line: 292
Function: require_once
Jakarta (ICMI Media) – Maraknya masyarakat di negara berkembang menjadi sasaran kejahatan siber, termasuk Indonesia, dirasa penting dilakukannya edukasi keamanan digital guna menangkal tindak pidana tersebut.
Meskipun kejahatan digital cukup masif di Indonesia sebagai negara berkembang, namun menurut Ketua Bidang Pengembangan Kominfo dan Media ICMI Silih Agung Wasesa, masyakarat masih terkesan acuh.
“Kenapa susah dilakukan di Indonesia dan negara berkembang lainnya karena orang-orang kita 'nggak' mau repot. Harus ingat password dan segala macam,” kata Silih kepada ICMI Media, Kamis (3/8).
Oleh sebab itu, Silih mengimbau agar edukasi kerap dilaksanakan agar masyarakat Indonesia terbiasa mengamankan aset digitalnya, seperti mengubah password.
Terkait kejahatan digital yang justru beroperasi di negara bukan pelaku, Silih berpendapat sebab menghindari dapat terlacak oleh penegak hukumnya.
“Karena terjadi juga di Amerika, pelakunya warga Brazil, juga terjadi di Jerman, pelakunya orang-orang Italia. Jadi memang pilihannya bukan karena Indonesia geografinya luas dan keamanannya kurang, tetapi bukan negara mereka sendiri,” ucap Silih.
Silih menganggap hingga kini memang belum ada teknologi penangkal kejahatan digital. Penjahat digital, kata Silih, pasti mencari upaya mengakali sistem keamanan korbannya, bahkan sekelas piranti FBI.
Sebelumnya, pihak kepolisian membongkar jaringan 148 pelaku kejahatan digital asal Cina dan Taiwan. Pelaku beroperasi di Jakarta, Surabaya serta Bali.
Modus pelaku dengan berpura-pura sebagai penegak hukum di Taiwan kemudian menghubungi para nasabah yang memiliki banyak uang di rekening bank di Cina dan Taiwan. (SYH/CR)