Menebar Kedamaian dan Toleransi di Bumi Nusantara Sesuai Visi-Misi al-Quran dan Hadis
Posted on Senin, 19 Okt 2015 15:14 WIB
Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai macam etnis, ras, dan agama. Negara yang mayoritas Islam ini beberapa kali mengalami pembelajaran tentang arti pentingnya kebersamaan, dan hidup saling berdampingan. Konflik sosial yang berkali-kali mendera bangsa ini berakar pada masalah-masalah perbedaan, baik kesukuan, golongan, etnisitas dan tak jarang berbau agama. Adanya pemahaman yang berbeda dalam agama tertentu, maupun perbedaan pegangan agama menjadi pemicu yang ampuh untuk disulut menjadi konflik kekerasan.
Tak ayal lagi, salah satu fenomena yang sangat mengkhawatirkan akhir-akhir ini adalah, munculnya gerakan keagamaan yang memanfaatkan konsepsi jihad sebagai dasar gerakan. Dalam konteks umum, pemahaman gerakan jihadis seperti ini oleh banyak pihak dikategorikan sebagai terorisme. Tentunya di dalam kekerasan atas nama agama ini harus dicairkan, dipikirkan, dan dicarikan solusinya kembali kepada jargon yang benar, yaitu al-Islam al-wustha wa al-wasathiyyah (Islam moderat) dan al-Islam huwa al-hall (Islam adalah solusi). Kata kunci tersebut perlu ditekankan pada momentum tahun baru Islam 1437 H ini, jangan sampai terulang kembali peristiwa mengerikan dari tindakan teror yang menggetarkan perasaan kita sebagaimana warga masyarakat di Denpasar, Bali pada 12 Oktober 2002. Lebih dari 180 orang menjadi korban, termasuk sangat banyak orang yang meninggal seketika. Lalu, penyerangan atas kantor majalah satire Charlie Hedbo yang menewaskan 14 orang. Pada 25 Mei 2015, kaum agamawan Budha Myanmar melakukan tindak kekerasan terhadap Muslim di sana. Dan peristiwa yang baru saja terjadi adalah, kerusuhan pembakaran Gereja di Desa Suka Makmur, Kab. Aceh Singkil, Prov. Aceh sekitar pukul 11.00 WIB, (13/10/2015). Hal tersebut, jelas akan merusak citra Islam yang memiliki jargon di atas. Sebab, al-irhab (terorisme) itu murni berisi kebencian dan tidak patut diasosiasikan dengan agama apapun.
Pada saat ini kita sedang berada di bulan Muharram, bulan dimana Rasulullah dan Sahabatnya melakukan hijrah. Kita dianjurkan untuk melakukan refleksi atas peristiwa hijrah Rasul beserta sahabatnya pada 14 abad lebih yang lalu itu, agar mendapat pelajaran yang berharga dan memahami esensi hijrah tersebut. Salah satunya adalah, mengikis habis eksklusvisme, sektarianisme dan komunalisme. Jika kita cermati peristiwa hijrahnya Rasul, sebanarnya di situ sedang berusaha membangun pilar perdamaian melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah, melakukan langkah melebur sekat-sekat kesukuan, antara suku Aus dengan suku Khazraj menjadi satu, yaitu dikenal dengan sebutan kaum Anshar. Yang kemudian bermuara pada pembentukan negara Madinah dengan berdasarkan pada sebuah konstitusi yang disebut piagam Madinah.
Kembali lagi pada topik inti tulisan ini, sebenarnya peristiwa konflik yang biasa disertai kekerasan pada akhirnya memojokkan agama Islam yang notabene dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Fakta yang demikian menimbulkan pertanyaan besar, apakah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk saling mengerti, saling memahami, dan saling menghormati dengan pihak yang berbeda pemahaman maupun beda agama? Apakah Islam benar-benar mengharuskan para penganutnya untuk memperjuangkan agama Allah dengan memaksa kelompok lain untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam? Atau justru Islam mengajarkan sebaliknya, bahwa dalam hidup umat Islam harus saling menghormati antar sesama manusia walaupun beda pemahaman terhadap Islam dan juga berlainan agama? Jika kita pahami ajaran-ajaran agama Islam yang luhur secara holistik, maka karakternya yang khas sebagai rahmah li al-alamin dapat dipahami dan dirasakan oleh seluruh makhluk yang berakal di dunia ini, dan dapat memperkuat interaksi damai antar agama dan demokrasi di Indonesia dan Dunia.
Kemajemukan agama merupakan suatu keniscayaan dalam realitas konkret, suka atau tidak. Karena itu, tidak perlu menjadi sebuah perdebatan. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menyikapi perbedaan keyakinan dan kepercayaan itu. Melalui titik berangkt inilah penulis mengajak pembaca meneladani pribadi Rasulullah SAW dan risalah yang dibawanya. Al-Quran dan Hadis merupakan sumber petunjuk yang menuntun umat manusia supaya hidup damai dan harmonis dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan seluruh isi alam semesta. Kedua sumber ajaran Islam tersebut mudah sekali atau berpotensi disalahtafsirkan untuk menjustifikasi kepentingan politis dan ideologis yang merusak harmoni sosial. Nampaknya, benar apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, "al-Quran merupakan teks mati di antara dua cover yang tak mampu mengekspresikan makna kecuali ditafsirkan oleh penafsir."
Di dalam QS. Al-Anbiya: 107 dikatakan, "Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Ayat ini menjadi kata kunci sentral dari isi tulisan ini. Ajaran Islam untuk seluruh manusia di dunia, tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit, dan suku bangsa. Islam sangat menyadari perbedaaan sebagai bagian dari sunnah Allah. Hal ini senada dengan QS. Al-Hujurat: 13.
Selanjutnya, mari kita lihat sabda luhur Rasul dalam literature Hadis yang merupakan manifestasi dari kerahmatannya. Beliau bersabda, Agama yang paling dicintai Allah adalah, agama yang lurus dan toleran/inklusif (al-hanifiyyah al-samhah). Dari sini kita harus mengikis habis yang namanya eksklusivisme, sektarianisme dan komunalisme dalam kesadaran jiwa seorang Muslim. Sebaik-baiknya di antara kita adalah, yang paling baik akhlaqnya. Di sisi lain Islam merupakan agama yang menekankan kasih sayang, sebagaimana Hadis Nabi:
?????????? ????????? ???? ??????? ?????????? ????? ??????????? ???? ??????????? ???? ?????? ???? ?????? ??????? ????????? ???? ??????? ???? ?????? ??????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ???????? ??????? ???? ??? ???????? ????????
Artinya: dari Jarir bin Abdullah berkata, "Rasulullah SAW. bersabda: "Allah tak bakalan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia." (HR. al-Bukhari).
Dan juga, umat beragama merupakan saudara, sebagaimana Hadis riwayat Abu Hurairah dinyatakan, seluruh Rasul adalah Islam, semuanya bersaudara. Mereka adalah putera-putera dari berbagai perempuan, ibu mereka berlainan, tetapi agama mereka satu.
????? ?????????????? ???????? ???? ???????? ???????????????? ?????? ??????????? ??????? ???????? ????????? ??????? (HR. Muslim).
Oleh karenanya, jangan berbuat aniaya terhadap sesama manusia, lebih tegas lagi, jangan zhalimi non-Muslim. Sebagaimana Hadis Nabi:
?????????? ?????? ??????? ???? ?????? ??????????? ???? ????????? ????????????? ?????????? ????????? ??????? ????? ????????? ?????????????? ?????????? ??????? ???? ?????? ?????????? ???? ????????? ???? ??????? ???? ????? ????????? ??????????????? ???? ????? ????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ????? ???? ??????? ????????? ?????????? ??????? ????? ??? ???????? ?????? ????????? ????????? ????? ??????? ???????????? ?????????? ?????????? ????? ???????????
Artinya: Dari Abu Dzar dari Nabi SAW. dalam meriwayatkan firman Allah SWT. yang berbunyi: "Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zhalim dan perbuatan zhalim itu pun Aku haramkan di antara kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu saling berbuat zhalim! (HR. Muslim).
Hadis di atas sejalan dengan keharusan saling menghormati sesama manusia, sebagaimana sabda Nabi:
?????????? ???????????? ?????????? ??????? ?????????????? ???? ????? ???????? ?????????? ???? ?????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ?????? ???????? ???????????? ??????? ??? ???????? ???????? ????? ????? ????????? ??????? ??????? ????????? ??????? ????? ??? ?????? ??????????? ????? ??????????? ????? ??????????? ????? ????????? ????? ?????????? ????? ???????? ????? ???????? ????? ???????? ?????? ???????????? ??????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ????? ????? ?????? ????? ??????? ?????? ??????? ????? ????? ????? ?????? ????? ??????? ?????? ??????? ????? ????? ????? ????? ?????? ????? ??????? ?????? ??????? ????? ??????? ??????? ???? ??????? ?????????? ??????????? ??????????????? ????? ????? ??????? ????? ???? ????????????? ???? ??? ?????????? ?????????? ????? ??? ?????????? ????? ??? ?????????? ????? ??????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????????? ?????????? ??????????
Artinya: Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan moyang kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang selain Arab dan bagi orang non-Arab atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah SAW. telah menyampaikan. Rasulullah SAW. bersabda: "Hari apa ini?" mereka menjawab: Hari haram (mulia/suci). Rasulullah SAW. bersabda: "Bulan apa ini?" mereka menjawab: Bulan haram (mulia/suci). Rasulullah SAW. bersabda: "Tanah apa ini?" mereka menjawab: Tanah haram (mulia/suci). Rasulullah SAW. bersabda: " Allah mengharamkan darah dan harta kalian di antara kalian - aku (Abu Nadhrah) Berkata; Aku tidak tahu apakah beliau menyebut juga kehormatan atau tidak - seperti haramnya (mulia/suci) hari kalian ini, di bulan ini dan di tanah ini." Rasulullah SAW. bersabda: "Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah SAW. telah menyampaikan. Rasulullah SAW. bersabda: "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir."
Pada akhirnya, kesadaran akan pluralitas agama ini mesti menjadi komitmen bersama demi kehidupan umat manusia yang damai dan dinamis serta mengarah kepada sikap keberagamaan yang positif. Pluralitas agama ini berdasarkan kontekstualisasi QS. Al-Rum: 22, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” Diperkuat dengan QS. Al-Baqarah: 62, “sesungguhnya orang-orang yang beriman (pengikut nabi Muhammad), dan orang Yahudi (pengikut nabi Musa), orang nashrani (pengikut nabi Isa), bahkan orang Shabi'in. Selagi mereka beriman kepada Allah, dan hari akhir, serta beramal shaleh. Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhan, tidak perlu takut dan cemas.”
Oleh karenanya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” QS. al-Hujurat: 11. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” QS. Ali Imran: 103. Kemudian, tepat kiranya kita memahami QS. Al-Baqarah: 148 “dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Dari sini, dapat disimpulkan hampir seluruh ajaran Islam titik tekannya adalah diperuntukkan bagi pribadi setiap manusia, untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari perbuatan tidak baik, keji dan munkar. Ketika sudah terbiasa 'mentabligi' dirinya sendiri, maka sangat dipastikan ketika ia berinteraksi dengan sesama manusia akan menabur dan menyemai kebaikan, keadilan, kebijaksanaan, perdamaian, dan toleransi. Yang perlu dicatat adalah, tanpa toleransi, tidak mungkin ada kedamaian, dan tanpa kedamaian tidak akan ada pembangunan atau demokrasi. Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Berkuasa tidak perlu dibela. Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang ditindas dan dianiaya. Sebab, memuliakan manusia, berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakannya berarti merendahkan dan menistakan penciptanya. Dalam ranah refleksi peristiwa hijrah Nabi, marilah kita bangun bangsa, menjadi 'baldatun thayyibatun wa rabbun gafur'. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang harus menjadi kesadaran bersama. Catatan terakhir penulis, sesungguhnya agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita mengedepankan kebaikan demi kepentingan publik, dan menjaga kebersamaan, serta keutuhan dalam bingkai masyarakat-bangsa-NKRI yang madani.
Tags :