Menyingkap Konten Pertelivisian Nasional
Posted on Kamis, 20 Ags 2015 08:52 WIB
Oleh: Helmy Yahya
Kondisi Pertelevisian Indonesia sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Rating tertinggi televisi (Indosiar dan ANTV) dikuasai oleh konten yang sangat tidak mendidik, seperti sinetron-sinetron india dan lainnya.begitu juga dengan rumah produksi yang mulai terancam karena tv membuat program sendiri atau membeli dari luar dengan harga yang murah.
Satu-satunya cara memang melalui undang-undang baik di level Presiden, Menteri atau UU melalui DPR. Saya dan teman-teman DPD/DPR memang berusaha juga memasukkan poin pembatasan konten tidak mendidik/konten non lokal ke dalam UU. Namun memang akan lebih relevan lagi dibantu pressure oleh lembaga/ ormas lainnya.
Maksudnya kami sedang masukkan itu lewat RUU Ekonomi Kreatif, sebagaimanadi Koreayang mewajibkan tayangan TV mereka 60 % berkonten korea tetap mesti dibantu pressure dari lembaga-lembaga berpengaruh, jika tidak akan menjadi tidak relevan isunya dan akan diambil alih.
Dilevel DPR, ICMI, NU, Muhammadiyah dan MUI bergabung untuk membuat surat ke DPR dan pemerintah.
Akses dari tren TV macam itu bisa kemana-mana, misalnya budaya Kpop yang mematikan konten lokal, atau songket India yang kini mulai mematikan industri songket lokal.
Cyber War merubah mindset. Anak masa kini tidak tahu Jendral Sudirman kecuali nama jalan. Tetapi jika Ladi gaga, rata-rata tahu. Berbeda dengan di US dan Aussie yang sangat menghargai pahlawan mereka karena memang menghormati pahlawan dimulai sedari kecil.
Tags :