Home / Media / Siaran Pers / Modal Sosial Dan Modal Intelektual

Modal Sosial dan Modal Intelektual


Posted on Senin, 1 Jun 2015 08:09 WIB


Modal Sosial dan Modal Intelektual

Memang, reputasi dibangun kembali dengan biaya tak murah

Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf )*

Beberapa waktu lalu, saya diundang Forum Zakat untuk berdiskusi tentang peran Modal Sosial dan Social Welfare pada Musyawarah Nasional FOZ di Bandung.

Diskusi itu saya awali dengan pertanyaan; “Berdasarkan pengalaman Anda, apakah pernah tidak memperoleh dukungan masyarakat untuk kegiatan kemanusiaan, bila Anda telah jalani dengan sungguh-sungguh, disiplin, transparan dan dilakukan semata-mata untuk kepentingan orang banyak?

Jawabannya, tidak pernah!. Semua inisiatif selalu direspon positif oleh masyarakat banyak. Perwujudan dari diksi, Kekuatan Kita, bukan Kekuatan Sendiri.

The power of we.

Para pakar sosial menyebut kejadian itu sebagai pemanfaatan modal sosial (social capital) untuk tujuan lebih besar. Banyak definisi tentang itu, saya ambil salah satu saja.

Menurut Robert D. Putman (2006), modal sosial diartikan sebagai: “Corak-corak kehidupan sosial jaringan-jaringan, norma-norma, kepercayaan yang menyanggupkan para partisipan untuk bertindak bersama lebih efektif untuk mengejar tujuan bersama”.

Berangkat dari hal itu, mari kontraskan opsi pilihannya. Apakah kita mau dan mampu menggunakan modal sosial itu untuk kebaikan? Atau sebaliknya? Bila kita lakukan untuk kebaikan,  modal sosial itu akan makin membesar dan dahsyat. Seperti yang kita saksikan terakhir dalam Solidaritas Rohingya.

Saat Negara sedang menjalani proses diplomasi dengan negara-negara tetangga dan negara asal pengungsi, Burma. Rakyat bergerak dengan teratur dengan tujuan yang sama, aktualisasi kemanusiaan kita untuk menolong sesama. Bantuan-bantuan mengalir, solidaritas kemanusiaan menebal dan mengalirkan aura positif. Kita makin optimis sebagai sebuah bangsa.

Sebaliknya, bila kita lakukan untuk keburukan atau kepentingan pribadi semata. Lambat laut, modal sosial akan mengecil, bahkan dapat menghancurkan akumulusi modal sosial yang terbangun sebelumnya.

Empat belas abad yang lalu kita diingatkan tentang kisah Nabi Yusuf tentang betapa kecakapan dan amanah adalah syarat pengelolaan modal sosial (QS 12:55).

Bagaimana konteksnya dalam bisnis?

Belakangan ini, saya makin sering menyaksikan dan kerap menemani pimpinan Perusahaan yang merumuskan kembali misi Perusahaan dalam proses 7 Steps Strategy Execution System.

Menyelerasakan tujuan hidup pemilik dan pimpinan Perusahaan dengan tujuan organisasi, meniatkan hidup yang berarti bagi orang lain. Ketika itu, justeru mereka makin menemukan gairah kuat untuk mendahulukan pelanggan dan stakeholders yang dilayani dengan sepenuh hati.

Keuntungan (profit) dan pertumbuhan hanyalah akibat dari proses bisnis yang sungguh-sungguh dijalankan dalam melayani para pelanggan dan stakeholders. Tetapi proses bisnis dan melayani pelanggan dilakukan dengan panduan nilai-nilai kebaikan yang bersifat kemanusaian itu sendiri.

Pedoman nilai-nilai; integritas, kejujuran, komitmen terhadap pelanggan dan mitra bisnis, respek terhadap prestasi yang didukung meritokrasi, budaya belajar dan berbagi, inovasi berkelanjutan dan lain-lain terus teraktualisasi yang menuntut panutan pada semua level manajemen.  

Tak ada integritas, tanpa panutan.

Organisasi bisnis pun makin menebalkan modal sosialnya ke dalam bentuk modal intelektual, selain pemanfaatan modal fisik dan modal finansial yang selama ini menjadi ekuitas Perusahaan.

Meski, modal intelektual sering tak masuk dalam hitungan akuntansi. Modal intelektual sering muncul dalam proses penilaian merek dan perusahaan dikaitkan dengan prospek bisnis. Karena itu, modal fisik dan finansial mustahil tumbuh tanpa modal intelektual sebagai pengendalinya atau sebagai pengemudi bisnis itu.

Para praktisi Manajemen Pengetahuan mendefinisikan modal intelektual sebagai aset dan sumberdaya tak berwujud atau non fisik dari sebuah organisasi, mencakup proses, reputasi, kapabilitas inovasi, pola-pola, aset relasional, pengetahuan yang tak terlihat dari para anggota, dan jaringan kolaborasi organisasi.

Sebagai sebuah contoh dari salah satu unsur modal intelektual adalah aset reputasional, saya pernah bertanya pada sejumlah pemilik merek nasional. Bila harus memilih, gedung atau reputasi merek yang harus diselamatkan?

Ternyata, semua memilih merek atau reputasi perusahaan, ketimbang gedung yang terpaksa harus hancur. Sebab gedung bisa dibangun kembali. Kerugian finansial bisa dipulihkan. Namun, banyak kehancuran perusahaan diawali lantaran kehancuran reputasi.

Tak heran, banyak produsen otomotif melakukan penarikan kembali produk-produknya (recall) dengan biaya milyaran dollar, ketimbang reputasinya hancur. Selanjutnya, ia mengirimkan kembali produk yang sudah diperbaikinya kepada para pelanggannya. Memang, reputasi dibangun kembali dengan biaya tak murah.

Pada era teknologi informasi dan digital ini, semua informasi tersaji seketika untuk memungkinkan semuanya lebih transparan dan pembelajaran kita lebih cepat untuk menebalkan modal sosial dan mengoptimalkan modal intelektual kita.

Keduanya amat relevan bila Anda penggiat kemanusiaan. Bahkan, amat relevan ketika Anda mengelola bisnis sekalipun. Jadi, bagaimana menurut Anda?

*) Pengurus Pusat ICMI dan Strategic Action Enabler.

Dapat berbagi via twitter di @mukhlisyusuf.


Tags :





Detail side

Media Terpopuler