Posted on Kamis, 7 Mei 2015 02:59 WIB
Model yang akan digunakan tetap kolektif kolonial, yaitu seorang Ketua Umum dan 6 orang wakilnya
Jakarta, (ICMI Media) - Berdasarkan hasil Rapat Majelis Pimpinan Paripurna (RMPP) pada April 2015, diusulkan model kepemimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) akan diperbaiki memandang masih terdapat kelemahan dalam model yang saat ini digunakan ICMI.
"Model yang akan digunakan tetap kolektif kolonial, yaitu seorang Ketua Umum dan 6 orang wakilnya," ujar Sekretaris Jenderal ICMI, Muhammad Taufik pada Kamis (7/5) di Jakarta.
"Model ini yang rencananya diusulkan dalam Muktamar ICMI tahun 2015," demikian dikatakan oleh Taufik.
Menurutnya, kepemimpinan ICMI dipersiapkan sebagai kombinasi unsur akademisi, pengusaha, birokrasi, politisi, ulama dan tokoh nasional.
"Maka model pemilihannya tidak lagi menggunakan voting atau aklamasi, tapi menekankan asas musyawarah mufakat," jelas Taufik.
Dalam pandangannya, model semacam itulah yang lebih tepat berdasarkan penilaian 5 kriteria yaitu Keislaman, Kecendekiawanan, Keindonesiaan, Komitmen dan Kapasitas kepemimpinannya.
"Ini baru sebatas masukan saja, belum jadi keputusan muktamar," kata Taufik.
Jika model ini disetujui, maka organisasi wilayah dan daerah akan dipersilahkan mengajukan nama-nama kandidat mereka untuk memimpin ICMI. "Semua masukan nama itu akan ditampung, dan nantinya diseleksi oleh Dewan Presidium untuk disetujui dalam muktamar," jelas Taufik.
Dalam pandangan umum dari organisasi-organisasi wilayah (orwil) dan organisasi satuan (orsat) ICMI yang mengikuti Muktamar V di IPB Internasional Convention Center, umumnya peserta menginginkan model presidium tetap dipertahankan.
Ada juga yang ingin tetap dengan sistem sekarang, yakni presidium dengan lima ketua yang bergantian memimpin tiap tahun, dan yang ingin kembali seperti saat ICMI didirikan, yakni ada satu ketua umum. Selain itu ada usulan perpaduan antara dua model itu, yakni presidum dengan satu ketua presidum tetap. (Imam)
Sumber : ICMI Media