Home / Media / Siaran Pers / Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1436

Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1436


Posted on Senin, 4 Mei 2015 04:42 WIB


Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1436

1 Ramadan jatuh pada Kamis 18 Juni 2015. Penetapan berdasarkan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1436 Hijriyah.

Jakarta, (ICMI Media) - Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memutuskan 1 Ramadan jatuh pada Kamis 18 Juni 2015. Penetapan berdasarkan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1436 Hijriyah. Demikian dipublikasikan oleh portal muslimdaily.net pada Ahad (3/5).

Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah bernomor 01/MLM/I.0/E/2015 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawwal dan Dzulhijjah 1436 H. Malumat ditandatangani Ketua Umum Prof Dr H M Din Syamsuddin, MA dan Sekretaris Umum Dr H Agung Danarto.

Sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarijh dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ijtimak jelang Ramadhan 1436 hijriyah terjadi pada Selasa Legi, 16 Juni 2015 pada pukul 21.07 WIB.

Adapun ijtimak jelang Syawal 1436 Hijriyah terjadi pada Kamis Legi 16 Juli 2015 pada pukul 03.26 WIB. Sementara Ijtimak jelang Zulhijah 1436 hijriyah terjadi pada Ahad Kliwon 13 September 2015 pada pukul 13.43 WIB.

Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan, tanggal 1 Ramadan 1436 Hijriyah jatuh pada hari Kamis Pon 18 Juni 2015.

Sementara 1 Syawal 1436 Hijriyah jatuh pada Hari Jumat Pahing 17 Juli 2015. Dan 1 Zulhijah 1436 Hijriyah jatuh pada Senin Legi 14 September 2015. Adapun 9 Zulhijah jatuh pada Selasa Wage 22 September 2015. Dan Iduk Adha jatuh pada Rabu 23 September 2015

Kalender hijriah agar disatukan

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan agar forum Silaturahim dan Muzakarah Penyatuan Kalender Hijriah-Menteri Agama RI dan PP Muhamadiyah bisa dimanfaatkan untuk bisa mendapatkan penyamaan cara pandang, persepsi, dan paradigma terkait persoalan keummatan yang cukup penting di Republik ini, yaitu terkait penetapan kapan atau waktu 1 Ramadhan, 1 Syawal dan Idul Adha.

“(Penyatuan) kalender hijriah ini, perlu kita sikapi dengan cara pandang yang mudah-mudahan bisa kita samakan, sehingga umat Islam secara keseluruhan mempunyai pegangan yang sama dalam menjalankan ibadahnya, khususnya mengawali Ramadhan, menentukan 1 Syawal dan Idul Adha,” ujar Menag dalam forum Silaturahim dan Muzakarah Penyatuan Kalender Hijriah-Menteri Agama RI dan PP Muhamadiyah di Kantor PP Muhamadiyah-Yogyakarta, Jumat (1/5) kemarin.

Hadir dalam acara tersebut Ketum Muhammadiyah Din Syamsuddin, Dirjen Bimas Islam Machasin, Kabalitbang dan Diklat Abdurrahman Masud, Sesditjen Bimas Islam Muhamadiyah Amin, Direktur Urais Muchtar Ali, Kakanwil Kemenag Yogyakarta Nizar, dan Pengurus Pusat Muhamadiyah.

Dikatakan Menag, sesungguhnya ini persoalan yang cukup lama di Indonesia, dan sejak reformasi dan lalu kemudian persoalan ini semakin muncul di permukaan.

Menurutnya, setelah melakukan diskusi intensif di internal Kemenag, bahwa penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan Dzulhijjah (Idul Adha) ini adalah persoalan yang semestinya harus kita satukan karena pada dasarnya potensi untuk menyatu itu sangat besar.

Apalagi hakekatnya, tandas Menag, ini adalah sesuatu persoalan ijtihadi, sesuatu yang terbuka peluang kesempatan bagi kita untuk mengerahkan segala daya upaya kita untuk menghasilkan sikap yang sama.

“Atau ini sesuatu yang sepenuhnya negara atau pemerintah tidak perlu lagi mencampuri persoalan ubudiyah seperti ini, sehingga ada pandangan untuk menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menentukan pilihannya masing-masing. Ini yang selalu muncul setiap kita melakukan diskusi-diskusi seperti ini,”ujar Menag. Seperti dilansir dari laman kemenag.

“Itu perlu kita pikirkan, apalagi umat kita yang mayoritas awam sulit mendapatkan penjelasan apa sesungguhnya faktor yang membedakan penetapan itu?,”tambah Menag.

Ini persoalan yang sangat-sangat teknis yang tidak semua kita bisa memahami. Dan kalaulah cukup paham, lanjut Menag, belum tentu memiliki kemampuan menjelaskan apa yang dipahami kepada masyarakat awam itu, karena persoalan teknis memerlukan pemahaman dasar tertentu mengapa ada perbedaan-perbedaan itu.

“Jadi memang forum-forum (muzakarah) seperti ini menjadi penting, dan nampaknya saya optimis ini bisa diselesaikan,” terang Menag. (Awan)

Sumber : muslimdaily.net


Tags :





Detail side

Media Terpopuler