Posted on Selasa, 19 Mei 2015 00:52 WIB
makanya ini masuk wilayah tasamuh atau toleransi yang tak perlu dibesar-besarkan
Pekanbaru, (ICMI Media) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Din Syamsuddin, menyatakan perbedaan faham tentang awal masuk Ramadhan dan Syawal merupakan hal yang termasuk wilayah toleransi sehingga tidak perlu dibesar-besarkan dan diperdebatkan.
"Menteri Agama telah saya terima di Muhammadiyah dan sudah bertemu juga dengan Ulama Nahdatul Ulama. Masih ada perbedaan pemahaman antara ahli hisab dan ahli rukyat. Masih tidak ketemu, makanya ini masuk wilayah tasamuh atau toleransi yang tak perlu dibesar-besarkan," katanya usai pengukuhan pengurus MUI Riau pada Senin malam (18/5) di Pekanbaru.
Menurut Din, dua perbedaan itu adalah yang satu rukyat menentukannya harus melihat dengan mata kepala dulu atau istilahnya meyakini sesuatu dengan melihat. Sedangkan hisab menurutnya, dengan perhitungan akal pikiran yang meyakini dengan mengetahui walaupun tidak melihat.
"Kalau dalam Al-Quran dikatakan, apabila kamu yakin bulan datang, maka berpuasalah. Yang penting berpuasalah dan ber-Idul Fitrilah. Ini masalah ibadah, tidak seperti 12 Rabiul Awal atau 27 Rajjab yang tak perlu pakai rukyat dan sidang isbath," ulasnya.
Meskipun begitu, seperti diketahui untuk tahun ini sampai dengan tahun 2022 tidak akan adalagi perbedaaan awal Ramadhan dan Syawal antara hisab dan rukyat. Hal itu dikarenakan ketinggian bulan setelah konjungsi saat matahari terbenam itu tinggi.
"Ahli hisab otomatis sudah hilal dan ahli rukyat kemungkinan sudah dapat melihat hilal," tambahnya.
Untuk itu, Menag RI sudah mengusulkan penyatuan kalender Islam tahunan 1 Muharram sampai 29 Zulhijjah. Hal itu membuat mudah mengetahui tanggal Ramadhan sehinga tidak perlu lagi sidang isbath.
Din Syamsuddin sebagai Ketua PP Muhammadiyah juga telah mengumumkan awal puasa nanti adalah 18 Juni. Kemudian awal Syawal atau Hari Raya Idul Fitri pada 17 Juli.
sumber: Republika Online