Home / Media / Siaran Pers / Pengungsi Rohingya Minta Presiden Jokowi Tak Pulangkan Mereka Ke Myanmar

Pengungsi Rohingya Minta Presiden Jokowi Tak Pulangkan Mereka Ke Myanmar


Posted on Kamis, 28 Mei 2015 00:00 WIB


Pengungsi Rohingya Minta Presiden Jokowi Tak Pulangkan Mereka Ke Myanmar

Kalau boleh, kami meminta sama Presiden Indonesia, jangan pulangkan kami. Sebab, jika dipulangkan ke sana, kami pun akan dibunuh di sana

Jakarta, (ICMI Media) - Pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh meminta agar Presiden Indonesia, Joko Widodo tidak meulangkan mereka ke Myanmar, karena khawatir mereka akan diburu dan dibunuh secara kejam.

"Kalau boleh, kami meminta sama Presiden Indonesia, jangan pulangkan kami. Sebab, jika dipulangkan ke sana, kami pun akan dibunuh di sana," ujar Hasan, salah satu pengungsi mengungkapkan kepada Republika pada Rabu (27/5) di kamp pengungsian Aceh. 

Hasan merupakan salah satu pengungsi yang mampu berbahasa Inggris dan menjadi penerjemah bagi pengungsi. Ia sendiri mengaku terpisah dengan keluarganya, dan ikut terdampar di Aceh.

"Atas nama Warga Rohingya, kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas kebaikan itu," tambah Hasan.

Untuk itu, ia dan seluruh warganya mematuhi apapun kebijakan pemerintah Indonesia terhadap pengungsi asal Rohingya. Permintaan serupa agar tidak dipulangkan ke negaranya juga dikatakan Muhammad Amin. Lebih ektrim, Amin mengatakan bahwa dirinya lebih baik dibunuh di Indonesia dari pada harus dikembalikan ke Myanmar.

"Lebih baik kami dibunuh di sini dari pada dipulangkan lagi," ujar Muhammad Amin dalam bahasa Melayu yang terbata-bata. 

Ia mengatakan, kondisi negara masih kacau dan rusuh. Jika dipulangkan, ia dapat memastikan bahwa dirinya akan diburu seperti beberapa waktu sebelumnya. Orang suku Rohingya, kata dia, tidak diakui di Myanmar. 

Terindikasi Human Trafficking

Dari hasil pemantauan, ditemukan motif eksodus massal suku Rohingya ternyata tak hanya aksi genosida. Menurut Hasan, ia dan ratusan warga yang Myanmar lainnya harus membayar sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar untuk pergi dari negaranya.

"Masing-masing harus membayar uang 6.000 ringgit Malaysia kepada seseorang seperti Broker," ujarnya kepada Republika, di Posko Pengungsian Kuala Langsa, Kota Langsa, Rabu (27/5). 

Jika dirupiahkan, uang tersebut senilai dengan Rp 21 juta lebih. Ia menjelaskan, negara tujuan keberangkatan bukanlah Indonesia, melainkan Malaysia. Estimasi perjalan, dari keterangan yang ia dapatkan, akan ditempuh selama tujuh hari.

Oleh para Broker, Hasan dan ratusan warga Rohingya lainnya tidak hanya diiming-imingi terbebas dari krisis di negaranya, mereka juga dijanjikan untuk mendapat pekerjaan yang layak di Malaysia nanti. Tawaran tersebut cukup menggiurkan. Mengingat ancaman bahaya di negaranya. 

"Siapa yang tidak mau pindah dari sana dan mendapat pekerjaan untuk kehidupan yang lebih baik," katanya.

Dalam bahasa inggris yang ala kadarnya hasan menjelaskan, kehidupan di Myanmar sudah tidak layak dijalani. Bagaimana tidak, ia dan warga lainnya diburu bak binatang, wanita Rohingya diperkosa dan rumah tempat mereka tingga dibakar. 

"Tidak ada anggota pemerintah dari suku kami, militer tidak ada (dari suku Rohingya). Bayi yang masih kecil dilempar ke udara lalu dibakar," ujarnya sambil mengayunkan kedua tangannya keudara menirukan cara mereka melempar bayi.

Menurutnya, dalam kondisi semacam itu semua orang berfikir, tidak ada yang harus dipertahankan di negaranya. Langkah yang paling rasional yang harus diambil adalah melarikan diri untuk menyelamatkan hidup. 

Yang mengejutkan, jika warga Rohingya harus membayar uang sekitar Rp 21 juta demi mengungsi, warga Imigran Bangladesh harus membayar harga yang lebih mahal untuk mencari pekerjaan di Negeri Jiran.

“Saya membayar 25.000 riyal kepada kapten untuk ke Malaysia,” ujar Imigran Banglades, Mahmud Iqbal.

Iqbal yang pernah bekerja di Arab Saudi menjelaskan bahwa dia dan teman-temannya dari Bangsadesh ingin mengikuti jejak saudara-saudaranya yang lebih dahulu masuk ke Malaysia dan telah mendapat pekerjaan di sana.

Senada, baik para pengungsi Myanmar dan Imigran Bangladesh mengatakan telah ditipu oleh kapten kapal yang ditumpanginya. Sang kapten pergi membawa uang dan meninggalkan mereka di tengah laut setelah beberapa hari perjalan di laut. 

Kapten dan kru kapal tersebut diduga melarikan diri ke Thailand setelah merusak mesin kapal. Sehingga para pengunsi Myanmar dan Imigran Bangladesh harus terombang-ambing di lautan selama dua bulan lebih.

Fenomena pengunsian tersebut disinyalir oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) tidak hanya merupakan masalah kekerasan di Myanmar semata. Namun juga terkait dengan pengiriman tenaga kerja illegal bahkan perdagangan manusia.

Dari wawancara yang kami lakukan terhadap para pengunsi ada indikasi muncul berbagai kasus hingga dugaan human trafficking.
“Salah satu indikasinya ada beberap orang yang keluar dari negarantya bukan karena keingian sendiri, namun ada yang memaksa,” ujar petugas UNHCR di Aceh Timur, Hendrik.

Dari wawancara awal juga ditemukan beberapa orang yang diangkut ke luar negaranya dijadikan alat untuk sandra untuk meminta uang kepada keluarganya melalui telepon. “Ada juga semacam dijadikan alasan menelpon keluarga untuk minta uang,” ujarnya.

Sementara ini, UNHCR juga mendalami pendataan untuk pengungsi muda yang datang tanpa orang tuanya. Data tersebut nantinya akan dilaporkan kepada pemerintah sebagai rekomendasi untuk mengambil langkah jangka panjang. (Imam)

Sumber : Republika


Tags :





Detail side

Media Terpopuler