R U D Y: Kisah Masa Muda Sang Visioner
Posted on Selasa, 13 Okt 2015 05:19 WIB
Inilah Rudy, kisah masa muda Sang Visioner yang berani dan mampu mengejar cita-cita demi bangsanya
RUDY merupakan sebuah buku yang ditulis berdasarkan kisah-kisah yang diceritakan oleh B.J. Habibie kepada Gina S. Noer, yang dimulai dari satu pertanyaan: “Mengapa saat Eyang muda sekarat dulu, Eyang malah menulis sumpah untuk berbakti pada Indonesia?” Bila B.J. Habibie menjawab, maka dia akan menjawab dari awal mula jawabannya. Dan semua berawal pada saat B.J. Habibie masih dipanggil dengan nama kecilnya: Rudy.
Buku ini kemudian terbagi menjadi tiga babak dengan cinta menjadi benang merahnya. Namun berbeda dengan kisah di buku “Habibie & Ainun” yang merupakan kisah cinta sepasang kekasih hingga menjadi suami istri. Maka, buku “Rudy” ini merupakan kumpulan cinta yang lebih luas maknanya: cinta orang tua kepada anaknya, cinta seorang anak, cinta pada bangsa, cinta pada kemanusiaan, cinta dalam persahabatan. Perjalanan seorang Rudy hingga pada akhirnya nanti dia akan pantas mendapatkan cinta sejatinya: Hasri Ainun Habibie.
Babak pertama mengisahkan kisah Rudy kecil dan kehangatan keluarganya di Pare-Pare. Rudy lahir pada 25 Juni 1936 dari pasangan Raden Ayu Toeti Saptomarini dan Alwi Abdul Djalil Habibie. Ini adalah pernikahan beda suku yang sangat jarang terjadi pada pra kemerdekaan Indonesia. Pernikahan itu adalah bukti kalau pasangan muda ini adalah pasangan progressif. Bahkan karena pernikahan ini Alwi harus putus hubungan dengan ayah dan keluarga besarnya di Gorontalo. Kemudian sebagai bukti pemberontakan mereka dari nilai tradisional, mereka menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan di keluarga mereka. Karena bahasa Indonesia belum digunakan pada saat itu.
Keluarga Alwi Habibie adalah keluarga yang maju pada jaman itu karena tingkat pendidikan mereka. Sebagai keluarga kelas menengah pada saat jaman penjajahan Belanda, mereka bisa mengusahakan akses pendidikan dan punya visi besar untuk anak-anak mereka. Bagi Papi, Alwi Habibie, anak-anaknya harus menjadi mata air kebaikan yang berguna untuk masyarakat. Pekerjaan Papi yang selalu berkutat tentang pertanian dan membuat Rudy menyaksikan berbagai hal yang menarik. Papi mengembangkan bibit-bibit tanaman terbaik agar perkebunan di Pare-Pare semakin maju. Dari beliau Rudy belajar arti berbagi.
Sedangkan bagi Mami, Tuti Marini, anak-anaknya harus membawa nama baik keluarga mereka. Rudy, anak keempat keluarga Habibie, menjadi anak yang berbeda dengan anak-anak kecil lain sesusianya. Rasa ingin tahunya membuat Rudy selangkah lebih maju. Karena rasa ingin tahu dan kekeraskepalaan Rudy, banyak konsep cara kerja benda dia pahami sebelum mendapatkan teori fisikanya. Bila bermain adalah cara Rudy mendapatkan masalah, sekolah dan buku adalah cara dia mengakses jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Tapi karena fokusnya yang berbeda akhirnya Rudy menjadi anak yang bisa dianggap aneh: gagap dan hanya mau berurusan dengan apa yang dia suka saja. Bahkan gara-gara dia mau melihat balon terbang, teman-teman sekelasnya jadi tak sengaja mengumpulkan kondom bekas dari pelabuhan karena mereka pikir itu balon.
Rudy kemudian keluar dari zona nyamannya karena Jepang menyerang Pare-Pare pada tahun 1942. Rudy dan keluarga harus masuk pengungsian. Di situ juga, Rudy tak suka pada pesawat karena dalam logika anak-anaknya: pesawat membawa keburukan dengan mengebom orang-orang tak bersalah.
Dalam peristiwa lainnya, saat pesta sunat sebagai lambang persatuan Alwi dan keluarganya di Gorontalo, Rudy baru sadar kalau keluarganya terpecah belah karena jarak. Sejak itu dia ingin membuat sesuatu yang bisa menghubungkan Papi dengan keluarga di Gorontalo dan Mami dengan keluarganya di Jawa.
Tahun 1945, Rudy pindah ke Makassar. Pada tahun 1946, Rudy berhadapan langsung dengan pertanyaan yang tak bisa dia jawab. Di bawah pengawasannya, adiknya: Ali jatuh dan sebulan kemudian wafat. Sebuah kehilangan yang membuat Rudy terus bertanya-tanya mengenai hakikat hidup dan kematian.
Cobaan bagi keluarga Rudy rupanya belum usai, pada 13 September 1950, Alwi Habibie berpulang untuk selamanya akibat terkena serangan jantung. Kepergian Alwi Habibie menimbulkan pukulan telak bagi keluarganya. Namun Mami berjanji kepada almarhum suaminya untuk terus melanjutkan cita-cita keluarga mereka: menjamin pendidikan yang layak bagi anak-anak. Namun sekolah Eropa tutup di Makassar karena perang, sedangkan ada Winny dan Rudy yang harus pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Karena masalah biaya, akhirnya Mami memilih mengutamakan pendidikan Rudy terlebih dahulu karena ia yakin anaknya inilah yang paling pintar. Mami masih berat melepas anak perempuannya sendirian tanpanya.
Rudy berangkat ke Jakarta tak lama setelah peringatan 40 hari meninggalnya Papi. Rudy bersekolah di sekolah internasional setingkat SMP dan SMA di depan Stasiun Kereta Api Gambir. Nama sekolahnya Carpentier Alting Stichting (CAS). Sekolah terbaik di Jakarta pada saat itu. Karena tak betah, pada Desember 1950, Rudy bertolak ke Bandung. Rencana Rudy bersekolah di Bandung disetujui oleh Mami. Tapi di sana Rudy malah diturunkan kembali ke SMP karena tak bisa bahasa Indonesia sebelum dia boleh masuk ke SMA Kristen.
Dia juga di-bully kawan-kawan barunya. Dipanggil ‘londo ireng’ karena tak bisa berbahasa Indonesia dan dipanggil ‘banci’ karena wajahnya yang imut dan pipi yang selalu bersemu merah. Teman-temannya tahu Rudy susah menjawab karena dia gagap. Saat tahu Rudy turun kelas, Mami bahkan memboyong seluruh keluarganya untuk pindah ke Bandung.
Sepanjang SMA Rudy menjadi bintang sekolah. Nilai ilmu pastinya selalu sempurna walau di pelajaran lain nilainya rendah. Karena kecerdasaanya Rudy dijodoh-jodohkan oleh Go Ke Hong (guru ilmu pasti) dengan Ainun, adik kelasnya, yang sama pintarnya. Tapi karena ejekan itu lah Rudy malah mengejek Ainun ‘jelek’ agar tak terus menerus dijodohkan. Rudy pada saat itu sudah menjalin hubungan dengan Farida, kakak kelasnya.
Setelah lulus dari SMA, Rudy melanjutkan kuliah ke ITB. Sahabat Rudy, Lim King Kie, mendapatkan beasiswa untuk sekolah teknik penerbangan di Jerman. Mendengar hal tersebut, Rudy menjadi “panas” dan bertekad untuk mengikuti jejak sahabatnya. Ia kemudian mengikuti ujian beasiswa ke Aachen, Jerman. Sayang, meskipun nilainya paling tinggi, jatah beasiswa untuk ke Aachen sudah habis. Rudy pun kemudian tetap berangkat ke sana dengan biaya sendiri. Biaya yang dibutuhkan pada saat itu sebanyak 375 Deutsche Mark (DM) untuk biaya hidup selama satu bulan, seterusnya baru bisa mengajukan beasiswa.
Rudy bingung. Dia tak mungkin keluarganya punya uang sebanyak itu. Mami menolak. Dia yang mengusahakan biayanya. Rudy harus berangkat karena Mami telah bersumpah akan mengusahakan pendidikan setinggi-tingginya dengan biayanya sendiri.
Babak kedua menceritakan masa-masa Rudy menuntut ilmu di Jerman. Pada Agustus 1955 Rudy sempat menyaksikan Bung Karno pidato pada saat kunjungannya ke Bonn. Inti pidato itu, Bung Karno menekankan pentingnya kemandirian di sarana-prasarana perhubungan di Indonesia. Untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dibutuhkan kapal untuk barang dan pesawat terbang untuk barang dan manusia. Karena itu, sangat dibutuhkan teknisi dan sarjana yang memiliki keahlian di bidang perhubungan laut dan udara, sehingga mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Jerman memang diharapkan mampu membuat kapal dan pesawat sendiri untuk Indonesia ketika mereka pulang. Bung Karno lalu berpesan kepada Rudy, “Kamu ini harapan bangsa! Jangan terpikat dengan noni-noni.” Noni adalah istilah untuk perempuan bule.
Tinggal di negeri orang tanpa beasiswa membuat Rudy harus menghemat biaya pengeluarannya. Agar menghemat uang yang memang pas-pasan, Rudy mengambil rumah murah di pinggir kota. Di sana Rudy tinggal di rumah keluarga Neuefeiend di Frankenberg Str 16, Aachen. Kamar yang disewanya tak punya kamar mandi dan pemanas. Hanya ada wastafel, toilet untuk buang air kecil dan besar, tetapi tidak boleh dipakai untuk mandi. Dia sering berada di perpustakaan hingga tempat itu tutup. Dia senang karena di sana hangat, bisa minum, dan kadang-kadang malah diberi apel oleh penjaga perpustakaan.
Karena tak ingin membuang-buang waktu selama di sana, ketika teman-teman Indonesianya memilih untuk kerja praktik di Jerman demi menambah pengalaman dan mendapatkan honor, Rudy langsung mengikuti ujian Studienkollegs. Akibatnya, Rudy menjadi satu-satunya calon mahasiswa dari Indonesia yang mengikuti ujian tersebut.
Hasil ujian Rudy ternyata mencengangkan, ia mendapatkan nilai hampir 10. Rudy kemudian terkenal sebagai mahasiswa yang qualified dan cerdas. Rudy punya target bahwa dia harus bisa menyelesaikan kuliah setinggi-tingginya dalam waktu secepat-cepatnya. Rata-rata mahasiswa Aachen membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk bisa lulus hingga jenjang S-3 atau mendapat gelar Dr. Ing. pada saat itu.
Pada babak ini juga, kita akan menyaksikan ketegaran Mami dan upayanya untuk menjaga kestabilan keluarganya sebagai single mother. Berbekal kenalan keluarganya yang luas, Mami kemudian merintis bisnis. Di rumah Bandung, Mami menyewakan indekos. Mami memang menjadi figur penting di kalangan komunitas warga Jawa di Bandung. Mami juga terkenal sangat rajin bersilaturahmi. Beliau paham dan dekat dengan banyak simpul jaringan perkawanan dan bisnis penting di Bandung.
Terhadap Rudy dan anak-anaknya yang lain, Mami tak pernah sekalipun mengeluhkan kesulitan dan beban kerjanya. Ia menjadi sosok penyangga keluarga yang utuh. Berkat sosok seperti Mamilah, Rudy dan anak-anaknya yang lain tumbuh menjadi mata air bagi sekelilingnya. Mami memegang teguh janjinya terhadap almarhum Papi. Sementara itu adik-adik Rudy juga harus berkorban untuk mencari pendidikan yang lebih murah biayanya.
Di Jerman pulalah, Rudy mengenal sosok perempuan hangat, lincah, dan mampu mewarnai hari-hari Rudy. Gadis asal Jerman keturunan Polandia itu bernama Ilona. Rudy dan Ilona kerap menghabiskan waktu bersama: menonton konser, membaca buku, membahas puisi-puisi, hingga mendiskusikan berbagai situasi sosial dan kemanusiaan. Kedekatan mereka berdua rupanya menimbulkan keresahan bagi sahabat-sahabat Rudy asal Indonesia. Mereka memaksa Rudy mengingat kembali bahwa tujuan mereka belajar di Jerman adalah untuk belajar, bukan berkencan dengan perempuan bule. Rasanya tak pantas calon pemimpin Indonesia bersanding dengan perempuan dari negara lain. Namun Rudy tak terlalu mempermasalahkan itu. Ia merasa ritme belajarnya tak pernah terganggu.
Di Jerman Barat pula Rudy tumbuh menjadi Indonesia. Selain sibuk menuntut ilmu, Rudy juga tak ketinggalan ikut aktif di organisasi mahasiswa. Ini yang membuatnya mulai tak gagap lagi karena sering berdebat. Kemunculan PPI di Eropa memicu mahasiswa-mahasiswa di tiap negara Eropa untuk membuat cabang dari Perhimpunan Pelajar Indonesia.
Akhirnya, PPI Jerman didirikan pada 4 Mei 1956 di Bad Godesberg, Bonn, yang menaungi 11 cabang PPI, termasuk PPI cabang Aachen. Pada saat itu, ada tiga orang yang dipilih untuk menjadi pengurus PPI Aachen. Sebagai ketua, ditunjuklah Peter Manusama, yang dikenal sebagai pribadi yang penyabar. Rudy yang penuh semangat ditunjuk menjadi sekretaris PPI. Keng Kie punya tanggung jawab besar karena dia yang ditunjuk sebagai bendahara.
Pada 1957, Rudy terpilih menjadi ketua PPI Aachen. Program pertama yang Rudy gagas adalah membuat klubraum, sebuah tempat berkumpul dan berdiskusi. Tempat ini didanai dari sumbangan teman-teman dan merupakan sebuah apartemen yang disewa bersama-sama. Ini dilakukan untuk menghilangkan rasa keterasingan bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman Barat. Di klubraum, Rudy mulai berdiskusi dengan kawan-kawan mahasiswa. Ia memiliki gagasan besar untuk mengadakan Seminar Pembangunan. Menurut Rudy, mahasiswa yang bersekolah di luar negeri harus memiliki rencana-rencana nyata untuk membangun Indonesia ketika mereka pulang nanti.
Rudy menyampaikan gagasannya untuk melaksanakan Seminar Pembangunan pada 1959. Seminar ini datang dari gagasan muda untuk membongkar pemikiran generasi tua, yang walau mempunyai jabatan di pemerintahan, hanya bisa menghambat pembangunan. Sebuah revolusi dari pemuda Indonesia. Gagasan Rudy menemui pasang surut di sana-sini. Intrikintrik politik yang berlangsung di Indonesia turut mempengaruhi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk pada gagasan Rudy. Intrik politik ini sempat membuat Rudy putus asa dan ragu terhadap pemerintah negerinya.
Babak ketiga menceritakan masa-masa akhir studi Rudy, kebimbangannya tentang mimpi membuat industri pesawat, dan kisah cinta sejatinya. Rudy sadar bahwa demi membangun industri pesawat, ia tidak bisa sendirian.
Rudy kembali ke Indonesia pada Maret 1962. Selama berada di Tanah Air, Rudy diminta mengisi berbagai seminar di kampus. Salah satunya adalah kampus ITB, tempat Keng Kie, sahabatnya, mengajar dan membangun Sub jurusan Teknik Penerbangan yang mulai diberikan di Jurusan Mesin, di bawah Departemen Mesin-Elektro ITB. Seminar yang dibawakan Rudy adalah Finite Element Method. Metode ini muncul karena adanya kebutuhan untuk memecahkan permasalahan elastisitas yang kompleks dan masalah analisis struktural di dalam bidang teknik sipil dan teknik aeronautika. Menurut Rudy, permasalahan yang sedang muncul di Indonesia, permasalahan ras, perebutan Irian Barat, industri pesawat terbang, semua adalah elemen-elemen kecil dari sebuah objek yang besar. Kita bisa membagi objek analisis ke dalam elemen-elemen kecil, membuat model sederhana yang berlaku untuk setiap elemen, membuat formulanya, kemudian keseluruhan objek kecil itu disatukan dan dicari solusi atau persamaan yang tepat untuk semuanya.
Selain sibuk dalam membagikan pengalaman belajarnya selama di Jerman, rupanya Rudy juga disibukkan dengan rencana-rencana Mami yang ingin agar putranya segera menikah. Rupanya pilihan Mami jatuh ke Ainun, calon dokter anak yang cerdas yang bisa mengimbangi putranya. Rudy awalnya ragu, namun begitu melihat Ainun dan berbincang dengannya, ia merasa menemukan kedamaian. Rudy telah menemukan partner yang seimbang. Ainun tertarik ketika Rudy bercerita tentang pendidikan S-3-nya dan proyek-proyek yang sedang dijalaninya. Pertanyaan Ainun selalu kritis dan berhubungan dengan hal-hal yang universal. Bahkan, termasuk budaya dan agama.
Tekad Rudy untuk merancang pesawat kembali menguat ketika menyaksikan Ainun frustasi saat bayi-bayi yang sudah coba ditolong sekuatnya akhirnya tak terselamatkan karena berbagai hal, terutama karena tidak adanya pasokan obat. Pada masa ini, Indonesia sedang berada dalam masa Demokrasi Terpimpin. Kampanye Perebutan Irian Barat dan Konfrontasi dengan Malaysia masih sengit-sengitnya. Harga-harga bahan pokok melambung tinggi, termasuk obat-obatan. Sikap agresif Sukarno terhadap negara-negara Barat membuat Indonesia susah mengimpor obat-obatan, selain tentu saja faktor ekonomi nasional yang tidak bagus. Waktu itu, sedang digalakkan obat-obatan tradisional dalam rangka kampanye Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Namun, banyak pasien yang gagal diselamatkan karena kekurangan obat.
“Menurut kamu, kalau kamu berhasil bikin pesawat, apa itu bisa membuat pasien rumah sakit ini berkurang atau anak-anak yang meninggal jadi berkurang?” Nada Ainun sangat serius, meski matanya tak memandang Rudy. “Ini kenyataan yang saya hadapi setiap hari, Rud. Apa pesawat kamu bisa bantu?”
“Pesawat saya akan menghubungkan dokter-dokter seperti kamu dengan anak-anak di seluruh Indonesia yang tak bisa ke RSCM. Kamu itu dokter, tetapi apa gunanya dokter kalau tidak bisa bertemu dengan pasiennya? Apa gunanya juga kalian semua ada di sini kalau distribusi obat terhambat? Pesawat saya bisa melakukannya. Bisa bantu kamu.” jawab Rudy yakin.
Ainun menatap Rudy, berusaha meyakinkan dirinya kalau kata-kata Rudy itu benar. Rudy berusaha membuat Ainun percaya dengan meraih tangannya. Erat dan kuat. Rudy dan Ainun menikah pada 12 Mei 1962 lalu mereka membangun hidup yang baru di Aachen. Rudy dan Keng Kie sama-sama tak menyangka bahwa pertemuan mereka di resepsi Rudy adalah bagian dari beberapa kali pertemuan terakhir mereka berdua di Indonesia.
Walaupun Keng Kie adalah salah seorang yang berjasa mendirikan fakultas Teknik Penerbangan di ITB dan sangat mencintai Indonesia, namun dia tak bisa terus mengabdi di Indonesia. Keng Kie pindah ke Amerika Serikat setelah dia dituduh jadi bagian dari PKI.
Keng Kie tidak menyadari bahwa institusi tempat dia mengajar (sekolah transisi untuk siswa Tionghoa dan Universitas Trisakti) didanai oleh Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki. Baperki dituduh sebagai anak organisasi Partai Komunis Indonesia oleh pemerintahan orde baru (Pemerintah ORBA).
Namun Rudy terus mengingat kesetiakawanan Keng Kie pada dirinya. Keng Kie adalah orang pertama yang dia undang secara resmi ke istana kepresidenan saat dia menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia Ketiga. Rudy percaya bahwa perbedaan agama, suku, ras, bahkan status warga negara tak akan cukup untuk memisahkan persahabatan mereka.
Inilah Rudy, kisah masa muda Sang Visioner yang berani dan mampu mengejar cita-cita demi bangsanya. Kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia. Kisah tentang kehilangan, tentang kecewa, tentang cinta, tentang bahagia dan duka yang beriringan, serta pencarian atas cinta sejatinya.
Tags :