Semangat Harkitnas, ICMI Minta Anak Bangsa Hentikan Saling Hujat dan Tebar Kebencian
Posted on Minggu, 21 Mei 2017 00:35 WIB
Jakarta, (ICMI Media) - ICMI mengimbau semua komponen anak bangsa kembali ke rujukan dasar keindonesiaan dan menghentikan sikap saling hujat serta benci antar sesama yang kini semakin marak melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie, SH, Jumat (19/5), kepada ICMI Media. Menurut Jimly, sekarang adalah waktunya lagi menumbuhkan rasa kekeluargaan dalam bingkai negara Indonesia.
"Karena itu Harkitnas harus menjadi momentum kepada kita semua untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan sebagai satu bangsa Indonesia," ujar Jimly.
ICMI menilai, akhir-akhir ini kondisi perpecahan sosial masyarakat Indonesia dengan saling hujat dan kebencian amat terasa sebab berawal dari kondisi politik Pilkada yang berlangsung.
Jimly menjelaskan, Pilkada yang seharusnya ajang memilih pemimpin terbaik untuk daerah, justru menjadi arena isu politik identitas antar pendukung secara telak, keras dan kasar sehingga merusak kerukunan hidup sosial berbangsa.
"Ini harus kita sadari, ada perkembangan yang merusak semangat kebangsaaan. Apalagi baru saja kasus Pilkada yang terkait dengan politik identitas secara telak, keras, dan kasar, sehingga berkecamuk menjadi faktor perusak kerukunan hidup berbangsa," tutur Jimly.
Oleh sebab itu melalui makna Harkitnas, ucap Jimly, ICMI sebagai organisasi yang mengusung misi keindonesiaan, kecendekiawanan dan keislaman mengajak semua kembali rukun bersatu membangun kembali kehidupan bernegara.
"Setelah kita mengalami proses Pilkada yang sudah selesai, jadikanlah Pilkada sebagai bahan evaluasi," kata Jimly.
Jimly juga menyatakan, di lingkungan internal umat Islam dan umat beragama lainnya, harus semakin meningkatkan kewaspadaan dari iklim adu domba. Jimly meminta, jangan hanya perbedaan sedikit langsung mengambil jarak dari kerukunan.
"Hal ini tanpa disadari telah memecah belah kita semua," ujar Jimly.
Menyangkut semangat Harkitnas 20 Mei, tutur Jimly, ICMI juga menyoroti pengaruh media sosial yang membuat semua orang bebas mengungkapkan pandangannya tanpa takut diketahui identitasnya. Kemudian akhirnya berpotensi menimbulkan pertentangan.
Akibatnya, tutur Jimly, semua orang bukan hanya saling hujat antar masyarakat, tetapi juga menghujat agama, bahkan Tuhan.
"Hal ini di media sosial banyak sekali. dan yang membaca langsung terpengaruh sehingga muncul budaya saling marah," ucap Jimly.
Jimly menyarankan, agar membaca apapun di media lalu diklarifikasi kepada yang bersangkutan. Jimly beranggapan, banyak orang kerap mengklaim tulisannya sendiri padahal adalah karya orang lain.*** (L/CH)
Tags :