Shamsi Ali: Selama Manusia Masih Bernafas, Ia Diberi Ruang Untuk Bertaubat
Posted on Senin, 6 Mar 2017 08:30 WIB
Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orsat New York, imam Shamsi Ali mengatakan, selama manusia masih menghirup oksigen kehidupan hendaknya tetap diberikan ruang untuk kembali atau bertaubat.
"Sebuah pelajaran besar dan penting, khususnya para ulama dan da'i, bahwa selama manusia masih menghirup oksigen kehidupan hendaknya tetap diberikan ruang untuk kembali (taubat). Jangan karena kesalahan, lalu cepat mengambil keputusan (qadha). Bukankah memang kita adalah "juru da'wah (ajakan) dan bukan hakim (qadhi)?, kata Shamsi Ali dalam sebuah isi khutbahnya.
Presiden Nusantara Foundation menyebutkan, sayang, tidak jarang para ustadz, alim ulama dan da'i mengedepankan "judgmental attitude (karakter penghakiman) bahkan wal-iyadzu billah cenderung cepat mengkafirkan, memunafikkan, atau minimal mengfasikkan sesama Muslim.
"Bahkan lebih sial ketika tuduhan kekafiran, kemunafikan atau kefasikan itu didasarkan kepada "ikhtilaf al-aaraa" (perbedaan pendapat) dalam masalah-masalah "furuu diniyah" (non ushuli) yang memang secara alami dibolehkan, bahkan terkadang didorong untuk hadirnya alternatif opini," katanya.
Menurutnya, sikap judgmental (menghakimi) ini menjadi salah satu faktor terpenting dalam perpecahan umat. Terkadang masalah sepele yang menjadi dipentingkan sehingga masalah mendasar dalam kehidupan umat terabaikan.
"Hal pertama yang harus kita ingat bahwa kehidupan itu semua sudah tertata dalam keseimbangan yang kokoh: "wassamaa rafa'aha wawadho'al mizaan". Maka seluruh sisi kehidupan itu saling seimbang antara satu dan lainnya," ucap Shamsi Ali.
"Makan misalnya sudah diatur keseimbangannya. Tidur juga demikian. Antara tuntutan kehidupan materi sudah diatur sedemikian teratur sehingga tetap seimbanh dengan tuntutan kehidupan spiritual. Keduanya memerlukan keseimbangan dan tidak harus bertabrakan atau diperselisihkan," tambahnya.
Dikatakan, oleh karena Islam adalah agama kehidupan (diin al-hayaah) maka sisi-sisi ajaran Islam itu harus imbang (tawazun). Maka semua sisi ajaran Islam itu saling mengimbangi terhadap sisi lainnya. Perintah mencari rezeki yang halal terkadang harus ditinggalkan demi kebutuhan spiritual "wa dzarul bae'" (tinggalkan jual beli untuk datang ke sholat jumat).
"Sebaliknya ketika pemenuhan kebutuhan spiritual telah dipenuhi maka tinggalkan masjid menuju kepada perjuangan memenuhi keperluan material duniawi kita: "fa idza qudhiyatis sholah fantasyiru fil ardh"," ujarnya. *** (L/CH)
Tags :