Sholat Jum‘at Bagi Perempuan Perspektif Hadis
Posted on Sabtu, 17 Okt 2015 07:01 WIB
Oleh: Fasjud Syukroni, Mahasiswa S2 Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan ini membahas tentang hukum sholat jum’at (jum’atan) bagi perempuan untuk dikaji dengan nuansa lebih ke kajian hadis. Tujuan dari pembahasan mengenai kajian hadis tematik ini adalah, memahami apa yang menjadi dasar pelaksanaan shalat jum’at, apa hukum pelaksanaan shalat jum‘at bagi perempuan, dan hikmah apa dibalik ketentuan hukum tersebut, serta yang paling urgen adalah menjawab pertanyaan krusial, yaitu sebagaimana sudah diketahui oleh kebanyakan umat Islam bahwasanya syarat melaksanakan sholat jum’at adalah harus laki-laki, oleh karenanya perempuan tidak diwajibkan, akan tetapi sah kah jika ia sholat jum’at sebagai pengganti zhuhur, dan mana yang lebih utama bagi perempuan, apatah sholat jum’at berjama’ah di masjid, atau sholat zhuhur di rumah.
Mengapa penulis memilih mambahas hadis tematik ibadah yang berkenaan dengan sholat jum’at bagi perempuan? Jawabnya adalah, karena sangat menarik dikaji, sebab seakan- akan ada dalil syara‘ dari al-Qur’an dan Hadis yang saling kontradiksi. Misalnya saja, dari QS. Adzariyat: 56 dan QS. Al-Bayyinah: 5 dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun perempuan, dan seluruhnya. Lantas bagaimana dengan shalat jum’at? Bukankah perintah shalat jum’at menurut ayat al-Qur’an adalah wajib, sebagaimana QS. al-Jumu‘ah: 9. Tapi, apakah perintah melaksanakan jum‘atan tersebut adalah mutlak, atau kah terqayyidi wajib bagi kaum pria saja, sebagaimana Hadis riwayat Abu Dawud dari Thariq bin Syihab, dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Jum‘at itu wajib atas setiap Muslim dengan berjama‘ah, kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.”, dan Hadis Rasul yang menyatakan sebaik-baiknya perempuan adalah yang melakukan shalat di rumah. Lantas apakah ada ketidaksesuaian antara al-Qur’an dengan Hadis Rasul terkait shalat jum’at bagi perempuan?
Sebagai titik berangkat pengkajian hukum menghadiri sholat jum’at bagi perempuan, penulis beranjak dari dua (2) buah Hadis, yang keduanya dirasa penulis penting untuk ditampilkan, yaitu sebagai berikut :
1.Kitab Hadis Muslim NO. 1442, Bab” ????? ?????? ???????“
Hadis Riwayat Ummi Hisyam bint Harisah bin al-Nu’man dalam Kitab Shahih Muslim: Tentang Perempuan yang Menghadiri Shalat Jum’at di Zaman Rasulullah
? ?????????? ??????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ???????????? ???? ?????? ?????????? ????? ???? ????????? ???? ???????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???? ????? ?????? ???? ????????? ???? ??????? ???? ?????? ??????????????? ???? ??????? ???? ?????? ??????? ???? ?????? ??????????? ???? ?????? ???? ????????? ???? ????? ??????? ?????? ????????? ???? ???????????? ??????? ?????? ????? ??????????? ?????????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ?????????? ???? ?????? ???????? ?????? ????? ???????? ? ???????????? ?????????? ?????? ???? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ????? ?????? ???????? ????? ??????????? ????? ?????? ????????
Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami ‘Amru al-Naqid telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm Al- Anshari dari Yahya bin Abdillah bin Abdirrahman bin Sa'd bin Zurarah dari Ummi Hisyam binti Harisah bin Nu'man ia berkata, "Tempat pembuatan roti kami dan tempat pembuatan roti Rasulullah SAW. adalah sama selama dua atau satu tahun lebih, dan tidaklah saya menghafal surat 'QAF WA AL-QUR’AN AL-MAJID' kecuali dari lisan Rasulullah SAW., beliau membacanya pada setiap hari Jum'at di atas mimbar saat beliau menyampaikan khutbah kepada manusia."
2.Kitab Hadis Abu Daud NO. 901, BAB “ ?????? ??????? ???????”
Hadis Riwayat Thariq bin Syihab dalam Kitab Sunan Abu Dawud:
Tentang Tidak diwajibkannya Sholat Jum’at Bagi Perempuan
?????????? ???????? ???? ?????? ?????????? ?????????? ???????? ???? ????????? ?????????? ???????? ???? ???????????? ???? ????????? ???? ????????????? ???? ?????? ???? ???????? ???? ??????? ???? ??????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????????? ????? ??????? ????? ????? ???????? ??? ????????? ?????? ?????????? ?????? ????????? ???? ????????? ???? ??????? ???? ??????? ????? ????? ?????? ??????? ???? ??????? ???? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???????? ?????? ???????
Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abbas bin 'Abd al-'Azhim telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Huraim dari Ibrahim bin Muhammad al-Muntasyir dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab dari Nabi SAW. beliau bersabda; "Jum'at itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjama'ah, kecuali empat golongan, yaitu; hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit." Abu Dawud berkata; "Thariq bin Ziyad pernah melihat (hidup semasa) Nabi SAW., namun dirinya tidak mendengar sesuatu pun dari beliau.”
Telah menjadi kesepakatan bersama bahwasanya, laki-laki adalah salah satu syarat wajib menghadiri sholat jum’at, oleh karenanya para perempuan tidak diwajibkan menghadiri sholat jum’at, sebagaimana Hadis riwayat Thariq bin Syihab. Akan tetapi sah sholat jum’atnya sebagai pengganti zhuhur apabila para perempuan melakukakknya.
Lalu pertanyaannya adalah, manakah yang lebih utama bagi perempuan, untuk menghadiri sholat jum’at di masjid atau sholat zhuhur di rumah? Jawaban mengenai persoalan ini adalah tafshil.
Menurut mazhab Hanafiyah: sebaiknya perempuan - baik tua maupun muda - sholat dhuhur saja di rumah, dikarenakan konsep sholat berjama'ah tidak ditekankan bagi kaum perempuan.
Menurut mazhab Malikiyah: Jika perempuan itu sudah sepuh/tua maka tidak ada kewajiban mendatangi jum'ah, untuk perempuan muda tidak diperbolehkan mendatangi jum'ah apabila menjadikannya sebab fitnah baik di jalan maupun di masjid nantinya.
Menurut mazhab Hanabilah: perempuan dibolehkan menghadiri sholat jum'at dengan syarat tidak berhias, jika berhias maka tidak dibolehkan mendatangi jum'ayan secara mutlak.
Sedangkan, bagi mazhab Syafi'iyah: seorang perempuan yang masih muda lagi ABG hendak mendatangi jum'atan dihukumi makruh meskipun ia berpakaian santun dan tidak berhias berlebihan, begitu juga dihukumi makruh bagi perempuan yang sudah bisa mengontrol rasa seksualitasnya namun berpakaian dengan menggunakan wewangian dan berhias berlebihan. Jika perempuan itu sudah lanjut usia menggunakan pakaian santun dengan tidak berhias dan menggunakan parfum, serta tidak ada laki-laki yang menjadi sasaran perhatiannya, maka dibolehkan mendatangi jum'atan, itu pun harus memenuhi dua syarat, yaitu pertama, mendapatkan izin dari walinya (berlaku bagi perempuan muda juga), jika tidak maka tidak boleh mendatangi jum'atan. Kedua, kedatangannya dalam jum'tan tidak menimbulkan fitnah, baik di jalan maeupun di masjid. Pendapat-pendapat tersebut penulis kutip dari buku ‘Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003), cet. 2, h. 349.
Setelah melakukan studi tematik dalam kajian Hadis sholat jum‘at bagi perempuan ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a) Hadis-hadis tersebut, telah memenuhi kaidah ke-shahih-an Hadis, dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
b) Hukum asal sholat jum’at adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim mukallaf sebagaimana QS. Al-Jum’ah: 9, Hadis riwayat Hafshah, Hadis riwayat Abu al-Ja’d al-Dhamri, Zaid bin Sabit, dan Hadis riwayat Ibn Mas’ud, kecuali orang-orang yang diperkecualikan oleh dalil syara’ lain seperti yang terdapat dalam Hadis riwayat Thariq bin Syihab. Dan tetap sah jika seorang perempuan sholat jum’at sebagai pengganti zhuhur, sebagaimana Hadis riwayat Ummi Hisyam bint Harisah bin al-Nu’man.
Selanjutnya, mana yang lebih utama bagi perempuan, apakah sholat jum’at berjama’ah di masjid, atau sholat zhuhur di rumah? Pertanyaan seperti ini jawabannya sudah ada dalam pendapat Fuqaha' dalam bukunya ‘Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah di atas.
Oleh: Fasjud Syukroni, Mahasiswa S2 Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tags :