Home / Media / Siaran Pers / Tafsir Surat Alhumazah Larangan Menghujat Dan Mencela

Tafsir Surat Al-Humazah: Larangan Menghujat Dan Mencela


Posted on Rabu, 4 Nov 2015 05:50 WIB


Tafsir Surat Al-Humazah: Larangan Menghujat Dan Mencela

Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media

(ICMI Media) - Surat Edaran (SE) Kapolri tentang hukuman bagi para penebar kebencian dengan ujaran-ujaran yang dianggap menimbulkan rasa tak senang dan perusakan nama baik seseorang sedang menjad buah bibir dan kontroversi di masyarakat. Ada yang mendukung, namun banyak juga yang was-was karena khawatir kebebasan mereka akan terkekang akibat SE tersebut.

Ternyata, Al-Quran sudah terlebih dahulu mengatur perihal yang melarang ujaran kebencian dalam Surat Al-Humazah. Menurut al-Thabari, berdasarkan riwayat Mujahid, term humazah memiliki arti al-ththa‘an (pengumpat), sedangkan term lumazah berarti orang yang suka memakan daging manusia, makna tersebut adalah makna metafora, yang bisa diartikan sebagai orang yang suka menghujat temannya, abai, tidak menghormati dan merendahkannya.

Pada kesempatan yang lain, makna tersebut bisa saja ditukar.
Humazah diartikan orang yang suka memakan daging manusia, dan lumazah diartikan pengumpat atau pemfitnah. Pendapat tersebut juga didukung riwayat Qatadah. Ada juga pendapat yang mengartikan humazah sebagai tindakan yang menyakiti orang lain, baik dengan tangannya, lisannya.

Sedangkan
lumazah, diartikan sebagai tindakan memfitnah dan mencela yang membuat orang lain sakit.  Ayat tersebut disinyalir oleh al-Thabari merespon tindakan orang-orang musyrik yang melakukan hamaza (tindakan tidak menghormati) dan lamaza (memfitnah). Orang musyrik tersebut ada yang mengatakan bernama, Jamil bin ‘Amir al-Juma‘i, ada yang mengatakan; al-Akhnas bin Syariq.

Namun, hemat penulis, ayat tersebut tidak hanya dikhususkan untuk orang yang didefinitkan pada peristiwa masa lalu itu. Karena sejatinya, ayat tersebut membicarakan kebiasaan-kebiasaan buruk manusia yang harus dihindari. Informasi dari ayat tersebut sangat layak untuk dijadikan perenungan kita bersama sebagai orang Muslim yang sedang meniti menuju jalan-Nya, demi menggapai kebahagiaan terbesar dan sejati.


Menurut penulis, untuk ayat-ayat selanjutnya, bersifat implikasi dan relevansi dari setiap orang yang memiliki karakter humazah dan lumazah. Karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan realitas pergerakan sejarah manusia, sejak dulu sampai datangnya hari kiamat.

Ketika orang tersebut berkarakter manusia yang bertakwa, maka kehidupannya akan mendapatkan ketenangan, kenyamanan, kedamaian, dan kebahagiaan. Hal tersebut sesuai dan sudah menjadi janji Tuhan di dalam firman-Nya, baik yang sudah tertulis di dalam Mushaf, maupun yang berada di dalam realitas kehiduan nyata ini.

Oleh karenanya, setiap manusia yang memiliki karakter tidak terpuji, seperti humazah dan lumazah. Maka, biasanya bisa dipastikan orang tersebut, orientasi yang ada di dalam jiwanya hanyalah mengejar kepuasan duniawi yang tiada batasnya tersebut, yang sejatinya, kehidupan duniawi tersebut hanya bersifat fasilitasi dari Tuhan untuk digunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, yang sejatinya sebagai wakil Tuhan di alam semesta ini.

Orang yang tidak memiliki etika terpuji sebagaimana QS. Al-Humazah: 1, jiwanya selain pendemdam, tidak ramah, penghujat adalah, kikir, dalam arti suka dan senang melihat manusia lain atau sesamanya sengsara. Yang dikritik oleh ayat ini sejatinya orang yang sudah berkecukupan, namun enggan menafkahkan hartanya demi kemaslahatan sesama manusia.

Keengganan dan ketidakmauannya itu didasarkan atas pemahaman, bahwa hartanya lah yang akan membahagiakannya, memberinya kecukupan, ketenangan, kebahagian, dan kekalan terhadap makna tenang, cukup, dan bahagia tersebut. Padahal, tidaklah seperti itu, prinsip hidup yang seperti itu diluruskan bahkan dibantah dengan ayat selanjutnya, yaitu ayat 4 dari QS. Al-Humazah. Sejatinya, ketakwaan kepada Tuhan lah yang membuat manusia senantiasa bakal dan tetap berkecukupan, tenang, dan bahagia. Hal ini senada dengan QS. Al-Hujurat: 13.

Selanjutnya, QS, al-Humazah ayat 5-9 sedang membicarakan betapa tidak enaknya kehidupan orang yang memiliki karakter yang disebut pada QS. Al-Humazah ayat 1-3. Selamat mentabligi diri kita masing-masing! Semoga Allah memberikan diri kita kekuatan untuk merubah sikap jelek pribadi kita untuk menjadi pribadi yang Islam, Iman dan Ihsan. Sungguh segala firman-Nya benar dan pasti benar, sesuai dengan realitas objektif kehidupan ini.

Oleh: Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Kandidat Master Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta


Tags :





Detail side

Media Terpopuler