Posted on Kamis, 20 Ags 2015 02:50 WIB
Ini bagian dari ijtihad ulama kita untuk memudahkan umat
Selain itu, sebelum dilakukan penyelenggaran mukernas ini, ia juga sempat berkunjung terlebih dahulu ke para ulama Alquran di Jawa Tengah, seperti Kudus salah satunya.
Di Kudus, ia bertemu Kyai Sya'roni Ahmadi. Ia menjelaskan, dari hasil pertemuannya dengan ulama tersebut, Sya'roni mengatakan jika memang mau kembali ke mushaf dengan penulisan Utsmani, maka harakat dalam Alquran Indonesia yang sekarang itu harus dihilangkan.
"Itu gaya beliau. Karena itu, saat itu (1972-84) merupakan hasil ijtihad para ulama Alquran kita," ujar dia.
Menurut dia, hasil ijtihad para ulama itu untuk memudahkan masyarakat untuk mempelajari Alquran dengan memperhatikan kearifan lokal di daerah-daerah di Indonesia. "Ini bagian dari ijtihad ulama kita untuk memudahkan umat. Maknanya tidak berubah, semuanya dimungkinkan," kata dia.
Jika beberapa kalangan masyarakat membaca mushaf Alquran yang dari Arab Saudi, kata Muchlis, tentu mereka akan kesulitan karena harakat atau tanda bacanya pun tidak ada. "Ini pasti berat bagi mereka, kecuali bagi orang yang terdidik, makanya ini bentuk kearifan lokal ulama kita pada mukernas 1984 itu," tutur dia.
Melalui mukernas tahun ini, ada kemungkinan pihaknya akan melakukan kembali pengkajian secara akademik terhadap mushaf Indonesia yang sekarang. Pengkajian ini untuk mengetahui kembali pilihan-pilihan yang dulu pernah diajukan oleh ulama-ulama saat itu.
Di beberapa negara, lanjut dia, memang banyak yang memiliki konsisten. Misalnya, suatu negara itu ada yang memilih ke satu mazhab, seperti Ad-Dakni misalnya. "Lalu yang ini ke Abu Dawud. Tapi kita ini tidak konsisten, kadang ke sini kadang ke situ, nah ini mungkin yang perlu kita tinjau lagi, konsistensi mana yang kita pilih dalam pedoman jadi acuan ini," kata dia.***Ilmawan/R1
Sumber: Republika Online