Home / Media / Siaran Pers / The Forgotten Sunnah Arrafah Lembut

The Forgotten Sunnah: Ar-Ra'fah (Lembut)


Posted on Jumat, 18 Sep 2015 10:55 WIB


The Forgotten Sunnah: Ar-Ra'fah (Lembut)

Oleh: Imam Shamsi Ali)*

Oleh: Imam Shamsi Ali)*

Salah satu sifat Rasul yang diabadikan dalam Al-qur'an adalah "ar-ra'fah" (kelembutan beliau). Ada dua sifat Rasul yang memakai kata yang sama dengan sifat Allah tapi secara fundamental secara substansi berbeda. Yaitu "rauufun - rahiim" (lembut dan penyayang).

Begitu pentingnya sifat itu menjadikan ayat itu menggandeng seolah rasul itu datang dengan tamak untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi umat, tapi tetap dalam batas-batas kelembutan dan kasih sayangnya. Artinya keinginan rasul untuk umat ini sukses dunai-akhirat disampaikan atau didemonstrasikan dengan cara-cara lembut dan penuh kasih sayang.

Kelembutan beliau terpantul dalam setiap detak pergerakan hidupnya. Lembut dalam kata-kata, lembut pada rawut wajahnya, lembut dalam gerak gerik dan perbuatannya. Bahkan beliau sendiri mengatakan: "Tidaklah hilang kelembutan dari sesuatu kecuali sesuatu itu berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan".

Kelembutan beliau dalam kehidupannya terlihat pada sisi-sisi kehidupan keluarganya. "Sebaik-baik di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya. Dan saya yang terbaik kepada keluarganya di antara kalian". Bahkan secara secara khusus beliau menasehatkan: "salinglah mengingatkan untuk selalu baik kepada kaum wanita".

Kelembutan beliau menjadikan anak-anak di kota Madinah begitu dekat. Beliau bukan saja pemimpin di Madinah. Tapi beliau ada utusan Raja dan Pemilik bumi dan langit. Tapi tidak jarang anak-anak mengelilingi beliau, seolah teman main mereka. Cucu beliau, Hasan dan Husain, kerap kali bergelantungan di saat beliau sedang sujud menyembah Tuhannya.

Demikian pula para sahabat dan pengikutnya. Mereka tidak pernah canggung-canggung untuk berbicara, bertanya, bahkan bersenda gurau dengan beliau. Dan tidak jarang beliau juga membalas gurauan sahabatnya dengan gurauan yang lebih baik dan bermanfaat.

Seorang wanita tua datang menghadap beliau, ingin memastikan apakah orang yang seperti beliau itu layak berada di syurga. Dengan penuh lembut beliau tersenyum kepada sang nenek dan bercanda: "nek, di syurga itu tidak ada perempuan tua seperti nenek". Mendengar itu sang nenek sedih, menangis dan meninggalkan beliau. Rasulullah kemudian ketawa dan memanngil beliau dan menyampaikan: "memang tidak ada nenek-nenek di syurga. Karena semua nenek akan kembali menjadi muda dan cantik".

Itu hanya sekelumit contoh ketauladanan beliau dalam menyikapi segala sesuatu dengan kelembutan. Bahkan beliau secara khusus diingatkan dalam Al-qur'an: "kalai seandainya kamu kasar lagi keras hati niscaya mereka akan berlari darimu". Artinya, jangan kasar dan kasat karakter. Bangunkah simpati dengan menampilkan kelembutan kepada mereka.

Ketauladanan Rasul ini menjadi sangat krusial ketika umat ini sedang dipersepsikan sebagai umat yang keras, marah dan tahunya berperang. Masanya stigma ini dibalik, bukan dengan retorika dan pengakuan. Tapi dengan realita hidup sehari-hari.

Kelembutan dalam kata dan sikap ternyata juga kunci kesuksesan dalam dakwah. Dengan kelembutan dan kasih sayang, hati yang keras mampu tertaklukan.

Masih ingat sebuah kejadian lucu pasca 9/11 di kota New York. Ketika itu saya diminta untuk menjadi salah seorang Imam di Islamic Center of New York. Salah satu tugas utama saya adalah media, hubungan dengan pemerintah dan law enforcement (keamanan), serta menata kembali program-program Islamic center, khususnya di bidang dakwah. Di bidang dakwah, salah satunya, saya membuka kelas khusus tentang Islam untuk non Muslim yang saya namai Islamic forum for non Muslims.

Di suatu hari datang ke kelas itu seorang pria putih, berbadan besar dengan suara yang keras. Dia hadir tidak untuk belajar atau bahkan duduk di kelas. Tapi untuk melampiaskan kemarahan seraya mencaci maki rasulullah SAW. Dianggapnya Muhammad SAW telah membawa ajaran yang dalam bahasa dia "terror" dan "poison to humanity"

Melihat itu saya cukup tersinggung. Ego saya mulai merambah ke ubung-ubung kepala ini. Hampir saja saya merespon dengan kata-kata kasar. Tiba-tiba saja saya teringat baginda Rasul. Seolah saya berimajinasi kalau saat itu Rasulullah SAW berdiri di pintu itu. Lalu saya melihat beliau justeru tersenyum san berterima kasih kepada orang itu.

Kenapa saya berimajinasi demikian? Karena Rasul taat kepada perintah Tuhannya: "lakukan pembelaan dengan cara yang lebih baik" (idfa' billati hiya ahsan).

Orang itu kemudian pergi tanpa pamit. Tapi saya panggil: "sir, can I just shake your hand"? Dia berhenti dan sayapun mendekat seraya tersenyum mengulurkan tangan. Dia menyambut tangan saya lalu terjadilah jabatan tangan itu. Diapun pergi tanpa sepata kata pun.

Mingggu depannya ternyata orang itu datang lagi. Sayay justeru tidak tahan dan bertanya: "what really makes you return"?

Dia nampak lebih tenang bahkan tersenyum dan menjawab: "dalam beberapa hari terakhir saya tidak bisa tidur".

Kenapa? tanya saya. "Karena minggu lalu saya datang dengan persepsi bahwa orang Islam itu tahunya marah dan berkelahi. Saya datang dengan kemarahan dan caci maki, tapi kamu masih tersenyum dan berjabat tangan".

"Truly, I have been feeling guilty. And I am sorry about it".

Singkat cerita teman ini belajar Islam sekitar 6 bulan dan pada akhirnya harus mengakui bahwa Islam adalah agama yang bisa menjadikannya manusia yang lebih baik. Diapun mengikrarkan syahadat.

Poin dari cerita ini adalah bahwa bersikap lembut di atas kasih sayang itu bukan kelemahan. Tapi kekuatan yang dahsyat yang mampu menaklukkan apa yang pasukan negara adidaya tidak mampu taklukkan. Menembus apa yang jarum tidak mampu tembus. Itulah jati nunari manusia.

Di sinilah para da'i kita seharusnya belajar membangun karakter "kelembutan" (ar-ra'fah) ini. Jangan sampai karena karakter kasar, baik dalam kata dan sikap, menjadikan dakwah tidak lagi ajakan. Tapi justeru menjadi ajang pengusiran. Mereka yang diajak bukannya datang mendekat. Tapi berlari semakin menjauh.

)* Imam Masjid Al-Hikmah dan Ketua ICMI Orsat New York


Tags :





Detail side

Media Terpopuler