Posted on Rabu, 6 Mei 2015 04:18 WIB
Mer-C dan Wanadri berhasil masuk dan memberikan bantuan medis di salah satu daerah gempa terparah, Sindhupalcowk.
Kathmandu, (ICMI Media) –Lembaga kemanusiaan internasional asal Indonesia yang terdiri atas Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (WANADRI) dalam misi pertama bantuan bencana gempa bumi Nepal, Rabu (6/5), berhasil masuk dan memberikan bantuan medis di salah satu daerah gempa terparah, Sindhupalcowk.
Tim yang dikoordinatori Ketua Tim Medis MER-C dr. Hadiki Habib, bersama Islamiyah Samaun dan Rita Tambunan akan menemui Kepala Rumah Sakit Kanthipur dr. Budhi Man untuk berkoordinasi agar dapat segera melakukan aktivitas medis di Sindhupalcowk.
Menurut Ketua Ketua Tim Pertama MER-C WANADRI, Saleh Soedrajat, keberangkatan tim didasarkan pada laporan Viktor, anggota tim BNPB bagian Disaster Relief Plan (DRP), yang menyatakan banyak korban di wilayah Sindhupalcowk, timur laut Kathmandu, biasanya ditempuh dalam waktu sekitar lima jam perjalanan darat, membutuhkan perawatan dokter.
“Jika terpaksa tim negosiator tidak mendapat akses ke Sindhupalcowk, maka tim akan meluncur ke Gorkha, barat laut Kathmandu yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar enam jam perjalanan darat, untuk melakukan aktifitas medis di sana,” kata Saleh kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Nepal, rumah sakit darurat di Distrik Satungal, tiga jam perjalanan darat dari Kathmandu, sudah beroperasi Selasa (5/5).
Rencananya, RS darurat itu akan beroperasi efektif selama tiga bulan mengingat banyaknya korban di wilayah itu.
Beroperasi di radius seluas 15 kilometer, rumah sakit lapangan ini berada di area tempat 30.000 jiwa berdomisili. Di rumah sakit itu, selain layanan operasi tulang, juga ada layanan medis umum.
Dia menjelaskan, sebelumnya, tim yang bergerak ke Distrik Dunche Selasa kemarin ditarik kembali ke Kathmandu karena wilayah tersebut berada dalam pengawasan dan kontrol tim tentara dari Nepal.
Di sana juga terdapat Rumah Sakit Militer dan fasilitas helikopter untuk evakuasi korban-korban yang kondisinya parah ke Kathmandu.
Tim sebenarnya sudah melakukan aktivitas pengobatan mobile (mobile clinic) di beberapa tempat, namun dilarang oleh tentara di sana.
“Mereka mensyaratkan jika ingin melakukan aktivitas medis di tempat itu harus mendapat izin terlebih dahulu dari Departemen Kesehatan Nepal,” ujar Saleh.
Sementara tim kedua MER-C WANADRI yang melakukan penilaian kebutuhan (assesment) di wilayah selatan Kathmandu (Bakhtapur, Lalipur dan Bongmati), melaporkan, keperluan mendesak untuk beberapa titik penampungan adalah kurangnya air bersih, kurangnya toilet dan pembuangan limbah dan sanitasi.
“Dikhawatirkan jika masalah ini tidak segera teratasi akan timbul wabah penyakit diare di masyarakat,” tegasnya.
Sumber : Mi’raj Islamic News Agency (MINA)