Home / Media / Siaran Pers / Tokoh Icmi Gagas Konstitusi Sosial

Tokoh ICMI Gagas Konstitusi Sosial


Posted on Kamis, 17 Sep 2015 12:52 WIB


Tokoh ICMI Gagas Konstitusi Sosial

Ini gagasan yang tak akan mudah ditemukan di negara lain

Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Dewan Penasehat ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), Prof. Dr. Jimly Ashiddiqie, menggagas pemikiran mengenai "Konstitusi Sosial", yang menjadikan konstitusi selain batasan bagi negara juga sebagai sumber inspirasi dan pencerahan bangsa.

Gagasan itu terungkap dalam sebuah acara bedah buku karya ke-45 Jimly, berjudul "Gagasan Kontitusi Sosial", pada Kamis siang, (17/9) di Universtas al-Azhar, Jakarta.

Hadir sebagai pembahas, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Dr. Hamdan Zoelfa, SH., MM, yang mendukung pendapat Jimly dalam buku tersebut, yaitu agar konstitusi hadir sebagai pencerah. 

"Konstitusi itu memang harus jadi pencerah dan pembebas, agar bangsa ini semakin tumbuh dan berkembang," ungkap Hamdan Zoelfa.

Sementara itu, pembahas lainnya, Dr. Suparji, SH.,MM mengatakan sependapat dengan gagasan Jimly dalam buku tersebut soal membangun negara dengan etika.

"Saya setuju, bahwa negara memang harus dibangun atas dasar etika. Karena itu, harus dibangun pemikiran bagaimana bentuknya etika nasional Indonesia secara khusus," ujar Suparji.

Menurutnya, demokrasi yang benar adalah demokrasi yang mengedepankan nilai-nilai etika.

"Demokrasi liberal saat ini, saya melihatnya lebih kepada demokrasi "Wani Piro". Demokrasi yang berpihak pada mereka yang berani tampil di televisi dan media," tegas Suparji.

Senada dengan hal itu, seorang Pengurus ICMI Pusat, Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, mengungkapkan ketertarikannya atas gagasan penulis buku itu.

"Buku ini menarik, berisi gagasan bagaimana menguatkan peran negara melalui konstitusi masyarakat madani, bukan saja pada aturan politik, melainkan juga sosial dan ekonomi," ujar Mukhlis yang duduk sebagai Ketua Bidang Kominfo ICMI.

Menurutnya, gagasan Jimly terhadap masyarakat yang terorganisir atau madani sebagai modal berbangsa itu unik. "Ini gagasan yang tak akan mudah ditemukan di negara lain," ungkap Mukhlis. *** Imam/R1


Tags :





Detail side

Media Terpopuler