Home / Opini Dan Tokoh / Tokoh / Muhammad Shamsi Ali

Muhammad Shamsi Ali


Posted on Senin, 25 Jan 2016 09:48 WIB


imam-shamsi-ali-_150907093043-315.jpg

"Kita harus meyakinkan jika Islam itu bukan sumber konflik, bukan sumber peperangan, terorisme, tetapi sumber pertemanan, persahabatan, dan kerja sama,"

Islam usai tragedi 11 September 2001 seolah menjadi agama paling dibenci. Berbagai serangan teroris selalu diidentikan dengan agama yang dibawa oleh Muhammad ini.
Meski begitu beberapa warga Muslim berusaha menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya, yang ramah, bersahabat, dan damai. Tantangan kala itu tidaklah mudah, sebab serangan dan stigma terhadap Islam semakin meningkat seiring informasi yang beredar di media massa Barat.
Seorang pria kelahiran Bulukumba, 5 Oktober 1967 bernama Muhammad Shamsi Ali berusaha mendobrak stigma itu. Perlahan tapi pasti usahanya untuk membawa pesan damai Islam direspon dunia Barat, khususnya bagi warga Amerika Serikat (AS).
Membuka Dialog Lintas Agama
Imam Shamsi Ali tak hanya berdakwah. Dia juga membuka dialog dengan berbagai komunitas keagamaan, bertukar pikiran, dan membangun kerjasama. Di sisi lainnya, dia tak jarang melontarkan kritik untuk agama yang dianutnya.
"Ya kesalahpahaman mengenai Islam itu memang telah lama terjadi. Islam itu keras, Islam itu terbelakangan, Islam itu tidak menghargai wanita, pandangan itu telah lama terjadi," tutur Shamsi yang dikutip dari hasil wawancaranya dengan Dream.co.id, Minggu, (24/01).
Ketika terjadi peristiwa 11 September itu yang menjadi klimaks atau boleh dikata puncak dari kesalahpahaman orang Amerika terhadap Islam. Menanggapi hal itu, Shamsi dan teman-temannya mencoba merangkul pimpinan agama lain untuk berdialog dengan mereka.
"Saya misalnya aktif dalam gerakan dialog antarpemeluk agama supaya bisa menjamin kesepahaman. Kami kemudian juga membentuk partnership of faith atau kerja sama antarpemeluk agama di New York. Kami juga membentuk koalisi antarpimpinan agama dunia juga. Tujuannya adalah mengurangi rasa takut," katanya.
Dialog lintas agama yang dibangun itu bertujuan untuk membangun trust, rasa percaya diri bahwa Islam dan umat Islam tidak berbahaya.
"Kita harus meyakinkan jika Islam itu bukan sumber konflik, bukan sumber peperangan, terorisme, tetapi sumber pertemanan, persahabatan, dan kerja sama," tegasnya.
Mengubah Metode Dakwah
Dalam menyampaikan dakwah di AS yang notabene penduduknya rata-rata dari orang yang berpendidikan membuat Shamsi mencari metode yang tepat supaya bisa diterima oleh orang Amerika.
"Islam itu tidak bisa sekedar dilihat sebagai koalisi, namun bagian integral dari AS. Kita (Muslim) bukanlah orang lain, kita bagian dari AS. Itulah yang selalu saya sarankan kepada teman-teman Muslim di sana agar menjadi bagian dari AS. Sebab, dengan menjadi bagian dari AS kita akan merasa memiliki AS. Dengan merasa memiliki AS, kita dapat menjadikan AS lebih baik,"tuturnya.
Dan kehadiran komunitas Muslim di AS memberikan kontribusi positif untuk lebih maju, lebih bebas, lebih baik, dan bukan sebagai ancaman.
Selain itu, lanjut Shamsi, ia dan teman-teman di komunitas muslim sering saling kunjungi untuk menciptakan hubungan emosional dan keakraban dengan komunitas non muslim.
"Tahun 2005, kami berkesempatan mempertemukan Imam dan para Rabi se-AS, dengan program bernama Weekend of Twinnings. Di mana Masjid dan Sinagog bersatu,"katanya.
Di bulan November 2015 lalu,  komunitas Muslim Nusantara Foundation bersama beberapa lembaga Yahudi, memberikan makanan kepada para tuna wisma di New York.
"Nah, saya rasa penting bagi para ulama-ulama sekarang untuk membuka wawasan yang lebih luas. Wawasan yang luas itu terbuka dengan mencari pengalaman yang lain," ucapnya.Islam usai tragedi 11 September 2001 seolah menjadi agama paling dibenci. Berbagai serangan teroris selalu diidentikan dengan agama yang dibawa oleh Muhammad ini.
Meski begitu beberapa warga Muslim berusaha menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya, yang ramah, bersahabat, dan damai. Tantangan kala itu tidaklah mudah, sebab serangan dan stigma terhadap Islam semakin meningkat seiring informasi yang beredar di media massa Barat.
Seorang pria kelahiran Bulukumba, 5 Oktober 1967 bernama Muhammad Shamsi Ali berusaha mendobrak stigma itu. Perlahan tapi pasti usahanya untuk membawa pesan damai Islam direspon dunia Barat, khususnya bagi warga Amerika Serikat (AS).
Membuka Dialog Lintas Agama
Imam Shamsi Ali tak hanya berdakwah. Dia juga membuka dialog dengan berbagai komunitas keagamaan, bertukar pikiran, dan membangun kerjasama. Di sisi lainnya, dia tak jarang melontarkan kritik untuk agama yang dianutnya.
"Ya kesalahpahaman mengenai Islam itu memang telah lama terjadi. Islam itu keras, Islam itu terbelakangan, Islam itu tidak menghargai wanita, pandangan itu telah lama terjadi," tutur Shamsi yang dikutip dari hasil wawancaranya dengan Dream.co.id, Minggu, (24/01).
Ketika terjadi peristiwa 11 September itu yang menjadi klimaks atau boleh dikata puncak dari kesalahpahaman orang Amerika terhadap Islam. Menanggapi hal itu, Shamsi dan teman-temannya mencoba merangkul pimpinan agama lain untuk berdialog dengan mereka.
"Saya misalnya aktif dalam gerakan dialog antarpemeluk agama supaya bisa menjamin kesepahaman. Kami kemudian juga membentuk partnership of faith atau kerja sama antarpemeluk agama di New York. Kami juga membentuk koalisi antarpimpinan agama dunia juga. Tujuannya adalah mengurangi rasa takut," katanya.
Dialog lintas agama yang dibangun itu bertujuan untuk membangun trust, rasa percaya diri bahwa Islam dan umat Islam tidak berbahaya.
"Kita harus meyakinkan jika Islam itu bukan sumber konflik, bukan sumber peperangan, terorisme, tetapi sumber pertemanan, persahabatan, dan kerja sama," tegasnya.
Mengubah Metode Dakwah
Dalam menyampaikan dakwah di AS yang notabene penduduknya rata-rata dari orang yang berpendidikan membuat Shamsi mencari metode yang tepat supaya bisa diterima oleh orang Amerika.
"Islam itu tidak bisa sekedar dilihat sebagai koalisi, namun bagian integral dari AS. Kita (Muslim) bukanlah orang lain, kita bagian dari AS. Itulah yang selalu saya sarankan kepada teman-teman Muslim di sana agar menjadi bagian dari AS. Sebab, dengan menjadi bagian dari AS kita akan merasa memiliki AS. Dengan merasa memiliki AS, kita dapat menjadikan AS lebih baik,"tuturnya.
Dan kehadiran komunitas Muslim di AS memberikan kontribusi positif untuk lebih maju, lebih bebas, lebih baik, dan bukan sebagai ancaman.
Selain itu, lanjut Shamsi, ia dan teman-teman di komunitas muslim sering saling kunjungi untuk menciptakan hubungan emosional dan keakraban dengan komunitas non muslim.
"Tahun 2005, kami berkesempatan mempertemukan Imam dan para Rabi se-AS, dengan program bernama Weekend of Twinnings. Di mana Masjid dan Sinagog bersatu,"katanya.
Di bulan November 2015 lalu,  komunitas Muslim Nusantara Foundation bersama beberapa lembaga Yahudi, memberikan makanan kepada para tuna wisma di New York.
"Nah, saya rasa penting bagi para ulama-ulama sekarang untuk membuka wawasan yang lebih luas. Wawasan yang luas itu terbuka dengan mencari pengalaman yang lain," ucapnya.


Tags : ICMI Tokoh ICMI




Ilham Akbar Habibie
Ilham Akbar Habibie

Rabu, 25 Jan 2023
Jimly Asshiddiqie
Jimly Asshiddiqie

Rabu, 25 Jan 2023
Riri Fitri Sari
Riri Fitri Sari

Rabu, 25 Jan 2023
Priyo Budi Santoso
Priyo Budi Santoso

Rabu, 25 Jan 2023
Andi Anzhar Cakra Wijaya
Andi Anzhar Cakra Wijaya

Rabu, 25 Jan 2023
Teuku Abdullah Sanny
Teuku Abdullah Sanny

Selasa, 27 Des 2022
Mohammad Jafar Hafsah
Mohammad Jafar Hafsah

Rabu, 14 Sep 2022
Achmad Kusna Permana
Achmad Kusna Permana

Senin, 8 Ags 2022
Andi Yuliani Paris
Andi Yuliani Paris

Selasa, 26 Jul 2022
Mohammad Najib
Mohammad Najib

Rabu, 13 Jul 2022
Arif Satria
Arif Satria

Senin, 4 Jul 2022
imam-shamsi-ali-_150907093043-315.jpg
Muhammad Shamsi Ali
"Kita harus meyakinkan jika Islam itu bukan sumber konflik, bukan sumber peperangan, terorisme, tetapi sumber pertemanan, persahabatan, dan kerja sama,"
Senin, 25 Jan 2016

Detail side

Opini dan Tokoh Terpopuler
Sejarah Himne ICMI Sejarah Himne ICMI
Catatan ICMI - Minggu, 24 Des 2023
Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria
tokoh - Selasa, 4 Apr 2023
Ilham Akbar Habibie Ilham Akbar Habibie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Jimly Asshiddiqie Jimly Asshiddiqie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Riri Fitri Sari Riri Fitri Sari
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Priyo Budi Santoso Priyo Budi Santoso
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Andi Anzhar Cakra Wijaya Andi Anzhar Cakra Wijaya
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023