Posted on Kamis, 29 Jun 2023 16:46 WIB
Marilah bersama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebaik-baiknya, dengan kita menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan- Nya. Semoga Allah memberikan petunjuk agar kita bisa berada di jalan yang lurus dan Allah memberikan kekuatan, kesabaran, dan kemampuan kepada kita dalam menghadapi kondisi yang terus berubah.
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah SWT.
Idul Adha harus kita jadikan momentum untuk memetik nilai yang selanjutnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Momentum ini selalu dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim. Kontekstualisasi nilai-nilai Nabi Ibrahim as dan para nabi dalam menghadapi ujian, bisa menjadi salah satu rujukan penting bagi kita dalam merespon ujian-ujian yang terus berdatangan sebagai konsekuensi perubahan. Apalagi kini dunia terus dihadapkan pada perubahan disruptif yang mengubah tatanan kehidupan, seperti perubahan iklim dan Covid-19. Perubahan teknologi akibat Revolusi Industri 4.0 juga telah menjadi keniscayaan yang menuntut kita untuk semakin adaptif.
Ujian adalah cara Allah agar kita naik kelas. Tidak ada pelaut ulung yang lahir di lautan yang tenang. Ujian adalah cara Allah untuk menempa keimanan dan kehebatan kita. Untuk itulah kita diperintahkan untuk senantiasa belajar dari kisah-kisah Nabi dan masyarakat terdahulu yang diceritakan dalam Al Quran. Allah berfirman dalam QS Yusuf [12] : 111.
Laqad k?na f? qa?a?ihim ‘ibratul li'ulil-alb?b(i), m? k?na ?ad??ay yuftar? wa l?kin ta?d?qal-la?? baina yadaihi wa taf??la kulli syai'iw wa hudaw wa ra?matal liqaumiy yu'min?n.
Artinya: "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab- kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".
Bahkan Allah menegaskan sebagaimana QS Ali Imran [3] : 142.
Am ?asibtum an tadkhulul-jannata wa lamm? ya‘lamill?hul-la??na j?had? minkum wa ya‘lama?-??bir?n
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
Jamaah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT.
Ada dua dimensi ujian, yaitu ujian ketaqwaan dan ujian kehidupan, yang saling berkaitan. Ujian ketaqwaan hampir dialami semua nabi. Idul Adha adalah sebuah peristiwa besar yang diabadikan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Ujian pertama, adalah ketika Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayah dan kaumnya yang musyrik, bahkan sampai dihukum dengan dibakar hidup- hidup (QS Al-Anbiya’ [21] : 51-69). Ujian kedua yaitu ketika Allah memerintah untuk menyembelih putra tercintanya yang sudah lama dinanti, Isma’il (QS Ash- Shaffat [37] : 102-107).
Sementara itu ujian kehidupan berkaitan dengan kenikmatan kehidupan. Ada yang diuji dengan nikmat yang minimal dengan kekurangan di berbagai aspek, baik rezeki, kesehatan, tahta, keluarga, dan kehidupan sosial. Inilah yang sering disebut orang awam sebagai ujian. Seolah ujian hanya yang berkaitan dengan penderitaan. Padahal ada juga ujian berupa kelimpahan nikmat hidup sebagaimana dialami Nabi Sulaiman.
Jamaah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Ada sejumlah nilai yang perlu kita gali dari momentum Idul Adha dan kisah Nabi Ibtrahim.
Pertama, perlunya sikap positif dalam menghadapi ujian. Sesungguhnya setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Ini adalah janji Allah dalam QS Al Insyirah [94] : 5.
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Sikap positif ini hanya bisa dimiliki oleh orang yang memiliki kecerdasan spiritual dan religiusitas yang tinggi. Yakni orang yang meyakini bahwa Allah akan selalu memberikan skenario hidup yang terbaik untuk kita. Hal ini karena kita yakin bahwa Allah maha mengetahui tentang diri kita dan lingkungan kita baik hari ini maupun masa mendatang. Sikap positif ini akan membawa kepada keikhlasan, tawakal, dan optimisme.
wa ‘as? an tu?ibb? syai'aw wa huwa syarrul lakum, wall?hu ya‘lamu wa antum l? ta‘lam?n
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah [2] : 216).
Kedua, diperlukan kesabaran proaktif dan bukan hanya kesabaran pasif. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ada dialog yang menarik antara Saad Bin Abi Waqqas dengan Rasulullah SAW bahwa ujian dan cobaan itu datang kepada orang sesuai kemampuannya. Saad bin Abi Waqqas berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah yang mendapat cobaan paling berat?” Rasulullah menjawab; “Para Nabi, lalu yang paling menyamai (kualitas) nabi. Dan seseorang akan diuji dengan sesuai dengan kemampuannya. Maka cobaan tidak akan pernah meninggalkan seorang hamba, hingga ia membiarkan hamba itu berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun dosa.(”HR Ibnu Najah dan Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqas”).
Apa yang dicontohkan para Nabi adalah kesabaran proaktif. Ketika ujian datang, maka semua nabi tidak serta merta hanya duduk diam memohon doa kepada Allah, tetapi juga menjalankan strategi untuk menghadapi ujian tersebut. Ikhtiar untuk melewati masa- masa sulit harus terus dilakukan. Ketika sakit, maka kita harus berobat. Ketika di tengah gurun pasir tidak ada air sementara Ismail menangis memerlukan air, maka Siti Hajar pun harus berlari diantara bukit sofa dan marwa sebanyak 7 kali sehingga akhirnya Allah memberikan karunia berupa air zamzam. Siti Hajar tidak hanya sabar dengan sikap pasif dengan hanya duduk diam menunggu mukjizat, melainkan mengerahkan seluruh energinya berjuang secara total untuk menemukan air demi cintanya pada Ismail. Nabi Nuh berjuang selama 950 tahun, agar umatnya bisa menerima kebenaran, dan itupun hanya 40 orang yang menjadi pengikutnya. Karena itulah Nabi Nuh dijuluki Ulul Azmi, yakni orang yang memiliki kegigihan yang sangat tinggi. Rasulullah SAW harus berhijrah berkali-kali sebagai bagian dari strategi untuk terus berdakwah. Penolakan dan ancaman pembunuhan selalu dihadapi Rasulullah.
Kesabaran proaktif selalu ditandai dengan perjuangan total secara lahiriah dan batiniah. Selalu ada optimisme dalam benak setiap pejuang bahwa semua masalah pasti akan berakhir, namun proses menuju akhir dari suatu masalah memerlukan langkah-langkah proaktif secara total. Dan tentu ini adalah konsekuensi manusia sebagai makhluk sempurna yang dilengkapi dengan akal. Manusia dituntut untuk mendayagunakan akalnya untuk mengakhiri setiap ujian.
Kesabaran proaktif adalah substansi dari QS Ar-Ra’d [13] : 11 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya.
Artinya, maju tidaknya kita dalam kehidupan sangat tergantung dari sikap proaktif dan daya inisiatif kita dengan mendayagunakan sumberdaya yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah menegaskan lagi bahwa “Seorang Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An-Najm [53] : 39). Artinya, upaya mewujudkan visi hidup kita diperlukan sebuah langkah proaktif, yaitu dengan ketajaman visi, strategi, dan eksekusi. Jadi, nikmat kehidupan tidak ada yang diperoleh secara instan. Diperlukan ikhtiar yang sistematis melalui tahapan proses yang berjenjang. Disinilah sikap proaktif dan daya inisiatif merupakan prasyarat bagi upaya transformasi kita ke depan.
Jamaah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT.
Ketiga, kebersamaan dan kepedulian sosial. Allah memerintahkan untuk saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran. Kesabaran begitu ditekankan oleh Allah karena ujian dan cobaan tidak akan pernah berhenti, sebagaimana dialami oleh seluruh Nabi. Begitu pula dalam QS Al-Ma’idah [5] : 2 ditegaskan oleh Allah:
wa ta‘?wan? ‘alal-birri wat-taqw?, wa l? ta‘?wan? ‘alal-i?mi wal-‘udw?n(i), wattaqull?h(a), innall?ha syad?dul-‘iq?b
Artinya: "...Saling Menolonglah kamu dalam melakukan kebajikan dan taqwa. Dan jangan saling menolong pada perbuatan yang dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah SWT. Sebenarnya siksaan Allh SWT sangatlah pedih.”
Ayat ini sekaligus menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Manusia diciptakan untuk saling tergantung. Alam memiliki karakteristik yang bisa menjadi bahan pelajaran bagi konstruksi kebudayaan. Alam memiliki sifat beragam, saling tergantung, dan berjejaring. Bunga dan serangga saling tergantung. Ikan dan terumbu karang juga saling tergantung. Kita harus belajar dari bagaimana alam bekerja. Karena itu manusia diciptakan dengan keragaman, sehingga interdependensi dan berjejaring adalah kondisi yang perlu kita upayakan. Lebih-lebih hari ini kita makin merasakan sebuah era yang penuh dengan kecepatan, ketidakpastian, dan kompleksitas. Era ini memerlukan skill kolaborasi yang kuat.
Ujian yang dihadapi secara secara bersama-sama akan meringankan beban setiap orang. kebersamaan untuk terus berbagi ide, berbagi semangat, berbagi inspirasi, berbagi rizki dan berbagi doa adalah modal yang sangat penting untuk menghadapi krisis. Pandemi Covid 19 di Indonesia relatif cepat berakhir karena
faktor modal sosial. Salah satunya adalah dengan gotong royong saling membantu dan saling meringankan beban. Saat ini tengah
berkembang yang disebut gift economy. Dulu memberi kepada orang adalah biaya, sekarang adalah investasi. Indeks kedermawanan global kita nomor satu di dunia. Keempat, Idul adha adalah momentum untuk berbagi. Hewan qurban yang kita bagikan adalah syariat tentang mekanisme berbagi. Pembagian hewan kurban kepada yang berhak merupakan simbol pentingnya semangat berbagi. Mestinya semangat berbagi tidak hanya saat idul adha tetapi juga pada hari- hari yang lain.
Allah SWT memberikan nikmat rizki kepada kita yang harus kita syukuri dengan semangat berbagi. Barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambah nikmatnya (QS Ibrahim [14] : 7). Ayat- tersebut sekaligus menegaskan bahwa bersyukur atas nikmat akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang akan menguntungkan kita. Dengan semangat berbagi maka nikmat- nikmat tersebut akan semakin dirasakan umat secara kolektif dan pada akhirnya menjadi pintu menuju keadilan sosial, rasa persatuan, dan kemakmuran.
Salah satu pesan Rasulullah SAW pada saat tiba di Madinah adalah keharusan membantu orang-orang yang ekonomi lemah agar mereka tidak mengalami kesulitan. Berulang kali beliau menyampaikan pesan moral terkait orang-orang lemah. Bahkan saat-saat menjelang wafat, beliau mewasiatkan pesan terakhir, jangan tinggalkan shalat dan tolonglah orang-orang yang lemah. Bila kepedulian menjadi sebuah gerakan sosial, maka niscaya kemiskinan akan mudah ditanggulangi.
Tentu semangat berbagi juga telah menjadi perhatian Al Quran seperti tercantum dalam QS. Saba [34] : 39.
Qul inna rabb? yabsu?ur-rizqa limay yasy?'u min ‘ib?dih? wa yaqdiru lah(?), wa m? anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuh(?), wa huwa khairur-r?ziq?n
Artinya: “Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya
bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.”
Itulah janji Allah bahwa semangat berbagi sebenarnya bukanlah cost atau biaya, melainkan sebuah investasi. Hasil investasi dari kemurahan hati kita akan dibayar lunas oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan orang yang selalu memberi akan dijanjikan selalu mendapat kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Lail [92] : 5-7.
Fa amm? man a‘?? wattaq?. Wa ?addaqa bil-?usn?. Fa sanuyassiruh? lil-yusr?.
Artinya: “(5) Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa; (6) dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga); (7) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”
Jamaah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT.
Nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan semangat berbagi, merupakan modal spiritual dan modal sosial untuk kemajuan bangsa ini. Ada tuntutan ilahi agar kita semua kaum mukminin untuk terus bertransformasi menjadi umat terbaik, dan terus menerus tanpa lelah melakukan transformasi untuk kemajuan bangsa.
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-n?si ta'mur?na bil-ma‘r?fi wa tanhauna ‘anil-munkari wa tu'min?na bill?h
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron [3] : 110)
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, umat terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat buat umat manusia. Bermanfaat berarti ada nilai tambah (added value) yang kita tebarkan. Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad, seorang lelaki berdiri menunjukkan dirinya kepada Rasulullah SAW yang saat itu berada di atas mimbar dan lalu bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakan manusia yang terbaik?” Nabi menjawab,” manusia terbaik ialah yang paling pandai membaca Alquran, dan paling bertaqwa diantara mereka kepada Allah, serta paling gencar dalam amar ma’ruf nahi munkar, dan paling gemar diantara mereka dalam bersilaturahmi”. Dengan kata lain umat terbaik adalah yang mampu menyeimbangkan hablu minallah dan hablu minannaas.
QS Ali Imron [3] : 110 di atas merupakan kepercayaan Allah kepada kita untuk menjadi umat terbaik yang selalu melakukan transformasi. Amar ma’ruf adalah tindakan transformasi yang proaktif dan nahi munkar adalah tindakan transformasi reaktif. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait. Masing- masing bisa dilakukan dalam berbagai level baik individual maupun institusional dan dalam berbagai bentuk baik tingkat ide, tindakan sosial maupun kebijakan. Sebagaimana ditulis Kuntowijoyo (1991), Muhammad Iqbal pernah menyampaikan tentang peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Seandainya Nabi itu seorang sufi tentu beliau tidak ingin kembali ke bumi karena telah merasa tenteram bertemu dengan Allah dan berada di sisi-Nya. Nabi kembali ke bumi untuk menggerakkan perubahan sosial, untuk mengubah jalannya sejarah. Beliau memulai suatu transformasi sosial.
Semangat berbagi adalah sebuah modal sosial penting bagi keberlanjutan kehidupan kita. Fukuyama penulis buku Trust yang sangat popular juga mengatakan bahwa kemajuan bangsa ditentukan sejauhmana kekuatan modal social masyarakatnya.
Bila masyarakat tersebut memiliki jaringan social yang kuat, norma-norma yang diikuti, dan tergolong high-trust society maka masyarakat tersebut memiliki modal social. Jadi, semangat berbagi diantara kita bisa mendorong jaringan social yang makin kuat dan tumbuhnya rasa saling percaya, dan ini semua bekal social yang sangat penting bagi kemajuan kita.
Tentu semangat berbagi juga telah menjadi perhatian Al Quran seperti tercantum dalam QS Saba [34] : 39.
Qul inna rabb? yabsu?ur-rizqa limay yasy?'u min ‘ib?dih? wa yaqdiru lah(?), wa m? anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuh(?), wa huwa khairur-r?ziq?n(a).
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik- baiknya.
Itulah janji Allah bahwa semangat berbagi sebenarnya bukanlah cost atau biaya melainkan sebuah investasi. Hasil investasi dari kemurahan hati kita akan dibayar lunas oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan orang yang selalu memberi akan dijanjikan selalu mendapat kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Lail : 5-7:
Fa amm? man a‘?? wattaq?. Wa ?addaqa bil-?usn?. Fa sanuyassiruh? lil- yusr?.
(5) Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (6) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), (7) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Hadirin jamaah sholat idul Adha yang berbahagia
Allah selalu menyebut bahwa salah satu ciri orang bertaqwa adalah yang beriman dan beramal soleh, serta yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Sholat dan zakat adalah dua kata yang selalu ditempatkan secara bersama dalam sejumlah ayat. Setelah sholat jangan lupa menafkahkan hartanya di jalan Allah, termasuk di dalamnya dalam membantu orang fakir dan miskin. Artinya, selalu ada dimensi hablum minallah dan hablum minannas dalam kriteria ketaqwaan. Secara gamblang ciri tersebut kita dapatkan di QS Al-Baqarah [2] : 3 yang artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” Bahkan dalam QS Al-Balad [90] : 13-16 ditegaskan pula kalau kita harus memerdekakan budak, memberi makan anak yatim, dan fakir miskin. Artinya kelompok masyarakat bawah atau Kaum mustadzafin harus diperhatikan sehingga kemajuan yang kita capai adalah kemajuan yang humanistik.
Kemanusiaan, kepedulian sosial dan keadilan adalah nilai-nilai yang harus terus kita perjuangkan. Allah sangat tegas memerintahkan kita untuk berbuat adil, sebagaimana ayat berikut ini:
Innall?ha ya'muru bil-‘adli wal-i?s?ni wa ?t?'i ?il-qurb? wa yanh? ‘anil-fa?sy?'i wal-munkari wal-bagyi ya‘i?ukum la‘allakum ta?akkar?n
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl [16] : 90)
Bahkan lebih jauh Allah SWT meminta kita berbuat adil termasuk kepada orang-orang yang kita benci, sebagaimana QS Al-Maidah [5] : 8, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Hadirin sidang sholat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT,
Demikianlah khotbah untuk memetik hikmah dari ibadah idul adha. Marilah kita berdoa semoga Idhul Adha kali ini menjadi momentum kita untuk meningkatkan modal spiritualitas dan modal social untuk perubahan Indonesia yang lebih baik. Semoga kita semua dikaruniai benih semangat berbagi yang terus meningkat. Semoga kita semua dikaruniai semangat untuk selalu proaktif mampu menyelesaikan persoalan bangsa kita.
Penutup
Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ibadah Ied kita pada hari ini dengan berdo’a bersama:
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik- baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita- cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.*
*Khotbah Ketum ICMI pada Idul Adha 1444 H, Masjid Sunda Kelapa (29/06/23)