Home / Opini Dan Tokoh / Opini / Islam Dan Kerangka Etik Perubahan Sosial Oleh Arif Satria

Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial oleh Arif Satria


Posted on Selasa, 25 Apr 2023 22:49 WIB


Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial oleh Arif Satria

[Khutbah Idul Fitri 2023 M/1444 H, Kampus IPB Baranangsiang]

Sepanjang kehidupan ini, Allah Swt telah memberikan nikmat tak terhingga berupa : (a) nikmat kehidupan,(b) nikmat kemerdekaan, (c) nikmat akal, (d) nikmat hati, dan (e) nikmat iman yang harus kita syukuri. Marilahkita syukuri nikmat-nikmat tersebut dengan mendayagunakannya sesuai dengan apa yang dikehendakiSang Maha Pemberi.

Mensyukuri nikmat kehidupan adalah dengan terus menjaga kesehatan diri dan keseimbangan alam.Mensyukuri nikmat akal adalah dengan mendayagunakan akal agar tercipta

IPTEK, ide, pemikiran yang membuat kehidupan semakin baik. Mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah dengan terus berkarya membangun masyarakat maju. Mensyukuri nikmat hati adalah dengan terus berlatih menjadi orang yang bijaksana. Mensyukuri nikmat iman adalah dengan meningkatkan kualitas habluminallah sehingga status taqwa dapat kita raih. Mensyukuri nikmat di dunia ini adalah bagian dari pesan Allah bahwa kehidupan akhirat dan dunia itu harus dijalani sekaligus secara berkualitas.

Dengan kita terus bersyukur, maka nikmat Allah kepada kita akan terus bertambah, sebagaimana janji Allah Swt dalam QS Ibrahim ayat 7.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim: 7).

Sesungguhnya Allah adalah Syaakirun Alim (QS Al Baqoroh: 158), yakni melimpahkan banyak anugerah bahkan menambahnya bagi yang bersyukur. Sementara itu dalam QS An Naml ayat 40 Allah berfirman “Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri”. Bila kita terus bersyukur maka nikmat kita akan terus bertambah, dan diri kita sendirilah yang akan merasakan peningkatan nikmat tersebut sehingga sebenarnya bersyukur adalah untuk kepentingan diri kita sendiri.

Orang yang bersyukur memiliki keikhlasan, keterbukaan, dan kebahagiaan dalam menerima anugerah. Orang yang bersyukur ingin selalu menunjukkan kepada pemberi bahwa pemberiannya bermanfaat baik untuk pribadi, orang lain, maupun kebaikan kolektif.

Hasil riset menunjukkan bahwa orang yang suka berterima kasih akan memiliki kesehatan tubuh dan mental yang lebih baik, serta kualitas hidup dan hubungan sosial yang baik. Tentu orang yang rajin bersyukur kepada Allah Swt akan semakin memiliki kualitas hidup yang lebih baik, baik secara psikologis maupun biologis. Orang yang bersyukur akan mengalami ketenangan hidup karena selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. Dengan demikian, bersyukur akan berujung pada penguatan emotional dan spiritual intelligence sekaligus.
 
Sebagai khalifah di muka bumi, maka orang yang bersyukur adalah orang-orang yang proaktif mendayagunakan nikmat untuk menjalankan fungsinya dalam menciptakan kemakmuran di muka bumi sekaligus menjaga kehidupan dunia dari kerusakan (QS Hud: 61; QS Al Anbiya: 107; QS Al-Baqarah: 30; QS Al Baqarah:11). Fungsi khalifah diberikan kepada manusia karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang dikaruniai kelebihan daripada makhluk lainnya (QS Attiin:4; QS Al-Isra’: 70).

Tugas menciptakan kemakmuran di muka bumi ini tidaklah mudah. Tugas di dunia ini merupakan perintah Allah sebagai modal kita untuk kehidupan akhirat. Keduanya harus dilakukan secara seimbang, sehingga misi perubahan sosial merupakan misi mulia.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al- Qasas: 77)

Hal yang saat ini perlu kita pikirkan adalah bagaimana bentuk syukur nikmat di tengah perubahan disruptif yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu perubahan iklim, revolusi industri 4.0, Pandemi Covid-19, dan konflik Rusia-Ukraina. Perubahan disruptif tersebut telah membawa kita pada kehidupan yang penuhketidakpastian sehingga memerlukan cara berpikir baru, cara belajar baru, dan cara bekerja baru. Bagaimana Islam mengajarkan kepada kita untuk menghadapi dinamika perubahan seperti itu? Allah berfirman:

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfal: 53)

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ara’d:11).

Menurut Tafsir Al-Misbah, ayat pertama berbicara perubahan nikmat, sedang ayat kedua berbicara tentang perubahan apapun, bisa dari nikmat menjadi niqmat (murka) dan sebaliknya dari negatif menjadipositif. Atas ayat-ayat tersebut, Tafsir Al-Misbah menjelaskan sebagai berikut. Pertama, kedua ayat tersebutberbicara tentang perubahan sosial, bukan individu. Meski inisiatif perubahan bisa berasal dari individu yang berdampak secara sosial. Kedua, penggunaan kata qaum menunjukkan bahwa hukum sosial ini berlaku universal tidak peduli suku, ras dan agama dimanapun dan kapan pun mereka berada. Ketiga, perubahan yang dilakukan Allah bermula dari perubahan yang dilakukan manusia. Manusia memiliki nilai, tekad dan kemauan keras, dan kemampuan yang menghasilkan aktivitas yang berdampak secara sosial. Ayat-ayattersebut sekaligus merupakan bentuk penghormatan yang begitu besar kepada manusia untuk mengikuti sunatullah.

Terhadap perubahan tersebut, setidaknya ada 4 pilihan peran kita, yaitu (a) pemimpin perubahan, (b) pengikut perubahan, (c) penonton perubahan, atau (d) penentang perubahan. Bila kita menginginkan kemajuan dalam kendali kita, maka tidak ada pilihan lain kecuali menjadi pemimpin perubahan. Menjadipemimpin perubahan sejatinya adalah menjalankan fungsi khalifah yang terus menciptakan kemakmuran dan menjaga bumi dari kerusakan. Ketika saat ini secara global alam tidak seimbang, ketimpangan dimana-mana, dan problem sosial masih mengemuka, maka adalah tugas kita untuk melakukan perubahan sesuaidengan kompetensi kita agar keluar dari krisis tersebut.

Rasulullah dan seluruh Nabi telah memberi contoh kepada kita tentang misi perubahan sosial yang dijalankan. Hampir semua Nabi diturunkan ke dalam masyarakat yang bermasalah, agar menjadi pemimpin perubahan. Meski cobaan dan tantangan para Nabi sungguh luar biasa berat, komitmen untukmentransformasi harus benar-benar diwujudkan dengan modal kegigihan, ketabahan, dan kesabaran.

Namun demikian harus dipahami bahwa pemimpin perubahan bukanlah sebuah posisi,melainkan mentalitas keteladanan untuk selalu berinovasi yang berdampak positif pada terjadinyaperubahan sosial. Perubahan sosial bersifat multi skala, yaitu mikro, meso, dan makro. Karena itu semua orang bisa menjadi pemimpin perubahan pada tingkatan dan skala masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Perubahan bisa dilakukan pada tingkatan keluarga, kelompok, organisasi, masyarakat, baik pada tingkat lokal maupun global. Lalu, hal-hal apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi perubahan sosial tersebut?

Pada kesempatan ini, izinkan saya mencoba mengelaborasi 4 hal penting yang bisa menjadikerangka etik untuk perubahan sosial.

Pertama, komitmen untuk terus menghasilkan legacy atau karya-karya nyata yang berdampak pada peningkatan kemaslahatan dan kemajuan. Komitmen dan tekad kuat (will power) inilah yang oleh Ibnu Taimiyah sebagai iradah yang merupakan pendorong aktivitas manusia. Iradah yang disertai kemampuan baik akan menghasilkan aktivitas yang baik pula. Tentu aktivitas yang baik adalah yangmenghasilkan karya baik yang berdampak pada perubahan

sehingga menjadi sebuah legacy. Allah berfirman:

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kamikumpulkan dalam Kitab yang jelas” (QS Yasin:12)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah akan mencatat semua amal perbuatan yang telahmereka kerjakan dan jejak-jejak mereka yang dijadikan teladan setelah mereka tiada. Keteladanan merupakan kata kunci bahwa karya kita dijaga, diteruskan, dan dikembangkan lebih jauh sehingga manfaatdari karya kita memberikan multiplier effect yang besar pada kemaslahatan. Bahkan Rasulullah bersabda,

“Siapa yang memulai kebaikan dalam Islam, ia memperoleh pahala dan pahala siapa saja yang menirunya setelahnya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya siapa yang memulai kebiasaan buruk dalam Islam, ia mendapat dosanya dan dosa yang menirunya dengan tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun”.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

“Apabila manusia meninggal maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR Muslim).

Bayangkan kalau semua orang berkomitmen meninggalkan legacy berupa karya yang berkualitas dan bermanfaat maka Insya Allah akan membawa perubahan dunia yang penuh maslahat. Amal jariyah danilmu bermanfaat adalah representasi legacy yang tangible dan intangible yang bisa membawa perubahan.

Jadi, komitmen untuk selalu membuat legacy mestinya harus menjadi komitmen kolektif kita semua. Komitmen ini sejalan dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yangmemberi manfaat untuk orang lain. Legacy adalah manfaat yang berdampak ke umat dan publik. Oleh karena itu membawa manfaat harus dimaknai sebagai legacy atau karya besar yang berdampak padaperubahan masyarakat ke arah lebih baik. Dengan demikian, membawa manfaat tidaklah sekedar membawamanfaat biasa, namun harus membawa manfaat yang impactful, berdimensi luas, berjangka panjang, serta sustainable.

Kedua, orientasi kebaruan dan future practice. Di tengah kompetisi global seperti sekarang ini maka legacy yang baik adalah yang antisipatif terhadap masa depan. Karena itulah kita harus hadir dengan karya-karya baru yang bersifat future practice. Orientasi pada kebaruan dan future practice inilah yangmembuat kita punya mentalitas sebagai pencipta.

Wujud kongkrit dari ciri kita sebagai pencipta ini adalah hadirnya inovasi-inovasi, baik inovasi teknologi maupun inovasi sosial, yang memang sangat diperlukan di tengah perubahan disruptif ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara menjadi maju secara ekonomi bila memiliki skor Global Innovation Index yang tinggi. Artinya masyarakat di negara maju memiliki mentalitas sebagai pencipta yang berorientasi future practice. Bangsa Indonesia akan semakin maju bila masyarakat kita juga punya mentalitas pencipta.

Mentalitas pencipta ini adalah merupakan internalisasi dari salah satu sifat Allah Swt dalam Asmaul Husna, yaitu Al-Badii’. Tafsir yang pernah disampaikan Ustadz Syafii Antonio menjelaskan perbedaan Al Khalik dan Al Badii’ yang keduanya sama-sama berarti pencipta. Al Khalik adalah pencipta atas ciptaan yang sudah ada, sementara Al-Badii’ adalah pencipta untuk ciptaan baru. Internalisasi atas sifat Allah Swtini sangat penting untuk menjadi dorongan munculnya banyak inovasi baru. Inovasi-inovasi baru tersebut merupakan prasyarat bagi kita jika kita inginmemiliki andil dalam perubahan.

Ketiga, kerja keras dan berkualitas. Untuk menciptakan legacy yang membawa manfaat besar dan impactful diperlukan kerja keras dan berkualitas. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan dalam QS At-Taubah ayat 105:

“Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihatpekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib danyang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105).

"Katakanlah: tiap-tiap orang beramal menurut keadaan/bakatnya tetapi Tuhan engkau lebih mengetahui siapakah yang lebih mendapat petunjuk dalam perjalanan" (QS AL Isra:84).

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusahpayah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).

Perintah kerja keras juga dapat kita simak ayat-ayat berikut ini:

"Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung." (QS Al-Jumu’ah: 10).

Kerja keras adalah modal kita untuk sukses. Riset T. Stanley menunjukkan bahwa dalam 100 faktor sukses, maka kerja keras berada di urutan ke-5, lebih tinggi dari sekedar IQ, prestasi sekolah, atau tempat dimana kita sekolah. Apa yang ditemukan Stanley, sama dengan konsep yang ditawarkan Angela Duckworth dalam bukunya GRIT , yaitu bahwa kegigihan yang diiringi dengan passion yang kuat akan menjadi faktor sukses bahkan bisa mengalahkan bakat. Ini membawa optimisme bahwa meski kita kurang berbakat namun bila memiliki kerja keras atau grit maka akan membawa kita kepada kesuksesan.

Kerja keras akan menghasilkan karya besar bila diiringi dengan komitmen pada kualitas. Menurut Ibnu Katsir, dunia yang penuh perhiasan dan keindahan ini adalah kampung ujian, bukan kampung menetap. Dunia menjadi kampung ujian bagi siapa diantara manusia yang terbaik amalnya. Dalam bahasa lain sebenarnya Allah sedang menguji siapa yang memiliki kerja yang lebih berkualitas. Hal ini selanjutnyaditegaskan Allah Swt dalam QS Kahfi ayat 7:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami mengujimereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS Al-Kahfi:7)

Kata ahsanu amala menunjukkan bahwa kualitas kerja akan menentukan karya kita di dunia.Ternyata Allah memilih kata terbaik daripada terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa kerja yang berkualitaslebih penting dari pada sekedar kuantitas. Kata-kata ahsanu amala juga dijelaskan dalam QS Al Mulk ayat 2:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS Al-Mulk: 2)

Kerja yang berkualitas adalah kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja berkontinuitas. Kerja ikhlas didasarkan motif intrinsik bahwa hidup matiku hanya untuk Allah swt. Kerja ikhlas juga didasari motifmenjadi khoirunnaas, sebaik-baik manusia. Inilah elemen penting dalam kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Motif transendental ini diperlukan untuk mewarnai hati bahwa kerja keras yang berkualitasadalah perintah Allah. Kerja ikhlas akan menjelma dalam passion kerja yang tinggi, yang secara saintifik terbukti akan membawa kesuksesan.

Sementara itu kerja cerdas didasarkan pada akumulasi pengetahuan yang mendasari bentuk danmodel kerja kita agar efektif dan efisien, sehingga kerja cerdas mensyaratkan mentalitas pembelajar.Perintah wahyu pertama adalah iqra. Membaca adalah komponen penting dalam belajar dan belajar adalahkomponen penting untuk meraih ilmu pengetahuan.

Dalam menjalani kehidupan ini kita diharapkan bisa terus menerus menghasilkan kerja keras berkualitas sehingga kita pun sepanjang hayat dituntut untuk terus menerus belajar dan menuntut ilmusebagaimana hadis nabi:

"Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya(dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu," (HR Ahmad).

“Tuntutlah ilmu mulai sejak buaian hingga ke liang lahat” (H.R.Ibn. Abd. Bar).

Di tengah perubahan disruptif sekarang ini maka yang akan survive adalah orang yang memiliki mentalitas sebagai pembelajar. Seorang pembelajar akan bisa memahami perubahan dan sekaligus mampu beradaptasi pada perubahan. Namun di tengah perubahan yang begitu cepat ini maka mentalitas pembelajarsaja tidak cukup. Yang diperlukan saat ini adalah mentalitas pembelajar dengan learning agility yang lebihbaik.

Itulah mengapa Allah meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu. Tidak lain karena orang-orang yang berilmu inilah yang diharapkan bisa terus menebar rahmat di muka bumi dan mampu merespons perubahan, dan bahkan mampu merancang dan menciptakan perubahan. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Mujadalah: 11).

Kualitas kerja yang baik tersebut harus dijalankan secara konsisten dan terus menerus. Hidup harus terus bergerak, dan kerja keras harus menjaga kontinuitas. Allah berfirman dalam QS Al-Insyirah Ayat 7,“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”. Artinya, kita diperintahkan untuk senantiasa dinamis menjalani kehidupan dengan terus bergerak ke depan dalam rel kemajuan dengan rangkaian kualitas kerja yang berkesinambungan.

Keempat, mindset baru. “Seorang Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An-Najm: 39). Ini menjadi motivasi untuk terus mengusahakan apa yang menjadi visi, mimpi, dan cita-citanya. Kalau kita kerja keras dan berkualitas maka cita-cita akan dapat diraih. Ayattersebut memberikan motivasi yang kuat untuk mendorong kerja keras dan kerja yang berkualitas. Motivasi yang kuat sangat dipengaruhi mindset yang baik. Hadits Qudsi yangmembangun prasangka baik kepada Allah Swt ini menjadi modal untuk semakin optimis.

“Allah Ta’ala berfiman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia memohon kepada- Ku." (HR Muslim).

Terkait mindset ini, Carol Dweck menjelaskan pentingnya kita memiliki Growth mindset. Mindset ini mengajarkan tentang keyakinan bahwa kita bisa berubah. Kita bisa mengubah kemampuan, bakat,kebiasaan, dan bahkan IQ. Orang yang memiliki growth mindset ini umumnya optimis, percaya diri, pembelajar, punya grit dan pekerja keras.

Sebaliknya orang yang memiliki fixed mindset percaya bahwa dirinya sulit berubah. Baginya seolah kemampuan, kebiasaan, bakat, dan IQ adalah fixed, dan tidak bisa berubah. Sehingga, ketika ia menemuikegagalan, maka ia akan berpikir bahwa inilah batas kemampuannya. Sementara itu orang yang memiliki growth mindset kalau pun gagal masih menganggap bahwa kegagalan karena kesalahan strategi dankesalahan belajar sehingga ia akan belajar dari kegagalannya untuk kembali bangkit. Baginya kegagalan adalah kesempatan untuk semakin tumbuh.

Seorang yang memiliki growth mindset akan selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Bahkan dalam QS Al-Insyirah Ayat 5 ditegaskan," setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan". Dengan growth mindset kita belajar untuk bersikap positif atas kejadian yang kita hadapi. Juga ayat berikut ini juga makinmemperkuat kita untuk positive thinking terhadap kenyataan kita.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216).

Hadis dan ayat tersebut di atas menegaskan pentingnya mindset baru yang harus selalu positif. Sikap positif ini akan berdampak pada menguatnya optimisme dalam berbagai hal, dan optimisme adalah modal untukkemajuan.

Insya Allah dengan tekad kita menciptakan perubahan melalui 4 komitmen besar yaitu (a) komitmen membuat legacy, (b) Orientasi kebaruan dan future practice, (c) komitmen kerja keras dan berkualitas, serta (d) mindset baru, kita akan menjadi khoirunnaas, manusia terbaik yang terus menebar manfaat untuk kemakmuran bumi ini. Dan inilah wujud syukur kita atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia. Dengan demikian tanggung jawab kita sebagai hamba Allah yang terus menjalin hablu minallaah,hablu minannaas, dan hablu minal alam dapat kita jalankan dengan maksimal.

Namun demikian untuk itu semua kita tidak bisa sendiri. Kita harus bersatu, bersinergi, dan berkolaborasi. Idul Fitri bisa menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan kita untuk kepentingan bangsa yan lebih besar. Mari kita tebar gagasan dan inspirasi untuk kemajuan bangsa. Mari kita satukan langkah untuk menciptakan legacy-legacy baru untuk kemajuan bangsa. Mari kita wujudkan Indonesia sebagai baldatun toyyibatun warabbun ghofuur.

 

Bogor, 1 Syawal 1444 H


Tags : ICMI ICMI Daerah ICMI Pusat Kegiatan ICMI Keislaman Ketua ICMI Keumatan Opini Tokoh ICMI Tujuan ICMI




Sejarah Himne ICMI
Sejarah Himne ICMI

Minggu, 24 Des 2023
Pertanian Hijau:
Pertanian Hijau: "No Evidence, Hoax" oleh Aceng Hidayat
Secara umum, praktik pertanian belum menerapkan ekonomi hijau. Perguruan tinggi pertanian dapat memelopori pengembangan pertanian hijau, dan punya bukti empiris untuk ini.
Rabu, 21 Sep 2022

Detail side

Opini dan Tokoh Terpopuler
Sejarah Himne ICMI Sejarah Himne ICMI
Catatan ICMI - Minggu, 24 Des 2023
Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria
tokoh - Selasa, 4 Apr 2023
Ilham Akbar Habibie Ilham Akbar Habibie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Jimly Asshiddiqie Jimly Asshiddiqie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Riri Fitri Sari Riri Fitri Sari
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Priyo Budi Santoso Priyo Budi Santoso
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Andi Anzhar Cakra Wijaya Andi Anzhar Cakra Wijaya
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023