Posted on Rabu, 25 Jan 2023 10:49 WIB
Priyo Budi Santoso adalah seorang politikus Indonesia yang menjabat Anggota DPR-RI dari tahun 1997 hingga 2014.
Ia menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode 2009—2014, mewakili Partai Golongan Karya dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I.
Priyo Budi Santoso, sosok politisi senior Partai Golkar yang sukses menapaki tangga kekuasaan parlemen.
Karier cemerlang Priyo sebagai politisi memang tak lepas dari kerja keras dan keloyalan tinggi terhadap partainya.
Rekam jejak pria penggemar batu akik ini sudah diakui oleh koleganya di Golkar bahkan dari partai lain.
Ia menjalani dunia pendidikan dimulai dari SD N 1 Karanganom, SMPN 1 Trenggalek, dan SMA Negeri 1 Trenggalek.
Jenjang pendidikan tinggi pun diraihnya, mulai 1992 Priyo kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada.
Saat menjadi mahasiswa, ia aktif di berbagai forum dan kelompok-kelompok diskusi kampus.
Dunia kampus menjadi titik awalnya membangun relasi dengan dunia luar.
Jangkauan jaringan Priyo lewat aktivitas intelektual dan politiknya tak hanya di lingkup Yogyakarta, namun juga mencapai kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan hingga ke Padang, dan Makassar.
Pengetahuannya selama menimba ilmu di kampus dicurahkan dalam sebuah buku yang mengulas tentang gurita perpolitikan birokrasi selama Orde Baru (Orba) berkuasa.
Buku dengan judul “Birokrasi Pemerintah Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural” diterbitkan oleh Rajawali Press.
Mutu dari isi buku tersebut sempat juga disampaikan oleh Guru Besat Ilmu Administrasi Negara UGM, (alm) Prof. Dr. Moeljarto Tjokrowinoto, yang menilai sebagai karya terlengkap yang mengupas politik birokrasi ala Orba.
Priyo sempat menempuh karier sebagai akademisi, antara lain jadi Ketua Departemen Publikasi CIDES periode 1993-1996.
Menjadi dosen FISIP Universitas Nasional di Jakarta sekaligus dosen FISIP Universitas Islam 45 di Bekasi selama 2 tahun.
Bekal akademis dan jaringannya selama di kampus membawa Priyo menapaki tangga dunia politik yang cemerlang.
Secara berturut-turut, Priyo menjabat sebagai anggota DPR selama tiga periode.
Pada periode 2009-2014, ia berhasil menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPR-RI.
Kepiawaiannya memimpin sidang serta terbangunnya citra yang baik di mata masyarakat membuat Priyo pernah terpilih sebagai Politisi Pria Terpopuler 2010 di Parlemen Senayan versi Uvolution Indonesia bekerja sama dengan portal Inilah.com.
Ia juga didaulat sebagai Tokoh Terpopuler 2010 kategori Lembaga Legislatif oleh Charta Politica.
Karier Priyo di Partai Beringin termasuk cemerlang. Ia adalah salah satu kader partai yang paling loyal.
Loyalitasnya diganjar posisi-posisi yang cukup penting, seperti Sekretaris Korwil VII DPP Partai Golkar sejak 1998, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar periode 2004-2009.
Priyo juga pernah menduduki kursi Ketua Partai Golkar.
Namanya tak kalah disandingkan dengan senior-seniornya di Golkar antara lain Akbar Tandjung, Agung Laksono, dan Aburizal Bakrie.
Priyo termasuk generasi muda Golkar yang menghendaki perubahan yang progresif di tubuh partainya.
Ia mendirikan Priyo Budi Santoso for Democracy.
Untuk urusan waktu luang, Priyo memiliki berbagai kegiatan.
Selain menjadi Ketua Umum Karate Indonesia, ia masih menyalurkan hobi lamanya mendaki gunung.
Prouo Budi Santoso terpilih sebagai Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 2013.
Untuk sekarang ini jabatan Priyo Budi Santoso di ICMI sebagai Wakil Ketua Umum ICMI.
Di organisasi ICMI, Priyo Budi Santoso terlibat dalam perubahan logo ICMI.
Ia menjelaskan perubahan logo ICMI dilakukan dengan penambahan dua tagline, yakni inspiratif-transformatif.
Dua tagline tersebut memiliki makna tersendiri bagi ICMI.
Jadi logo utama tidak berubah. Tapi diperbarui dengan tagline inspiratif-transformatif dibawah logo.
Inspiratif berarti semua jajaran ICMI menjadi sumber utama yang menginspirasi umat dan bangsa, menjadi ilham dan lentera negeri menuju rahmatan lil alamin. Transformatif bermakna ICMI harus menjadi penggerak perubahan, berhijrah menuju kebaikan negeri dengan motor ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman takwa.