Home / Opini Dan Tokoh / Opini / Syukur Era 4 0 Oleh Arif Satria

Syukur Era 4.0 oleh Arif Satria


Posted on Sabtu, 16 Apr 2022 06:22 WIB


Syukur Era 4.0 oleh Arif Satria

Bila dihitung, jumlah ayat dalam Alquran yang berisi perintah untuk terus mensyukuri nikmat itu ada sekitar 69 ayat yang tersebar dalam 37 surat.

Terus diulang-ulanginya kata syukur itu sebagai peringatan agar kita tidak mengulang kisah-kisah sebelumnya. Seperti dalam QS Ibrahim ayat 6 dan 7, yang artinya, "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Firaun dan) pengikut-pengikutnya,” dan lalu disambung dengan ayat berikutnya "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."

Ayat tersebut turun di saat Nabi Musa dan kaumnya baru merdeka dari kejaran Firaun, tapi kaumnya masih terus mengeluhkan keadaan yang serba penuh kekurangan. Sikap terus mengeluh mereka itulah menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Padahal nikmat kemerdekaan adalah nikmat yang amat besar karena kita bisa mendesain tata kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.

Kisah Nabi Musa tersebut bisa kita kontekstualisasi kepada kondisi di Indonesia, yang pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Alhamdulillah kita pun lalu diberi nikmat untuk bisa merdeka tahun 1945. Pascakemerdekaan, meski kehidupan belum sesempurna yang kita cita-citakan, ada tekad kuat menjadi negeri yang adil dan makmur. Langkah para pendiri bangsa sungguh luar biasa: menciptakan dasar negara, konstitusi, hingga membangun struktur negara dan lalu membangun bangsa baik secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Para pendiri bangsa telah mensyukuri nikmat dengan memberikan fondasi penting kelangsungan berbangsa dan bernegara.

Kehidupan bangsa terus berjalan dan kondisi hari ini sama sekali berbeda dengan kondisi pada awal kita merdeka. Kehidupan hari ini diwarnai kecepatan perubahan, kompleksitas, dan penuh ketidakpastian. Pandemi covid-19 telah benar-benar membuat kita serba tidak pasti. Pada saat yang sama Revolusi Industri 4.0 membuat semua serba cepat dan serba terkoneksi. Banyak pekerjaan hilang dan banyak pekerjaan baru muncul. Yang tidak adaptif maka akan tergilas oleh arus perubahan disruptif ini. Lalu bagaimana kita harus mensyukuri nikmat di era 4.0 ini?

Pertama, yakinlah bahwa kalau kita bersyukur, sebenarnya kita bersyukur untuk diri kita sendiri (QS Lukman: 12). Artinya, impak dari syukur nikmat adalah tambahan nikmat yang akan kita rasakan sendiri. Caranya? Tentu dengan ikhtiar mendayagunakan karunia Allah berupa nikmat akal, nikmat fisik, nikmat alam, dan nikmat iman secara cerdas diiringi dengan satu tekad, yakni rahmatan lil alamin. Kalau seluruh sumber daya tersebut makin berdayaguna, nilai tambah akan kembali kepada kita. Yang berarti, kualitas diri dan lingkungan kita akan makin unggul.

Kedua, terus melakukan perubahan sosial, sebagaimana dilakukan para nabi terdahulu. QS Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya. Artinya, ikhtiar dengan visi, strategi, dan eksekusi yang cerdas menjadi prasyarat kita berubah. Sebaliknya kalau kita diam saja tanpa ikhtiar sistematis, artinya kita tidak bersyukur dan akibatnya tidak akan ada tambahan nikmat yang kita dapatkan. Bahkan kita akan cepat tertinggal oleh perubahan.

Ketiga, memperkuat pola pikir (mindset) bahwa Islam mengajarkan kemajuan. Kejayaan peradaban Islam di Andalusia karena pola pikir masyarakatnya pada kemajuan. Salah satu wujud dan instrumen kemajuan waktu itu ialah ilmu pengetahuan dan teknologi (seperti Ilmu astronomi, biologi, kedokteran, dan geografi) dengan peran ilmuwan muslim yang menyejarah. Tentu, kebutuhan iptek hari ini berbeda. Karena itu, kita dituntut untuk semakin optimistis menguasasi iptek kekinian agar kita menjadi penentu peradaban baru. Tentu, iptek yang dilandasi iman dan takwa (imtak), dan langkah ini bisa menjadi bukti kita bersyukur di era 4.0 ini.
 

 

 

(Artikel ini telah terbit di Media Indonesia https://m.mediaindonesia.com/renungan-ramadan/485736/syukur-era-40)


Tags : ICMI ICMI Pusat Indonesia Kebangsaan Kegiatan ICMI Ketua ICMI Opini Politik Tokoh ICMI




Sejarah Himne ICMI
Sejarah Himne ICMI

Minggu, 24 Des 2023
Pertanian Hijau:
Pertanian Hijau: "No Evidence, Hoax" oleh Aceng Hidayat
Secara umum, praktik pertanian belum menerapkan ekonomi hijau. Perguruan tinggi pertanian dapat memelopori pengembangan pertanian hijau, dan punya bukti empiris untuk ini.
Rabu, 21 Sep 2022

Detail side

Opini dan Tokoh Terpopuler
Sejarah Himne ICMI Sejarah Himne ICMI
Catatan ICMI - Minggu, 24 Des 2023
Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria Pemimpin Perubahan oleh Arif Satria
tokoh - Selasa, 4 Apr 2023
Ilham Akbar Habibie Ilham Akbar Habibie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Jimly Asshiddiqie Jimly Asshiddiqie
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Riri Fitri Sari Riri Fitri Sari
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Priyo Budi Santoso Priyo Budi Santoso
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023
Andi Anzhar Cakra Wijaya Andi Anzhar Cakra Wijaya
Toko ICMI - Rabu, 25 Jan 2023