Posted on Senin, 24 Okt 2022 10:49 WIB
Jakarta - Jelang tahun politik 2023-2024 Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) tidak akan ikut partisipasi dalam politik praktis.
Alasan ICMI mengambil sikap tidak akan ikut partisipasi dalam politik praktis untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak sistem berbangsa dan bernegara.
Hal itu diungkapkan Ketum ICMI Prof Dr Arif Satria saat menghadiri pelatikan Pemuda ICMI Bali di Auditorium ITB STIKOM Bali.
"Untuk menghindari hal-hal yang mungkin dapat merusak sistem berbangsa dan bernegara, sehingga ICMI tidak ingin ikut atau masuk dalam politik praktis," ujarnya.
Kendati demikian, ICMI berpolitik moral dengan menyiapkan konsep, pemikiran yang akan disampaikan kepada calon-calon pemimpin nantinya.
Di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 nantinya, sambung Prof. Arif Satria, ICMI akan menyiapkan berbagai konsep untuk membantu dan mendukung langkah yang bijak bagi pemimpin yang baru.
"Kami menyiapkan konsep bangsa Indonesia yang saat ini sudah dipersiapkan salah satunya terkait pangan dan yang kedua adalah politik," kata dia.
ICMI, kata Prof. Arif Satria, mendorong politik yang bisa bermartabat, politik yang berbasis dengan nilai.
Menurutnya politik seperti itu adalah politik yang ideal.
"Bukan politik tersensasional. Kita harus mendorong satu kultur politik yang baru di Indonesia," tegasnya.
Ia memaparkan beberapa konsep yang disiapkan seperti pangan, pendidikan dan lingkungan baik di wilayah Bali yang saat ini sudah membentuk Pemuda ICMI Bali.*